(catatan gatot aryo) coretan 01 : Di Pojok Kamar..

Tertatih di pojok kamar

Di Temani Siulan kuat mesin berbunyi

Sosok sayap hadir dalam klawan cahaya

Lalu menelusup ke dalam  jiwa…

 

Dalam pelukan malas dan lesu

Sebuah pena coba aku goreskan

Tapi tak ada kata yang tertulis…

 

Hidup dipojok kamar …

Tak ada semangat menggapai Dunia

Aku kerutkan tubuh, seperti belatung

Tuk kendorkan Jasad yang tertekuk !

Sunyi sepi diriku terjebak di ruangan ini, menanti mimpi-mimpi tak kunjung tergapai. Terhanyut dalam imajinasi yang kian memenjara. Menari dalam langkah-langkah sepi, yang kian menggelapkan hati. Hidupku benar-bernar tertatih di kamar ini, ruangan yang menjadi saksi sejarah kehidupanku yang terlunta-lunta.

Menggapai mimpi yang sulit tergapai, mendobrak kesulitan yang sulit di hancurkan. Mencari kebahagiaan hidup yang menghilang tanpa jejak. Berjuang melawan gelombang peradaban untuk mencapai tujuan hidup. Menemukan arti, dan makna hidup yang sebenarnya. Sebuah alasan, kenapa aku harus di lahirkan ke Bumi yang penuh kemunafikan ini.

ku harus merubah penderitaan hidup ini, menjadi baik, dan lebih baik lagi. Mencari titik terang dari ruang gelap yang selama ini menjebaku. Membelengguku dalam ruang-ruang kehidupan yang mau tidak mau harus di jalani. Walaupun jalan itu bukan jalan yang aku impikan dalam hidup. Karena semakin aku ingin memastikan jalan hidup yang aku impikan, jalan tersebut malah semakin tidak pasti. Apakah kehidupan ini adalah sebuah ketidakpastian, kita tidak di izinkan menemukan nilai-nilai kebahagiaan dan kedamaian dalam diri, dan membiarkan jiwa kita  terpenjara.

Dipojok kamar ini aku merenungi nasib hidupku yang terlunta-lunta. Peradaban ini menjebakku dalam kehampaan hidup, mimpi-mimpi yang tak tergapai, dan hilangnya kebahagiaan dan ketenangan di dalam hati.  Padahal hidupku tak terlalu miskin, jabatan di perusahaan yang aku tempati sekarang, cukup untuk hidup di Metropolitan Jakarta.  Tapi kenapa sedikit pun aku tak mendapatkan kebahagiaan hidup yang aku cari.

Setiap hari aku hidup dalam rutinitas yang menjebakku dalam kemuakan dan kebosanan. Seindah apakah hidup dalam kegiatan yang monoton, sebuah tindakan yang membosankan, membodohkan, dan mengeksploitasi. Setiap hari aku selalu merasa di paksa melakukan pekerjaan yang tidak aku sukai, satu-satunya alasan kenapa aku melakukan pekerjaan ini, hanyalah karena alasan materi belaka. Sesuatu yang membuat aku mudah melakukan sesuatu, tetapi tidak akan selalu membuat diriku bahagia. Rutinitasku dalam peradaban, membuatku merasa seperti robot industrialisasi. Yang mengeksploitasiku setiap hari hanya untuk kepentingan kapitalisasi. Aku hidup bagai keset peradaban  yang nilainya tak berharga sama sekali, setelah produktifitasku di kuras habis-habisan hingga tinggal ampas, ketidakberdayaan ku nanti hanya akan menjadikanku seonggok sampah yang terbuang di emperan peradaban mutakhir hari ini.

Pandangan hidup tentang cinta dan kebahagiaan hakiki, hanya menjadi nada romantic yang di suarakan oleh radio butut di keset depan pintu bangunan peradaban.  Manusia hanya di jadikan budak-budak kemajuan, yang dirangkai satu demi satu bagai puzzle-puzzel kecil yang rapuh. Mudah dipasang, mudah digunakan, mudah dimanfaatkan, tetapi mudah juga dihancurkan. Sebuah eforia “Kebanggaan Semu” Perdaban hari ini, yang sangat mengagung-agungkan “Materialisme”.

Sebuah paham kebendaan yang sangat mentuhankan indra-indra manusia untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah, kuat ato lemah, nyata atau khayalan, memajukan atau menghancurkan. Nilai-nilai spiritulitas dalam jiwa dibuang jauh, dinafikan oleh perdaban yang di huni manusia-manusia modern, membelenggu diriku dalam kehampaan hidup yang semakin menjadi-jadi.

Jemariku kembali menggoreskan tinta di atas kertas kosong.

Gelap Gulita..

Malam sepi menyayat hati

Jiwaku hanyut dalam galau

Pikiran sunyi melayang jauh

Hanyut dalam hayalan dan kenyataan

 

Terombang ambing ku dalam Samudra Jiwa

Melepaskan diri dari keterasingan..

Bangkitlah..

Berjuanglah..

Pahamilah..

“Akhhhhh…,” ungkapku berkeluh, dalam gelap malam yang juga menggelapkan jiwaku.

Aku benar-benar hampa menjalani kehidupan ini, iming-iming materialisme tidak membuatku bernafsu melanjutkan hidup. Saking jenuhnya, seandainya ada dua pilihan dihadapanku. Hidup seperti ini atau harus mengakhiri, tanpa ragu pasti aku akan pilih mengakhiri. Buaian materialisme, tak begitu berhasil membuatku bernafsu, apalagi sampai menghamba dan meng-Tuhankannya.

Dalam hidup aku selalu berhasil mencapai apa yang orang-orang sebut sebagai kesuksesan, prestasi, atau pencapaian karir tertinggi. Tapi Semua prestasi tersebut telah membuat orang tuaku bangga, tetapi sama sekali tidak membuat hatiku bahagia. Ruang hampa dan gelisah di hatiku, yang mulanya hanya gelombang-gelombang kecil. Semakin tahun, semakin banyak, lalu berubah menjadi balon raksasa kesepian dan kesunyian yang menyusupi setiap ujung centi pori-pori tubuhku. Semakin hari aku menjalani hidup, perasaan paranoid ini menjadikanku selalu merasa sendiri dan sepi, walaupun berada di keramaiaan.

Hidupku terombang-ambing dalam ruang-ruang hampa tak bertumpu. Ketidakpastian hidup, nafsu duniawi yang menggebu-gebu, expektasi tinggi atas segaa usaha yang aku perbuat, ketidakpuasan atas hasil akhir usaha yang aku perjuangkan. Malah membuat jiwaku semakin resah dan gelisah, tak bahagia, menjebakku dalam candu kenikmatan yang menggerogoti tubuhku hingga sisa ampasnya.

Aku menyadari sepenuh hati dengan segenap nurani suciku, bahwa apa pun yang aku kerjakan hari ini, hanya menjebakku pada sebuah akhir perjalanan tanpa makna dan nilai yang  berarti selain penyesalan. Sebuah system kehidupan yang mengeksploitasi jiwa ragaku, hingga tubuhku tua dan renta lalu mati menjadi tulang belulang yang terkubur di dalam tanah.

Apa makna hidupku, kalau hanya berpangku pada materi. Menggiringku pada halusinasi kepastian hidup yang sesungguhnya tidak pernah pasti.  Semua itu membawaku pada ruang-ruang hampa tak bertumpu, mengejar kebanggaan-kebanggaan hidup yang tak pernah membahagiakan. Eksistensi diri, bentukan pikiran-pikiran manusia yang mengklaim sebuah kesuksesan dari sebuah sudut pandang yang tidak utuh.

Mengelabui, menipu, dan menyesatkan pandangan mata manusia. Karena kesuksesan yang sesungguhnya ada dalam kebahagiaan dan kedamaian, bukan pada keserakahan dan kesombongan. Inilah yang menjebakku, karena selama ini kesuksesan itu aku  ukur dari pujian orang-orang yang men-Tuhankan materialisme, bukan kebahagiaan yang terasa di dalam hati.

Malam semakin larut, jiwaku berkelana dalam ruang hampa. Cicak-cicak saling mengejar di atas dinding atap kamarku, suara saut menyaut menggemakan suasana, menemani kesepianku di ruangan ini. Di luar ruangan suara kesunyian menyapaku, membelengguku dalam kehampaan. Ringkikan suara jangkrik, udara malam yang bertiup semilir, di tambah gesekan dedaunan pohon yang bergoyang kesana-kemari bagai penari yang terhanyut dalam alunan irama alam, yang terbentang melalui sorot cahaya Bulan Purnama.

Waktu terus berjalan menggerogoti jatah hidupku di Muka Bumi. Detik demi detik berlalu, jarum jam terus berputar hingga ayam jago tetangga berkokok dengan gagah. Jiwaku terus berkelana tak tentu arah, pikiranku terus melayang-layang dalam  ruang imajinasi tak bertumpu.

Hidup yang aku jalani ini, semakin hari semakin tidak nyata saja. Apa aku alami dan jalani selama ini, seperti hidup dalam Dunia ilusi. Bahkan aku semakin sulit membedakan antara alam mimpi dan alam nyata. Menurutku alam nyata yang aku jalani hanyalah ilusi dan mimpi yang waktunya lebih panjang dari pada mimpi dalam tidur.

Manusia modern dalam peradaban hari ini pun, menurutku telah terjebak dalam Dunia ilusi.  Mereka secara sadar maupun tidak sadar, telah teralihkan dari Dunia Materi yang nyata secara fisik, menuju Dunia yang penuh dengan rekayasa dan manipulasi. Mulai bangun tidur diri kita telah terikat pada sebuah benda yang menggiring kita pada alam ilusi. Benda-benda digital yang menyajikan gambar-gambar, tulisan dan suara dengan segala keindahan dan buayan aroma wangi Duniawi, public relation yang efektif perdaban manusia hari ini, walaupun kenyataannya tak selalu seindah kelihatannya.

Dunia digital dengan segala hasilnya sesungguhnya hanyalah “alat” yang mana pengendalinya adalah manusia itu sendiri. Baik buruk alat tersebut tergantung pengendalinya.  Kalau manusia yang menggunakan dan memanfaatkannya pada hal-hal baik, maka dunia digital akan sangat berdampak baik bagi peradaban manusia. Tetapi sebaliknya apabila pengendalinya membawanya pada hal-hal negative dan merusak, maka Dunia tersebut bisa menjadi malapetaka dan bencana bagi kehidupan peradaban manusia. Dan baik buruknya manusia itu tergantung sesuatu yang tertanam di hatinya.

Pertanyaannya, apakah sesuatu yang tertanam di dalam hati manusia modern saat ini lebih cenderung kearah kebaikan atau sebaliknya lebih kepada keburukan. Jawaban dari semua ada di dalam hati kita masing-masing. Kalau kita berani jujur pada diri sendiri, maka tidak akan sulit menemukan jawabannya.

Jemariku kembali menggoreskan bait puisi, di atas kertas  kosong.

Kemurnian..

Jangan bermain-main dengan kejujuran…

Kebohongan hanyalah sensasi semu

Kesuksesan ilusi, para penipu duniawi

 

Cintai dirimu yang murni..

Hiduplah dengan pandanganmu sendiri

Pandangan orang hanya akan menyesatkan

Bagi manusia yang senang menipu diri..

 

Kesuksesan hanya ada dalam kemurnian

Buah dari kesabaran dan kejujuran…

Dalam balutan syukur dan pasrah..

Aku ingin mencari hakikat kebahagiaan hidup dan cinta sejati. Yang hal tersebut telah menghilang lama dari kehidupanku, menghampakan hidupku, meninggalkan ruang kosong dalam jiwaku. Dan kekosongan tersebut menciptakan rasa gersang, sunyi dan sepi dalam hidup. Membelenggu ku dalam kehampaan spiritual. Sampai aku tidak bisa lagi membedakan antara cinta atau benci, senang atau sedih, bahagia atau kecewa, teman atau lawan, merusak atau membangun, peperangan atau kedamaian.

“Uuuuhh,” desahku sambil  memaksa badan untuk bangkit.

Aku bangkit dari tempat tidur, keluar pintu kamar menuju dapur.  Dunia masih gelap menjelang pagi, aku masih sulit untuk beristirahat. Aku tuangkan air panas ke dalam cangkir berisi kopi dan gula, sambil mengaduk-aduk kopi, aku pun kembali ke kamar. Aku terduduk diatas kasur, sambil termenung. Sesaat kemudian seperti ada cahaya yang menghantam fikiranku. Belayan jiwa terhanyut dalam raung hampa tak bertumpu, mencari kilauan hakiki dalam diri yang sunyi.  Malam semakin larut mendekati pagi, sayup-sayup suara pujian pada Tuhan berkumandang di masjid-masjid dan mushola disekitar rumahku, membalutku dalam ketenangan jiwa yang selama ini aku cari.  Pojok kamar ini, selalu menjadi makna tersendiri untuk mencerahkan langkahku dalam kehidupan..

TAMAT

About gatotaryo17

Saya Penulis novel Mimpi Bulan & The Jilbab Code?!, Aktif menjadi Moderator Komunitas Coretan, sarang para penulis muda. Juga Bekerja Sebagai Desain Grafish di Perusahaan Property Lihat semua pos milik gatotaryo17

One response to “(catatan gatot aryo) coretan 01 : Di Pojok Kamar..

  • duaruangcahaya

    Sebuah pandangan kecil tentang kota yang penat dan menyesakkan. Sebuah cerita yang sungguh imajinatif dan membuat arti kepenatan menjadi nyata dalam tulisan.
    Grewat stuff here man!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: