Buku Keajaiban Ikhlas, BAB 1.Apa Itu Ikhlas?

Buku Keajaiban Ikhlas

Penulis : Muhammad Gatot Aryo

BAB 1. Apa Itu Ikhlas ?

“ Katakan , sesungguhnya sholat ku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, seru sekalian alam, tiada sekutu baginya, dan demikianlah yang di perintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am : 162-163)

Ikhlas, adalah sebuah kata yang tak asing lagi di telinga kita. Kata ikhlas sering digunakan dalam berbagai aktifitas hidup kita, mulai saat bersedekah, beribadah, bekerja, berusaha, membantu orang lain, berkeluarga, dan banyak aktifitas hidup lainnya. Kata ikhlas biasanya, sering kita gunakan untuk menjelaskan tindakan-tindakan yang tidak beroreintasi materil, tanpa pamrih dan tulus.
Tindakan yang disertai keikhlasan, sering membuat decak kagum banyak orang, karena tindakan tersebut adalah bentuk pengorbanan diri seseorang pada orang lain, tanpa berharap pamrih dari orang dibantunya. Ternyata ikhlas bukan sembarang “kata”, makna ikhlas bagaikan sebuah mantra yang mampu memberikan keajaiban dalam kehidupan manusia. Karena manusia-manusia yang ikhlas, memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri dalam hidupnya ”?”.
Kekuatan ikhlas, ternyata dapat memberikan perubahan positif dalam kehidupan manusia. Kekuatan positif inilah yang membuat orang ikhlas, selalu mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya. Orang ikhlas hatinya, akan selalu di lapangkan hidupnya oleh Allah, jiwanya selalu berserah diri pada pencipta-Nya. Sehingga beban-beban di punggungnya, akan di ringankan oleh Allah dari beban-beban ujian yang memberatkan hidupnya, semua kesulitannya akan di mudahkan oleh Allah. Karena orang ikhlas selalu percaya, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Dan ia percaya, Allah akan selalu menolong hamba-hambanya yang ikhlas.
Apa itu ikhlas? Bagaimana penggunaannya? Apa urgensinya sikap ikhlas dalam kehidupan manusia? Kekuatan positif apa yang dimiliki oleh seorang manusia, ketika dia bersikap ikhlas?.
Semua jawaban itu akan kita dapatkan, setelah kita memahami makna ikhlas. Caranya yaitu dengan memahami makna ikhlas terlebih dahulu, setelah itu baru kita akan mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehar-hari. Dengan ikhlas, kita tak perlu lagi bergundah hati, resah-gelisah, takut pada kemiskinan, kesempatan, penyakit dan ketidakjelasan masa depan. Ikhlas dapat melapangkan kesempitan, mempositifkan energi-energi negatif dalam diri, menghapuskan kebencian, menghilangkan dendam, dan mendobrak segala bentuk penyembahan-penyembahan pada Dunia, yang tak sedikit manusia terjebak di dalamnya.
Dengan kemurnian ikhlas, seorang manusia dapat membebaskan dirinya dari segala bentuk perbudakan Duniawi. Ia akan mampu melepaskan dirinya dari segala penyembahan kepada selain Allah. Seperti penyembahan pada Materi, Uang, Harta benda, Wanita, Perhiasan, Alkhohol, Narkoba, Birahi, Jabatan, Tahta, Kekuasaan, Tradisi, yang selama ini banyak manusia terbukti terbudaki olehnya. Sesuai penjelasan surat Al-An’am di atas, Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata!, inilah hakikat Ikhlas. Apalagi penjelasan dalam Surat Al-fatihah.

“ Hanya Engkaulah (Allah) yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah (Allah) kami mohon pertolongan, “  (AL-Fatihah : 5)

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Sang Khalik, sudah sepantasnyalah manusia hanya berhak menyembah, berharap, dan memohon pertolongan hanya kepada Allah saja. Dan keikhlasan, adalah pondasi awal untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tanpa keikhlasan, kita tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsu, agar tetap berada di jalan lurus, jalan yang di ridhoi oleh Allah.
Sebab hanya dengan berserah diri pada  kehendak Allah lah, hidup manusia akan di selamatkan. Dan keikhlasan adalah kemurnian sikap yang akan membuat manusia menjadi hamba Allah, bukan hamba nafsunya, bukan hamba selain Allah, bukan hamba materialisme, sesuatu yang justru hanya ciptaan-ciptaan Allah.
Kemurnian sikap, ucapan, dan perbuatan ikhlas inilah yang membuat kata “ikhlas” bagaikan mantra yang mampu menghujam hati, mengetarkan jiwa, dan sinarnya mampu memancarkan kekuatan positif yang mampu menyelesaikan berbagai macam persoalan hidup. Sebab hanya dengan berserah diri secara utuh kepada Allah lah, semua beban-beban hidup manusia akan di ringankan oleh-Nya.
Sungguh sombong manusia yang hanya menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri, pada kekayaan materi yang di miliki, pada kekuasaan politik maupun tradisi yang sandang, pada popularitas yang membuai, pada ciptaan-ciptaan Allah yang keberadaannya sangat bergantung pada Penciptanya. Sungguh tersesat, manusia yang tidak menggantungkan hidupnya pada Allah, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk lemah yang tak memiliki daya dan upaya kecuali dia hanya berserah diri pada Allah. Sebab, tak ada satu helai rambut pun yang jatuh ke Bumi, tak ada satu lembar daun pun yang jatuh ke tanah, kecuali atas seizin Allah. Kalau kita menyadari hal itu, lantas alasan apalagi yang harus kita tunggu untuk tidak menyerahkan diri dan hidup kita kepada Allah saja. Dan cara satu-satunya adalah dengan mengikhlaskan hati.
A. IKHLAS DALAM AL-QURAN

1.1 Memurnikan Keesaan Allah

“(1)Katakanlah : Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (3) Dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan (4) Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”          (QS. Al-Ikhlas : 1-4).
Ayat di atas menjelaskan secara gamblang substansi keikhlasan. Manusia yang ikhlas akan selalu berkata, Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Dalam hati orang ikhlas, tak ada secuil pun tempat penghambaan pada sesuatu selain Allah. Karena Ia sangat mengetahui siapa dirinya, darimana asalnya, dan untuk apa ia hidup di dunia ini!
Orang yang ikhlas menyadari sepenuhnya, bahwa Allah adalah tempat segala sesuatunya bergantung. Mulai hal-hal yang makrokosmos Di Dunia ini seperti Alam Semesta, galaksi, planet-planet, Matahari, Bulan, Bintang, Meteor, dan segala hal yang disebut materi. Hingga hal yang mikrokosmos seperti struktur atom, tarik menarik antara proton dan netron. Keseimbangan-keseimbangan alam semesta, keteraturan yang kita temui di planet Bumi, spesies-spesies yang hidup di dalamnya dengan jumlah yang tak terhitung. Bagaimana cara hidup spesies-spesies itu, dengan bakat-bakatnya yang mengagumkan. Sungguh semua tatanan yang sempura itu hanya bergantung pada penciptanya, yaitu Allah SWT.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya?. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kedekatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar : 22)

Apakah dengan mengucapkan “Saya Beragama Islam” cukup untuk membuktikan keikhlasan kita?, padahal hati kita masih membatu dalam mengingat Allah “???”. Hamba yang ikhlas, adalah hamba yang hatinya selalu mengingat Allah di setiap detik dalam hidupnya, ia penuhi hatinya untuk berserah diri pada pencipta-Nya. Mulai ia bangun dari tidur hingga ia tertidur kembali, hati orang ikhlas tak akan pernah membatu dalam mengingat Allah. Karena hanya kepada Allah lah ia serahkan segala sesuatunya, dan manusia adalah makhluk yang tak memiliki daya, dan upaya apabila dirinya tidak menggantungkan hidupnya pada Sang Pencipta. Sebab apabila Allah menghendaki manusia tak bisa menghirup oksigen saja (bernafas), maka nyawa manusia di Bumi ini tak dapat tertolong lagi.

1.2 Meringankan Beban Kehidupan

“(1) Bukankah kami telah melapangkan untukmu dada Mu? (2) Dan kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, (3) Yang membuatkan punggung Mu? (4) Dan kami tinggikan sebutan (nama) Mu, (5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (6) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (8) Dan hanya kepada Tuhan mulah hendaknya kamu berharap.“ (QS. Alam Nasyrah : 1-8)

Surat Alam Nasyrah sangat gamblang menjelaskan keistimewaa manusia yang ikhlas!. Di sana di jelaskan, bahwa hanya dengan berharap kepada Allah lah, hati kita akan dilapangkannya, punggung kita akan di ringankan dari beban hidup yang memberatkan. Dan segala kesulitan akan di mudahkan, dan Allah akan tinggikan derajatnya, bagi orang-orang yang hanya berharap kepada Allah.
Kita semua manusia sadar, bahwa menjalani hidup bukanlah hal yang mudah. Hidup itu di penuhi ujian dan cobaan, jalan menanjak terjal yang di penuhi krikil-krikil tajam. Kesedihan dan kebahagian adalah dua hal yang datang bergantian, bagai siang dan malam. Kadang di tengah perjalanan kita merasa bosan, malas dan sedih, sesekali kita mengeluh, menuntut dan menyalahkan keadaan. Walaupun tidak sedikit pula kebahagiaan, keberhasilan, cinta kasih datang menghampiri, menghapus segala luka, dan kecewa yang menghimpit kesengsaraaan.
Tapi di satu sisi, terkadang kebodohan manusia sendiri yang membuat dia sombong dan lupa diri pada pencipta-Nya. Saat keberhasilan dan kebahagiaan datang, seolah-olah kesuksesan itu, adalah hasil jenih payahnya sendiri. Bahkan ia hampir lupa, bahwa Allah Yang Maha Berkehendak, punya andil di dalamnya. Tapi sebaliknya saat ujian dan bencana datang, yang ia hujat malah Tuhan-Nya sendiri. Seolah-olah dia tak pernah melakukan kesalahan sedikit pun, yang membuat bencana itu datang padanya. Padahal kalau ia mau teliti, tindakannya itu hanyalah bentuk-bentuk pembenaran bagi dirinya, atas kesalahan yang dia perbuat sendiri ”???”.
Disinilah, letak kekhilafan manusia yang perlu di dasari segera mungkin kalau kita ingin memulai mengikhlaskan hati. Karena manusia yang ikhlas, hatinya  sedikit pun tak pernah menghujat Tuhannya. Sesulit apapun kesedihan, penderitaan, dan kesempitan meghampirinya.
Justru, semakin besar ujian yang datang maka semakin besar pula kepasrahan dirinya ia panjatkan pada Allah SWT.  Karena orang ikhlas selalu percaya, setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Bagi hamba-hambanya yang hanya berharap pada Allah, tak ada kamus kesombongan, dalam dirinya. Sebab hanya karena kehendak dan ridha Allah lah, keberhasilan dan kesuksesan itu datang padanya. Sungguh, hanya keikhlasan lah akan membuat hati kita lapang dari belenggu jiwa yang memenjara, menghilangkan beban-beban kehidupan yang semakin hari, semakin memberatkan pundak manusia.

1.3 Menentramkan Hati

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan berawal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.“ (QS. AR-RAD : 28-29)

Kemajuan peradaban umat manusia saat ini ternyata telah melupakan sesuatu. Saat umat manusia berlomba-lomba membangun Gedung-Gedung Pemcakar Langit, Ilmu pengetahuan mencapai puncaknya hingga manusia bisa menginjak Bulan, segala sesuatu di Bumi ini mampu di pelajari, di prediksi, bahkan di manipulasi. Tapi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, harusnya membuat umat manusia lebih bersyukur, bahwa tak ada satu pun yang sia-sia, yang Allah ciptakan di Bumi ini. Tapi sebaliknya, yang terjadi saat ini kemajuan peradaban membuat sebagian manusia semakin sombong, bertindak sesuka hati, dan melupakan Tuhan-Nya.
Di sinilah sebagian manusia modern melupakan sesuatu, sesuatu yang membuat manusia modern hidup dalam kegelisahan hati, kegersangan jiwa, keserakahan hawa nafsu, pemujaan materi, dan ketakutan hidup. Masalah tersebut membuat manusia modern menyadari, pentingnya ketentraman dan ketenangan hati. Sebuah kondisi dimana hati dan pikiran manusia merasa bahagia dan damai. Banyak cara lebih dilakukan manusia modern untuk mencapai itu, tapi tak ada yang pernah-pernah berhasil seratus persen mencapainya.
“Kenapa?”, Karena mereka melupakan sesuatu yang sangat subtansial yang menjadi penyebab tercapainya kebahagiaan dan kedamaian hati. Jawaban lengkapnyanya, ada dalam AL-Quran surat AR-RAD ayat 28-29 yang tertulis diatas. Dalam ayat tersebut sangat tegas di sampaikan, Bahwa hanya dengan mengingat Allah lah hati manusia akan menjadi tentram, dan hanya orang-orang yang ikhlas yang mampu mencapai titik ketentraman hati. Karena dengan memurnikan keesaan Allah dalam diri, lalu berserah diri kepada-Nya secara utuh, dalam kesedihan, maupun kebahagiaan, disetiap waktu, dalam setiap waktu, dimanapun manusia berada. Maka seorang hamba Allah yang ikhlas, akan mencapai ketentraman hati dalam hidupnya.
Sebetulnya manusia modern tak perlu repot-repot mencari cara untuk menenangkan hati. Karena ketentraman hati akan dapat  di capai dengan keikhlasan. Segala kegelisahan hati, kegersangan jiwa, dan ketakutan, akan di hilangkan dari hati hamba-hambanya yang ikhlas. Manusia di zaman ini, terlalu sibuk mengejar materi, birahi, dan kekuasaan. Dan hal-hal tersebut belum tentu memberikan ketentraman hati bagi jiwanya. Allah tidak melarang manusia mengejar kehidupan duniawi, tapi jangan sampai aktivitasmu melupakanmu pada Allah. Karena hanya orang-orang beriman dan beramal saleh lah, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik!.

1.4 Memurnikan Ketaatan

“ Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah ketaatan kepada-Nya dalam (Menjalankan) agama dengan lurus. “
(AL-Bayyinah : 5)

“ Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu AL-Kitab (AL-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari Syirik). “ (AZ-Zumar : 2-3)

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kalian tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat mengadakan perbaikan, dan berpegang tenguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman. “ (An-Nisa’ : 145-146)

Keikhlasan akan membawa seorang hamba memurnikan ketaatannya kepada Allah. Karena ikhlas adalah inti ibadah bagi jiwa manusia. Mustahil ketaatan pada Allah, akan di terima tanpa di sertai keikhlasan. Karena ikhlas adalah hakikat ketaatan yang sesungguhnya.
Saat manusia masih menjadi Ruh, Allah memberikan pertanyaan padanya di alam ruh, “Siapa Tuhanmu?“. Dan Ruh tersebut menjawab,“Engkaulah (Allah) Tuhanku!“. Lalu dia menghembuskan Ruh tersebut kejanin manusia, setelah 9 bulan lahirlah seorang bayi manusia ke alam Dunia. Bayi yang lahir ke Dunia, berada dalam kondisi suci dan bersih. Orang tua-orang tua merekalah yang menjadikannya Islam, Nasrani, Yahudi, Majusi, Hindu, Buddha, Pagantisme, Dinamisme, dan lain sebagainya.
Keikhlasan seorang manusia, seungguhnya akan membawa manusia pada hakikat dirinya saat masih menjadi Ruh. Hakikat bahwa, dirinya adalah makhluk ciptaan Allah, dan hanya kepada-Nyalah dirinya harus menyembah. Karena itu tak ada satu pun yang dapat menolong dirinya kecuali Penciptanya (Allah).
Saat manusia mengalihkan penyembahan, dan ketaatannya pada hal-hal selain Allah. Sesungguhnya manusia itu telah berada dalam kesesatan yang nyata, dan orang-orang munafik dan tersesat itu, akan Allah tempatkan mereka semua dalam Neraka. Kecuali mereka-mereka yang bertaubat dan kembali pada keimanannya, mengadakan perbaikan, dan berpegang teguh pada tali Allah dengan tulus dan ikhlas. Keikhlasan dalam diri, akan membawa diri seorang hamba, pada kemurnian ketaatan yang selalu membawa-Nya pada pertolongan Allah.

1.5 Memperbanyak Syukur

“(31) Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar dilaut dengan nikmat Allah, supaya diperhatikan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur (32) Dan apalagi mereka dibawah ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di dalam, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tak ada yang menginginkan ayat-ayat kami, selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.“ (QS. Luqman : 31-32)

Hamba-hamba yang penuh keikhlasan, hatinya akan selalu bersyukur pada Allah. Karena keikhlasan, akan membawa pada murninya ketaatan pada Allah, dan hamba Allah yang di hatinya ada iman, ia menyadari sesungguhnya, hidupnya dipenuhi nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada-Nya.
Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaannya, dari ujung barat hingga ujung timur, dari hal yang mikrokosmos hingga hal yang makrokosmos, mulai dari bangun tidur hingga kita tidur lagi. Semua itu tanda-tanda kekuasaannya agar manusia bersyukur, segala nikmatnya mulai apa-apa yang di makan, apa-apa yang kita minum, apa-apa yang kita kenakan (pakaian), apa-apa yang di manfaatkan di muka Bumi ini adalah anugerah-Nya.
Maka itu, apabila manusia ingin nikmat-nikmatnya di tambah, hanya perlu ia lakukan adalah lebih banyak bersyukur, dan memurnikan ketaatannya pada Allah. Karena hamba Allah yang ikhlas menyadari sepenuhnya, bahwa semakin banyak ia bersyukur pada Allah, maka semakin besar pula Allah akan menambahkan nikmat-nikmatnya padanya.

Seperti firmannya:

“ Dan (Ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat ku), maka sesungguhnya azab-ku sangat pedih.“   (QS. Ibrahim : 7)

Banyak manusia saat ini, mencari anugerah Tuhan di muka Bumi dengan cara yang salah. Mereka hanya bekerja keras, tapi tidak bersyukur kepada Allah. Mereka bekerja dari pagi hingga malam hari, tapi lupa untuk beribadah dan mensyukuri nikmat dari jeri payahnya, kepada Allah. Malah, rezeki yang mereka miliki, semakin membuat mereka sombong, rakus dan lupa diri. Akibatnya rezeki tersebut tidak membawa berkah, tapi justru membawa bencana. Ini sesuai firmannya, dalam surat Ibrahim, “Jika manusia mengingkari nikmat ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih .”

1.6 Memperkuat Kesabaran

“ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkalah kesabaranmu, tetaplah bersiap-siaga di perbatasan negerimu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ (QS. Ali Imran : 200)

“ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.“               (QS. AL-Baqarah : 153)

Kehidupan adalah perjalanan panjang yang meletihkan. Lambatnya memperoleh keberhasilan usaha, sukses yang selalu tertunda, kegagalan dan halangan yang kerap kali mendera, membuat manusia menjadi malas, kecewa, mengeluh dan berputus asa. Sering kali manusia memperoleh keberhasilan secara instan, tanpa kerja keras dan usaha yang sepadan.
Kesuksesan itu ada ukurannya, karena hanya hamba-hamba Allah yang bersabar dalam memperjuangkan impiannya, dan tetap memperkuat kesabarannya, walau badai datang bertubi-tubi hingga ia meriah kesuksesannya.
Manusia ikhlas, diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa bersabar, dan memperkuat kesabarannya. Karena sesungguhnya kebaikan dan keselamatan itu terletak pada kesabaran. Saat seorang hamba mengikhlaskan segala tujuan dan impiannya kepada Allah, lalu ia perkuat kesabarannya dalam berjuang, sampai ketentuan, dan jalan keluar datang pada-Nya. Itulah hakikat kesabaran yang sesungguhnya, dan mereka adalah orang-orang beruntung, yang akan mendapat pertolongan Allah di Dunia maupun Akhirat.
Manusia ikhlas itu, sesungguhnya di berikan dua senjata yang hebat untuk mengatasi ujian dan cobaan dalam hidupnya. Senjata tersebut yang pertama adalah sabar dan yang kedua adalah shalat. Hanya dengan kesabaran yang kuat, dan menyerahkan diri kepada Allah secara utuh di dalam shalat mu lah, segala persoalan-persoalan hidup hamba Allah akan diberikan jalan keluarnya. Mereka-mereka inilah, orang-orang yang akan mendapat limpahan rahmat dari Allah, sesuai firman-Nya :

“ …Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya, dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada di sangka-sangkaNya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)Nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Manusia ikhlas tak perlu takut pada ujian dan cobaan kehidupan, karena apabila ia berserah diri kepada Allah secara utuh dalam shalat dan kehidupannya, maka Allah akan mengucapkan segala-segala keperluan-keperluan hidupnya.

1.7 Selalu Di lindungi Allah

“Bukanlah Allah cukup, untuk melindungi hamba-hamba-Nya? “         (AZ-Zumar: 36)

“ Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan selain Allah, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesugguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.“ (QS. AL-Ankabut : 41)

“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah lah (datamgnya). Dan bila kamu di timpa oleh kemadharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.“ (QS, An-Nahl : 53)

Saudaraku, tak ada satu keadaan yang membuat kita nyaman dalam hidup ini, selain keadaan dimana kita merasa terlindungi. Hamba yang hatinya ikhlas, tak akan ada perasaan takut di hatinya dalam menghadapi segala kesengsaraan, dan ujian hidupnya. Dia percaya, Allah SWT akan selalu melindunginya, karena ia telah memasrahkan seluruh kehidupannya, untuk memurnikan ketaatan kepada Allah.
Cukup hanyalah Allah yang menjadi penolong, dan pelindung hamba-hambaNya yang ikhlas.“Apakah harta kekayaan yang melimpahkan dapat melindungi manusia dari kesengsaraan hidup?,” berapa banyak orang kaya yang hidup dibalik rumah mewah hari ini tapi hidupnya nyatanya sengsara, karena Allah menguji dia dengan penyakit (misalnya: stroke). “Apakah kekuasaan yang di jabat, akan melindungi seorang manusia dari Bencana Alam?” Sesungguhya apabila Allah menghendaki seorang hamba terkena bencana, apa pun jabatannya, maka tak ada satupun kekuatan yang mampu menghalanginya. Begitupun, apabila Allah menghendaki keselamatan seorang hamba, maka tak ada satupun kekuatan yang mampu menyengsarakannya. “???”
Jadi hanya kepada Allah lah hendaknya kita berserah diri, dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan-Nya. Karena itu tak ada patut seorang manusia menyombongkan diri dengan harta benda, jabatan, pekerjaan, atau usaha yang dimiliki. Karena sesungguhnya Allah lah yang memberi nikmat, dan kemadharatan, dan hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan.

Sesuai firmannya:

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untk Allah, Rabb sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). “ (AL-An’am : 162-163)

B. IKHLAS DALAM HADITS

Selain dalam AL-Qur’an, ikhlas juga banyak dijelaskan dalam hadits. Rasullullah SAW adalah sumber inspirasi manusia yang pernah hidup di Bumi ini. Risalah beliau dalam menyebarkan islam, mengerucut pada satu titik penghambaan yang utuh pada keesaan Allah. Subtansi keikhlasan seorang hamba adalah proses penyerahan diri secara tulus, dalam balutan rasa syukur dan sabar. Keikhlasan akan berbuah ketentraman, dan kebahagiaan di dalam hati hamba-hamba Allah yang beriman.
Tolalitas pasrah seorang hamba yang ikhlas, akan membawa dirinya pada tingkat yang lebih tinggi, kedekatannya pada Allah SWT. Semakin kuat energi ikhlas dalam diri seorang hamba, maka semakin kuat juga kedamaian dan kebahagiaan di hatinya. Karena itu bagi hamba yang ikhlas, seluruh waktunya ia habiskan untuk mengingat Allah, memuji Tuhannya, dan berdoa agar dirinya termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan ridha, cinta, dan makrifatnya Allah.
Beberapa hadits di bawah ini menjelaskan, bahwa betapa keikhlasan akan membawa seorang hamba, pada kebahagiaan dan keselamatan di Dunia dan Akhirat. Cukup sudah selama ini, kita terjebak pada penghambaan-penghambaan pada sesuatu selain Allah. Sudah saatnya lah sekarang, kita kembali memurnikan ketaatan dan penghambaan pada Allah semata!. Tak ada yang lain, cukup Allah sajalah yang menjadi penolong kita. Berikut beberapa hadist soheh yang menjelaskan tentang ikhlas.

Rosullullah SAW bersabda :

“Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAAILAAHAILLALLAAH (Tiada Tuhan Selain Allah), yang ditujukan hanya Allah semata-mata. “ (HR. Bukhari – Muslim)

“Tidaklah sekali-kali seorang hamba mengucapkan kalimat LAAILAAHA ILLALLAAH (Tiada Tuhan Selain Allah) dengan ikhlas (dari lubuk hatinya), melainkan di bukakan baginya semua pintu langit hingga tembus sampai ke ‘Arasy selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar.“ (HR. Tirmidzi)

Allah SWT mengharapkan seorang hamba yang hatinya terhujam Tauhid “Tiada Tuhan Yang Aku Sembah Selain Allah” dari jilatan api neraka. Hati yang ikhlas pada pemurnian keesaan Allah, akan diselamatkan Allah dari segala bencana baik di Dunia maupun di Akhirat. Sikap inilah yang ditanamkan Rosullullah, di hati kaum muslimin saat beliau menyebarkan risalahnya.

“Orang-orang sedang berdzikir (mengingat Allah), seperti pohon yang rindang di tengah-tengah pohon kering. “ (HR. Bukhari – Muslim)

Keikhlasan seorang hamba akan memancarkan sinar kedamaian di dalam dirinya. Seluruh waktu dalam hidupya akan ia gunakan untuk banyak-banyak mengingat Allah, mencari keridhoan dan cintanya. Karena itu hamba yang ikhlas itu, bagaikan pohon yang rindang ditengah-tengah pohon yang kering.
Sebab, hati hamba yang ikhlas akan selalu dipenuhi karunia dan rahmat Allah. Sehingga jasmani dan rohaninya tidak kekurangan nutrisi-nutrisi yang akan selalu menyuburkan pohon kelemahan di hatinya. Jiwanya selalu tersirami air suci makrifat Allah yang akan selalu menentramkan hati, jasmaninya selalu terhangati oleh pancaran Rahmat dan Karunia-Nya, pikirannya selalu tercerahkan dari tipu daya Duniawi yang dipenuhi janji-janji kepalsuannya.

“Orang yang ingat kepada Allah, adalah laksana orang yang hidup di tengah-tengah orang yang mati. “ (HR. Bukhari – Muslim)

Keikhlasan hamba akan membawa dirinya pada titik kebahagiaan dan kedamaian. Karena itu, orang yang hatinya ingat kepada Allah. “ Bagaikan orang yang hidup ditengah-tengah orang yang mati“ Sabda Rosullullah. “Kenapa?” karena terlalu banyak manusia yang hidup di Alam Dunia ini, hatinya mati dan membatu dalam mengingat Allah hingga hidupnya lebih condong pada hawa nafsunya, yang membuat ia menghambakan seluruh hidupnya untuk harta, jabatan dan wanita semata. Juga ciptaan-ciptaan Allah lainnya, yang tanpa sadar mulai membudaknya dalam kehidupan Duniawi.
Karena itu, hamba ikhlas senantiasa menghidupkan hatinya untuk selalu mengingat Allah. Berserah diri secara utuh dan tulus kepada Allah, menerima dan ridha atas segala ketentuan takdir yang ditetapkan kepada-Nya. Bersabar atas segala ujian dan cobaan-Nya, mensyukuri sekecil apapun nikmat yang ia berikan kepadanya. sehingga keikhlasan hatinya akan memancarkan energi positif bagi kehidupan, yang hal tersebut akan menyelamatkanya dari segala bencana dan ujian hidup, menghilangkan kesombongan dan keserakahan dalam diri yang selalu menjadi sumber malapetaka, mendamaikan segala bentuk peperangan, menjadikan musuh sebagai sahabat, dan memusnahkan sifat-sifat buruk merusak manusia, di muka Bumi.

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali amal perbuatan yang diniatkan dengan ikhlas demi meraih ridha-Nya. “ (HR. Nasa’i)

“ Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat!. dan setiap orang hanya memperoleh menurut apa yang di niatkan. Barang siapa hijrahnya pada dunia yang ingin di dapatkannya, atau wanita yang hendak di nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang di tujunya. “ (HR. AL-Bukhay, Muslim, Abu Daud, At-Tirmiday, dan An-Nasa’i)

Ikhlas adalah syarat diterimanya sebuah amal, karena Allah SWT hanya menerima amal perbuatan yang di niatkan dengan ikhlas untuk meraih ridha-Nya. Karena itu, penting seorang hamba memurnikan niatnya hanya untuk Allah dalam amal perbuatannya. Niat yang ikhlas dalam amal, akan membawa keberkahan bagi pelakunya. Sebab niat menentukan kualitas amal, amal yang ikhlas adalah amal yang diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Amal yang diniatkan tidak untuk mencari keridhan Allah, tidak akan diterima bagaikan daun-daun kering yang berguguran.
Karena itu, penting bagi hamba yang beramal, baik dalam ibadah maupun mualamalah, memurnikan niat hanya untuk mencari keridhaan Allah. Bukan untuk niat berbeda yang sifatnya pribadi, pragmatis, hingga riya. Shalat bukan untuk disebut soleh, puasa bukan untuk diet, berhaji bukan untuk menaikkan status sosial di masyarakat, zakat dan shadaqah bukan untuk disebut dermawan. Tak berguna amal seorang hamba, apabila niatnya selain mencari keridhaan Allah.
Apabila seorang hamba hijrah Allah dan Rasulnya, maka ia akan sampai pada Allah dan Rasulnya. Tapi apabila seorang hamba hijrah pada kehidupan Dunia, maka dia akan mendapatkan Dunia sesuai apa yang di takdirkan padanya, tapi sedikitpun ia tidak akan mendapatkan keridhaan Allah. Dan amalnya tidak berarti di hadapan Allah, bagaikan debu-debu yang berterbangan di udara.
Jadi amat sangat penting bagi hamba yang ikhlas, untuk memurnikan niatnya hanya kepada Allah. Agar segala ucapan, tindakan, dan perbuatannya selalu mendapat keberkahan dan keridhaan Allah SWT. Dan Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya, menghimpun semua potensi yang di milikinya, dan Dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya.

“ Ikhlas adalah satu rahasia dari rahasia-Ku. Aku memasukkannya ke dalam hati orang yang kucintai dari hamba-hamba-Ku. “ (Hadist Qudsiy Riwayat AL-Qusyairy)
Artinya keikhlasan, ternyata akan membawa kekayaan seorang hamba baik secara materi maupun imateri. Sungguh merugi orang-orang yang di hatinya tidak ada keikhlasan, karena sesungguhnya keikhlasan adalah anugerah Allah yang sangat berharga bagi manusia-manusia yang berfikir. Firman Allah dalam hadist Qudsy nya sangat jelas “ Ikhlas adalah satu rahasia dari rahasia-Ku. Aku akan memasukkannya ke dalam hati orang yang aku cintai dari hamba-hamba-Ku. “ Sungguh sangat beruntung orang-orang yang hatinya senantiasa dalam balutan keikhlasan pada Allah.

“Barang siapa yang tujuan utamanya adalah meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya berada dalam kalbunya. Menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya barang siapa yang tujuan utamanya adalah meraih dunia. Niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan benda di depan matanya. Membahayakan semua potensi yang dimilikinya dan dunia tidak mau datang sendiri kepadanya, kecuali menurut apa yang telah di taqdirkan untuknya. “ (HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya engkau, tidak sekali-kali mengeluarkan suatu nafkah karena mengharapkan ridha Allah, melainkan pasti engkau akan diberi pahala karenanya. Meskipun berupa makanan yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu. “ (HR. Bukhari)

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk meraih ridha Allah lalu dia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk meraih sesuatu dari harta benda duniawi, niscaya dia tidak akan menemukan wewenang surga pada hari kiamat nanti.“ (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

“Hanya Allah yang dimintai pertolongan. Ya Allah, anugerahilah Aku kesabaran dan hanya kepada Allah lah, seorang hamba harus bertawakkal.“  (HR. Ahmad)

“Aku mengikuti prasangka hamba-Ku kepadaku, dan Aku selalu bersamanya selama dia mengingat-Ku “ (HR. Ahmad)

“Berserah diri lah kamu kepada Allah Ta’ala dengan berserah diri yang sebesar-besarnya, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kamu, sebagaimana dia memberikan rezeki kepada burung yang keluar pagi-pagi dengan perut kempis, dan kembali sore dengan perut kenyang.“ (HR. At- Tirmidzi)

“ Siapa yang berpegang teguh kepada Allah SWT, niscaya di cukupkan oleh Allah SWT setiap kebutuhannya. Dan diberikannya rezeki dimana tidak disangka kannya. Dan siapa berpegang teguh kepada dunia, niscaya ia diserahkan oleh Allah kepada dunia. “ (HR. Ath-thabrani)

“ Sesungguhnya Allah SWT menolong umat yang lemah, dengan do’a mereka, keikhlasan mereka, dan shalat mereka. “ (HR. An-Nasai’)

“ Ikhlaskanlah amal Mu, niscaya mencukupilah bagi engkau oleh sedikit dari padanya!“ (HR. Abu Manshur AD-Dailami)

“Ya Allah, kepadamu aku menyerah, kepadamu aku percaya, dan kepadamu aku berserah diri, serta kepadamu pula aku akan kembali, dan karenamu aku berjuang. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaanmu yang tiada Tuhan Selain Engkau, janganlah Engkau menyesatkan aku. Engkau yang hidup, dan tidak akan mati, sedang jin dan manusia semuanya bakal mati.“ (HR. Bukhari – Muslim)

“Ya Tuhan ku, bantulah aku; Jangan engkau tidak membantuku. Tolonglah daku; Jangan engkau tidak menolong daku. Balaskanlah untukku, jangan engkau berbalik membalasku. Dan jadikanlah diriku orang yang banyak bersyukur kepadamu, khusyu kepada-Mu, lagi banyak mengadu dan kembali kepada-Mu. Ya Tuhan ku, terimalah dariku tobatku, bersihkanlah dosa-dosaku, perkenankanlah do’aku, teguhkanlah hujjahku, luruskanlah lisanku. Tunjukilah hatiku, dan cabutlah kedengkianku di dada-Ku! “ (HR. Tirmidzi)

Hamba-hamba Allah yang ikhlas tak perlu takut pada kesulitan hidup, sebab barang siapa yang berpegang teguh kepada Allah SWT. Niscaya ia akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah. Dia akan diberikan rezeki dari tempat yang tidak disangkakannya, kalau begitu tunggu apalagi, bersegeralah berserah diri kepada Allah dengan berserah diri yang sebesar-besarnya. Karena dia akan memberi rezeki pada orang ikhlas seperti dia memberikan rezeki kepada burung. Seekor burng keluar pagi-pagi dengan perut kempis, dan kembali sore harinya dengan perut kenyang.
Dan berbaik sangkalah selalu kepada Allah, karena dia mengikuti prasangka hambanya. Kalau hambanya berprasangka baik, maka kebaikanlah yang akan didapatnya. Sebalikny apabila hambanya berprasangka buruk kepad Allah, maka keburukan pula yang akan didapatkannya. Karena itu, pancarkanlah selalu prasangka-prasangka baik, positif, penuh cinta, kesabaran, dan syukur dari dalam hati kita. Mudah-mudahan Allah akan membalasnya dengan cita, karunia dan rahmatnya. Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba yang mendapat ridha dan cintanya Allah SWT.
Dan jangan sekali-kali kita berprasangka buruk, mengeluh, memaki, bahkan menghujat Allah. Karena hal itu bisa menjadi do’a, dan Allah akan mengabulkan tuduhan yang kita hujatkan, menjadi kenyataan yang justru semakin membuat kita tersiksa dan menderita. Jadi, hati-hatilah dengan prasangkaMu kepada Allah. Karena itu akan menjadi do’a yang akan dia kabulkan sewaktu-waktu.
Lebih baik jadilah hamba-hamba ikhlas, yang selalu berserah diri kepadanya memohon pertolongan-Nya., banyak bersyukur kepada-Nya. Karena hanya kepada Allah kita memohon perlindungannya, tempat mengadu segala sesuatu agar dia menerima tobat kita, membersihkan dosa-dosa kita, memperkenankan do’a-do’a kita, meneguhkan hujjah kita, mengangkat derajat kita, dan meluruskan segala ucapan, tindakan, serta perbuatan kita. “ Ya Allah, kepadamu aku menyerah, kepadamu aku percaya, kepadamu aku berserah diri, kepadamu aku berjuang, dan kepadamu pula aku akan kembali. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami, sesungguhnya engkau Maha Penolong, dan Penerima Permohonan. “

C. IKHLAS MENURUT ULAMA

Selain keterangan AL-Qur’an dan Hadist, Risalalah dan pemahaman tentang ikhlas terus disebarkan melalui para ulama yang meempuh perjalanan ruhani menuju Allah. Di bawah ini adalah beberapa pendapat para ulama tentang hakikat dan urgensi ikhlas, beserta keutamaan-keutamaannya.

Imam AL-Ghazaly dalam AL-Ihya berkata :

“Ketahuilah bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu selainnya. Jika bersih dari percampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang bersih dan murni disebut ikhlas.“

“Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas. “

Ibnu Atha’illah dalam AL-Hikam berkata :

“Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada padanya.”

“Amal yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap sedikit dan yang berasal dari hati penuh ketamakan tak dapat dianggap banyak. “

“Allah menghindarkan orang-orang yang menuju-Nya dan juga orang-orang yang sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan menyaksikan keadaan mereka. Yang demikian bagi orang-orang yang tengah menuju kepada-Nya, adalah karena mereka belum benar-benar ikhlas dalam amal mereka. Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya. “

Abu-Qasim AL-Qusyairy berkata :

“ Ikhlas adalah menuggalkan tujuan kepada Yang Maha Benar (Allah SWT) dalam ketaatan. “

Syaikh AL-Junaid berkata :

“ Ikhlas adalah suatu rahasia antara Allah dan hamba-Nya, yang tidak diketahui malaikat sehingga dia mencatatnya, tidak di ketahui syetan sehingga dia merusak-Nya dan tidak pula di ketahui hawa nafsu sehingga ia mencondongkan-nya. “

Abu Usman berkata :

“ Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dengan terus-menerus memandang keutamaan Khalik (Allah). “

Hudzifah AL-Mar’asyi berkata :

“Iikhlas adalah jika perbuatan-perbuatan hamba, bisa benar secara lahir maupun batin. “

Abu Yaqub As-Susi berkata :

“Ikhlas adalah tidak melihatnya ikhlas. Siapa yang menyaksikan pada keikhlasannya akan ikhlas, maka sesungguhnya keikhlasannya itu memerlukan kepada ikhlas. “

Sahal R.A berkata :

“Ikhlas adalah adanya diam hamba, dan gerak-geriknya khusus karena Allah. “

AL-Muhasibi berkata :

“ Ikhlas adalah mengeluarkan makhluk kepada muamalah dengan Tuhan (Allah).“

Sah bin Abdullah At-Tusturi pernah di tanya :

“ Apakah sesuatu yang paling berat di rasakan oleh hawa nafsu?“. Beliau menjawab,“Ikhlas, karena sesungguhnya hawa nafsu tidak punya peran di dalamnya. Dengan ikhlas, akan melupakan semua peran hawa nafsu. “

Ibnu Qayyim berkata :

“ Rahasia dan hakikat tawakal terletak pada kepercayaan hati yang hanya mengandalkan Allah semata. Dengan kata lain, tawakal tidak membahayakan meskipun yang bersangkutan menempuh semua penyebab. Selain hatinya tidak mengandalkan pada penyebab (upaya) yang di jalaninya, dan tidak ada rasa ketergantungan padanya. “

Ibnu Utsaimin berkata :

“ Tawakal ialah mempercayakan sepenuhnya kepada Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, disertai dengan upaya menjalankan semua penyebab yang diperintahkan oleh Allah sebagai realisasinya. “

Syaikh Abdul Qadir AL-Jailani berkata :

“Ikutilah dengan ikhlas, jalan telah ditempuh oleh Nabi besar Muhammad SAW. Dan jangan merubah jalannya, patuhlah kepada Allah dan Rosul-Nya, dan jangan sekali-kali berbuat durhaka. Bertauhidlah kepada Allah, dan jangan mengeluarkan-Nya. Bersabar dan berpegang teguhlah kepada-Nya. “

Ikhlas adalah kemurnian, amal perbuatan yang bersih dan murni disebut ikhlas. Imam AL-Ghazaly menjelaskan ikhlas secara sederhana, mengutip ayat AL-Qur’an yang mengumpamakan susu murni dan bersih yang berada di antara tahi dan darah. Susu adalah sesuatu yang benar keluar dari perut hewan ternak, yang keberadaannya di antara kotoran dan darah binatang. Sesuatu yang bersih dan tidak ada percampuran di dalamnya, karena susu tidak bercampur antara tahi dan darah. Kemurnian susu itulah yang di analogikakan AL-Ghazaly, untuk menjelaskan ikhlas.
Ikhlas adalah sebuah kemurnian niat, ucapan, tindakan, dan perbuatan yang benar-benar di tujukan untuk mengharap keridhaan Allah SWT. Cuma Allah tujuannya, bukan yang lain, tak boleh bercabang, tak boleh ternodai oleh tujuan-tujuan yang lain. Kalau bercampur atau bercabang, apapun tindakannya, keikhlasannya atau luntur, dan tidak diterima oleh Allah.
Selain itu, ternyata ikhlas menempati posisi penting dalam beragama. Sebab menurut AL-Ghazaly, semua orang itu binasa kecuali orang-orang yang berilmu, dan orang-orang berilmu juga binasa kecuali orang yang mengamalkannya, dan para pengamal juga akan binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas. Artinya, sebanyak apapun ilmu dan amal yang manusia lakukan dalam kehidupannya tak ada gunanya, kecuali ada keikhlasan di dalam hatinya.
Karena itu, tanamkan keikhlasan di hati kita sekarang juga, agar ilmu dan amal yang kita miliki tidak sia-sia. Sebab dengan perkataan Ibnu Athaillah, amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya ialah keikhlasan yang ada padanya. Amal adalah jelmaan lahiriah dari niat dan keinginan. Pengalaman lahiriah adalah cerminan dari hakikat dan keadaan batin. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak memiliki kekuatan atau kehendak apapun, kecuali selain Allah.
Amal yang berasal dari hati yang ikhlas laksana tanaman yang sehat, akan tumbuh dan berbuah pahala dan karunia Allah. Sebaliknya hati yang tidak ikhlas, laksana tanamanyang sehat, rusak, dan kering yang akan menghasilkan kesengsaraan.  Orang-orang yang ikhlas hatinya tidak akan disibukkan berbangga atas amal-amal yang telah diperbuatnya. Karena bagi orang-orang yang tengah melakukan perjalanan mencapai keridhaan Allah, riya terhadap amal adalah hal yang akan merusak nilai-ilai keikhlasan.
Pada akhirnya, ikhlas adalah menunggalkan tujuan hanya kepada Allah SWT. Apabila Allah menetapkan sebuah kondisi pada seorang hamba, maka hambanya akan menerima kenyataan itu walaupun tidak sesuai dengan harapannya. Hamba yang ikhlas, akan menerima ketetapan apapun yang Allah berikan kepadanya dengan tenang dan ridha. Dia akan tetap melaksanakan perintah Tuhannya dengan taat dan pasrah, hingga Allah menurunkan pertolongan dan rahmatnya pada hamba tersebut lalu mengangkat derajatnya ketempat yang baik.
Ikhlas adalah suatu rahasia antara Allah dan hambanya. Bahkan malaikat dan syetan tak mampu mengetahuinya, karena ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hambanya. Berbahagialah hamba-hamba yang hatinya ikhlas, karena dia akan mendapat rahmat, karunia, dan ridha
Begitu mulianya orang-orang yang ikhlas, sehingga ikhlas itu mendapatkannya tak semudah membalikkan tangan. Hamba Allah yang ikhlas akan di uji, apakah ia benar-benar istiqomah dengan keikhlasannya atau keikhlasannya itu mudah digoyahkan oleh kenikmatan Duniawi yang menjebak dia pada perbudakan. Karena seperti perkataan Abu Yakub As-Susi, “Ikhlas adalah tidak melihatnya ikhlas, siapa yang menyaksikan pada keikhlasannya akan ikhlas, maka sesungguhnya keikhlasannya itu memerlukan kepada ikhlas! “
Karena itu orang-oang arif yang meniti jalan menuju Allah, mengungkapkan sulitnya mengimplementasikan ikhlas, dan beratnya mewujudkan keikhlasan di dalam jiwa, kecuali Allah memberi kemudahan dirinya untuk ikhlas. Ikhlas itu tak semudah mengucapkan kata-katanya, karena ikhlas ada di antara niat, ucapan, tindakan dan perbuatan seorang hamba dalam menjalani kehidupan.
Menggapai hakikat ikhlas, laksana menyelami lautan yang dalam. Banyak orang yang kehabisan nafas sebelum mencapai dasar lautan, akibatnya banyak yang tenggelam kecuali sebagian kecil saja. Berbahagialah hamba-hamba yang telah mencapai nilai-nilai keikhlasan di hatinya. Karena Allah menjamin tempat kembali yang paling baik buat mereka, menyelamatkan mereka dari segala kesulitan hidup, melapangkan hatinya dan mengangkat beban-beban hidup dipundaknya. Keikhlasan akan menguatkan dan menopang orang-orang yang meniti di jalan Allah. Karena hanya dari Allah lah datangnya pertolongan dan taufiq hidayah, juga hanya kepada-Nyalah kembali semua urusan. Dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong.
Ikhlas adalah proses permurnian diri, bahwa tak ada zat yang patut disembah, tempat mengadu, dan tempat bergantung kecuali Allah. Tak ada jalan lain untuk mengisi kekosongan dan kehampaan spritualitas, kecuali dengan ikhlas. Karena hanya dengan ikhlas lah hati manusia akan kembali tentram dan bahagia. Manusia ikhlas akan senantiasa memancarkan energi positif, yang akan membawanya pada keselamatan dan kesejahteraan hidup.
Ikhlas adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mustahil sebuah amal diterima oleh Allah tanpa keikhlasan. Ikhlas juga, syarat mutlak dikabulkannya sebuah do’a, karena do’a adalah senjatanya. Suatu sarana yang digunakan seorang mu’min apabila usaha-usaha rasional menemui jalan buntu. Karena tak ada pintu lain yang bisa menolong kecuali pintu Allah. Dan cara mengetuknya melalui do’a, tapi hanya do’a orang-orang ikhlaslah yang akan dipenuhi oleh Allah.
Tanamkanlah keikhlasan dalam hati, seperti yang dicontohkan Rosullullah SAW, para sahabatnya, para ulama, hingga para mukhlisin sampai akhir kiamat nanti. Mereka adalah orang-orang yang telah mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong kerakusan terhadap Dunia, dan memurnikan tujuan akhirat.
Ikhlas perlu ditanamkan di hati setiap manusia, agar segala urusan dunia ini dapat berjalan dengan lancar. Karena ikhlas selalu di tuntut membenarkan perintah Allah, meluruskan yang lurus, membatilkan yang batil, memasyarakatkan kebaikan, menegakkan keadilan, mengenyahkan kedzalimnya, dan membebaskan manusia dari kerusakan-kerusakan yang terjadi di dunia.
Jika tidak ada orang ikhlas di bumi ini, maka kehidupan akan menjadi kacau balau dan lepas kendali. Kemunafikan dimana-mana, manusia akan dikendalikan hawa nafsu, untuk sekedar mengejar kerakusannya pada keduniaannya dan materi, cinta dunia, gila harta, kedudukan, dan kekuasaan akan semakin merajalela, dan firaun-firaun baru akan bermunculan. Dan tak ada yang bisa melepaskan kesia-siaan, kerusakan, dan kerugian tersebut, kecuali orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang bertaat hanya untuk mencari keridhoan Allah, bukan keridhoan arogansi dan kerakusan manusia, bukan keridhoan hawa nafsu yang merusak. Sungguh, kesempatan manusia hanya akan terwujud dengan ikhlas.

About gatotaryo17

Saya Penulis novel Mimpi Bulan & The Jilbab Code?!, Aktif menjadi Moderator Komunitas Coretan, sarang para penulis muda. Juga Bekerja Sebagai Desain Grafish di Perusahaan Property Lihat semua pos milik gatotaryo17

One response to “Buku Keajaiban Ikhlas, BAB 1.Apa Itu Ikhlas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: