Buku Keajaiban Ikhlas, Bab 5. Keajaiban Ikhlas

Buku Keajaiban Ikhlas

Penulis : Muhammad Gatot Aryo

Bab 5. Keajaiban Ikhlas

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 5)

“Kepastian Hidup, ada dalam ketidakpastian hamba Allah Yang Ikhlas!” (Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini)

Ikhlas adalah fenomena yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia. Karena ikhlas mampu membuat manusia yang menderita menjadi bahagia hidupnya, membuat manusia yang lemah dan rapuh menjadi kuat dan tegar, membuat manusia yang miskin menjadi kaya raya. Ikhlas adalah jawaban untuk segala permasalahan dan cobaan dalam kehidupan manusia, ikhlas juga merupakan pondasi awal seorang hamba Allah agar dapat  meraih keridhoan dan cinta-Nya Allah.
Karena itu apapun aktifitas manusia dalam kehidupannya, murnikanlah selalu dengan keikhlasan. Ikhlas memberikan kedamaian di hati, menegarkan hati yang sedih, mensyukuri seberapa pun rezeki yang Allah berikan, memurnikan diri manusia sebagai makhluk ciptaan, mempositifkan segala hal negatif, melestarikan nilai-nilai kebaikan, meneggelamkan segala bentuk kejahatan. Menebarkan cinta kasih, penghambaan, rasa syukur, dan kepasrahan diri kepada Allah SWT.
Keikhlasan seorang hamba akan membawanya pada kepastian hidup. Sebab apabila hamba Allah telah mengikhalsakan hatinya kepada Allah, sesungguhnya ia telah memancarkan energi positif dari dalam hatinya, yang pancarannya akan memantul ke Alam Semesta. Hamba yang ikhlas itu ibarat cermin, cermin yang memantul nur (cahaya) dari Allah SWT. Seperti energi gelombang yang di serap atom-atom yang dekat permukaannya sehingga bervibrasi yang kemudian di pakai untuk memancarkan gelombang balik energi positif.
Artinya manusia yang ikhlas, akan mendapat siraman nur dari Allah. Karena cermin di hatinya bersih maka cahaya tersebut masuk secara maksimal hingga menggetarkan qolbunya, lalu memancarkan kembali ke Alam Semesta. Apabila gelombang energi keikhlasan itu kuat, maka pengaruhnya akan terasa pada orang-orang di sekitarnya.
Menyentuh nurani dan memberi kesadaran penghambaan, walaupun hati orang-orang di sekitarnya. Menyentuh kuat, maka pengaruhnya akan terasa pada orang-orang di sekitarnya. Menyentuh nurani dan memberi kesadaran penghambaan, walaupun hati orang-orang di sekitarnya. Menyentuh nurani dan memberikan kesadaran penghambaan, walaupun hati orang-orang di sekitarnya buram dan berdebu. Sentuhan ruhani tersebut, akan memotivasi orang lain untuk berbuat baik akibat dari pancaran energi positif hamba Allah yang ikhlas.
Keikhlasan manusia, membawa dampak bagi kehidupannya di Dunia maupun di Akhirat. Karena ikhlas memiliki efect baik vertikal maupun horizontal. Secara vertikal ikhlas adalah pintu masuk menuju ma’rifatullah. Sedangkan secara horizontal ikhlas akan menciptakan kehidupan peradaban yang positf, konstruktif dan berkah.
Secara horizontal, ikhlas berdampak pada hubungan positif antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan Alam. Sikap ikhlas dalam bermuamalah  Hamba Allah, akan menyelamatkannya dari berbagai macam ujian dan cobaan kehidupan. Karena ikhlas sesungguhnya adalah kekuatan dalam diri manusia, yang mampu menyelesaikan berbagai macam ujian dan cobaan kehidupan.
Apabila seorang hamba Allah telah mengikhlaskan dirinya, otomatis segala tindakan, ucapan dan perbuatan yang di kehendaki Allah sudah pasti di ridhai Allah, di cintai Allah, juga di rahmati Allah. Dan segala tindakan yang telah di ridhai  dan di cintai Allah, sudah pasti akan membawa kebaikan, kebahagiaan, dan ketentraman bagi hamba-hambanya. Karena Allah tak mungkin meridhai dan mencintai sesuatu, yang membuat hambanya menderita, merusak, dan mendzalimi kehidupan.

“ Ikhlas adalah satu rahasia dari rahasia-Ku. Aku memasukkannya ke dalam hati orang yang kucintai dari hamba-hamba-Ku. “ (Hadist Qudsiy Riwayat Al-Qusyairy)

Secara vertikal, ikhlas akan mengaktifkan hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya. Keikhlasan hamba dalam beribadah seperti Shalat, akan membawa dirinya pada tingkat spiritual ruhani yang membawanya pada maqam Marifatullah. Maqamnya para Nabi, Para Waliyullah yang telah mencapai derajat ketaqwaan yang paling tinggi di sisi Allah SWT. Ikhlasnya hamba Allah, memungkinkan membawanya pada siraman ridha dan cintanya Allah SWT.
Shalat, puasa, dan dzikir yang di laksanakan hamba Allah yang ikhlas, akan sampai di sisi Allah. Karena Allah tidak akan menerima suatu amal ibadah hamba kalu ibadah tersebut tidak di laksanakan dengan ikhlas. Jadi keikhlasan ibadah hamba, berdampak pada di terimanya atau tidaknya amal ibadah hamba tersebut. Apabila sebuah amal telah di sisi Allah SWT, maka Allah pasti akan membalasnya dengan keridhaan, cinta, karunia dan rahmatnya tak terhingga bagi hamba tersebut.

Sesuai Sabda Rosulullah SAW :

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal, kecuali jika (Prilaku) amal itu ikhlas dan mencari keridhaan Allah dengannya” (HR. AN-Nasay)

Jadi  bisa di simpulkan, bahwa ikhlas memiliki keajaiban dalam dua aspek. Pertama, aspek horizontal. Yaitu keikhlasan hamba Allah yang berdampak langsung dan terasa dalam kehidupan sehari-hari, karena ini berhubungan dengan interaksi manusia dengan manusia lain, interaksi manusia dengan lingkungan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, seni dan budaya. Yang kedua, aspek Vertikal. Yaitu hubungan keikhlasan hamba Allah, pada Sang Pencipta Alam Semesta Allah SWT. Adalah kunci terbukanya pintu marifatullah, meningkatkan kedekatan, dan ketaatan seorang hamba Allah dengan Tuhannya.
Hal tersebut dapat di gambarkan dengan bagan sederhana :

Jadi keikhlasan seorang hamba dalam beramal akan berdampak pada dua urusan baginya, yaitu urusan Dunia dan urusan Akhirat. Bagi manusia yang beriman kepada Allah, masa depan sesungguhnya bukanlah kehidupan Dunia. Tetapi ada kehidupan akhirat setelah manusia mati di kubur, dan waktu dimana seluruh manusia di Bumi di bangkitkan kembali di akhir Zaman, untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya semasa di Dunia. Akan ada Surga dan neraka, dimana manusia yang berbuat kebajikan akan Allah balas limpahan karunia dan nikamt, dengan memasukkannya ke dalam Surga. Dan manusia yang berbuat kerusakan serta mengingkari keberadaan Allah, akan di balas siksaan dengan memasukkannya ke Neraka jahanan.

Sesuai firman Allah :

“(18.)Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.(19.) Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS.Al-Isra:18-19)

Ikhlas sesungguhnya adalah sebuah kekuatan dan keajaiban bagi hamba Allah yang beriman. Tetapi tidak semua hamba yang Islam, dapat mencapai keikhlasan. Sebab keiikhlasan  seorang dicapai dengan cara yang tidak mudah, mengkondisikan hati senantiasa dalam keikhlasan tidak lah semudah membalikkan kedua telapak tangan, sebuah usaha yang sesederhana tanpa harus bersusah payah. Sebab tidakan manusia itu sulit, terlepas dari hawa nafsu dan tipu daya setan yang selalu merongrong hamba yang ikhlas. Keikhlasan sesorang hamba sesungguhnya sangatlah sulit di ukur, apalagi kalau hanya melihat dari fisik atau kulitnya saja, sebab wujud ikhlas itu terletak di dalam hati dan jiwa manusia. Sesuatu yang tak tampak oleh pandangan mata manusia, dan hal tersebut memiliki peluang penyimpangan yang besar. Karena hanya Allah dan hamba tersebutlah yang tau, dirinya telah ikhlas atau belum.
Tetapi indikator tercapai tidaknya ikhlas tersebut, dapat diukur dari tiga faktor yang telah kami jelaskan pada bab sebelumnya. Pertama, memurnikan niat dan tujuan hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Niat yang ikhlas sangat penting dilakukan dengan niat ikhlas, maka aktifitas apapun yang di ridhai Allah, akan bernilai ibadah disisi-Nya.

Sesuai Sabda Rosullullah :

“Sesungguhnya Allah mengampuni umatku apa yang terdetik di dalam jiwa mereka, selagi belum belum di kerjakan atau di katakan.” (HR. As-Sittah)

Yang kedua, adalah berserah diri secara total kepada Allah SWT. Pasrah kepada Allah SWT, atas segala ketetapan dan anugrah yang di berikan kepada hambanya adalah aktualisasi keikhlasan seorang hamba, agar tidak terjebak dalam lembah pengeluh, penuntut, dan penghujat Tuhan. Hamba yang berserah diri kepada Allah, akan lebih memfokuskan diri kepada ikhtiar tang efektif dan maksimal tanpa meperdulikan hasil akhir yang di tetapkan Allah kepadanya. Dan hanya dengan berserah diri kepada Allah lah, segala ketidakpastian ikhtiar akan menjadi pasti karena kehendak Allah SWT.
Yang ketiga, adalah bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT di segala keadaan. Dalam suasan apapun, baik suka maupun duka seorang hamba Allah harus senantiasa bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT. Sabar dan syukur adalah katalisator penyeimbang, agar manusia terhindar dan terselamatakan dari ujian serta cobaan kehidupan. Suka dan duka adalah cobaan hidup karena itu manusia ikhlas harus menghadapinya dengan senjata syukur dan sabar, agar tetap dapat menjaga hatinya untuk tetap ikhlas. Penjelasan di atas, sedikit banyak membuktikan bahwa ikhlas adalah kunci menyelesaikan persoalan hidup dan kunci mendekatkan diri kepada Allah SWT.

A. Kunci Penyelesaian Persoalan Kehidupan

“Dan tidak bertaqarrub kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan suatu yang lebih Kusukai daripada menjalankan kewajibannya. Dan tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah, sehingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, yang ia mendengar dengan-Nya, dan Aku menjadi penglihatan-Nya, yang ia melihat dengan-Nya, dan Aku menjadi tangannya yang ia pergunakan untuk bertindak, dan Aku menjadi kakinya yang ia berjalan dengan-Nya. Jika ia meminta pada-Ku niscaya Aku beri. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya…”
( Hadist Qudsi, H.R. Bukhari)

Hamba Allah yang ikhlas, apabila ia melihat, maka ia melihat dengan pan dnagan Allah. Apabila ia mendengar, maka ia mendengar dengan pendengaran Allah. Apabila ia bertindak, maka ia bertindak sesuai kehendak Allah SWT. Karena Allah mencintainya, apapun yang ia punya akan Allah beri. Apabila ia dalam bahaya, maka Alalh akan menjadi penolong dan pelindung baginya.
Subhanallah, Maha Suci bagi-Nya Tuhan Pencipta Alam Semesta. Penolong bagi hamba-hambanya yang ikhlas dan beramal soleh. Ikhlas adalah sebuah kekuatan dan keajaiban bagi hamba-hambanya yang beriman. Mendamaikan hati yang marah dan cemas, mempasrahkan hati yang sedih dan panik, menguatkan hati yang takut dan lemah, juga menjauhkan rasa sombong dan riya hati yang senang dan bahgia.
Ikhlas menjauhkan manusia dari mental yang sakit seperti tamak, kikir, angkuh, riya, egois, pemarah, su’udzon, dusta, khanat, dan kufur. Juga menumpuk mental manusia yang sehat seperti qonaah, tawadhu, dermawan, sabar, husnudzon, tawakal, jujur, amanah,  fathonah hingga tablig. Ikhlas akan membangun mental yang produktif, sebab cara berfikir dan berperan manusia di dasarkan pada hati nurani untuk berbuat sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan masyarakat. Keikhlasan akan memancing dan memotivasi mental yang produktif dan positif.
Dalam bagan sederhana dijelaskan, ikhlas dapat membuktikan dirinya mampu membangun nilai-nilai positif dan produktif dalam diri manusia :

Ikhlas mampu membangun dan memotivasi energi positif dalam diri manusia. Kekuatan ikhlas yang terpancar dalam diri manusia, akan mempositifkan dirinya melaui pikiran-pikiran yang positif, emosi perasaan yang positif, dan tindakan dan perbuatan yang positif. Jasmani, rohani, dan pikiran yang positif, akan menjadikan manusia diri yang positif secara utuh. Lalu energi yang positif itu akan menyebar ke Alam Semesta melalui gelombang resonansi yang terpancar dari dalam dirinya. Kemudian mempengaruhi orang-orang di sekitarnya dengan nilai-nilai positif, dan lambat laun secara konsisten akan membangun lingkungan yang positif. Apabila energi positif dari ikhlas ini terus menguat dan menyebar, maka secara progresif akan mempositifkan kehidupan. Sebuah Bangsa dan Peradaban yang di kelola melalui budaya, yang berbasis nilai-nilai positif keihlasan kepada Allah SWT. Adalah sebuah keadaan dan kondisi peradaban positif, yang Al-Quran menyebutnya “Rahmatan Lil Alamin” (Rahmat bagi seluruh alam)
Artinya keikhlasan Hamba Allah, mampu membangun peradaban yang rahmatan lil alamin, dan bukan omong kosong. Selama hamba-hamba Allah yang beriman secara konsisiten berpegang tegunh pada nilai-nilai keikhlasan, cita-cita mempositifkan Peradaban dengan kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan bisa saja terjadi. Kerena itu bukanlah hal yang mustahil, kalau ikhlas adalah “Kunci” menyelesaian persoalan-persoalan kehidupan. Karena energi positif yang di pancarkan oleh hamba Allah yang ikhlas, mampu membangun perdamaian di Dunia ini. Ikhlas adalah tempat pertama untuk kembali, kalau manusia di muka Bumi ini ingin menciptakan perdamaian di Dunia. Dan semua hal di atas hanya dapat di capai, kalau manusia mempositifkan dirinya dahulu dengan keikhlasan. Yaitu dengan  Positif Thinking (Mempositifkan Pikiran), Positif Feeling (Mempositifkan Ruhani), dan Positif Doing (mempositifkan Tindakan Jasmani).

1.1 Positif Thinking (Mempositifkan Pikiran)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Ali-Imran : 191)

Keikhlasan hamba Allah otomatis akan mempositifkan pikirannya (Positif Thinking), karena ia selalu mengembalikan segala urusan kehidupannya kepada Allah SWT. Seperti firman Allah dalam  surat Ali Imran ayat 191, seorang yang ikhlas akan senantiasa bertafaqur atas segala ciptaan Allah  baik di Langit maupun di Bumi. Segala  keajaiaban dan keunikan Alam Semesta ciptaan Allah akan memebuat dirinya tak henti-hentinya bersyukur dan memuji Thannya. Dia akan berdoa kepada Allah, “Ya Allah Tuhan kami, tida engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”
Allah menciptakan akal agar manusia berfikir, mengkaji, dan mempelajari Alam Semesta dengan segala kompleksitas di dalamnya. Dengan perenungannya itu, ia akan semakin menyadari hakikat dirinya dan kehidupannya di Dunia. Hamba tersebut akan semakin mengikhlaskan hatinya dalam penghambaan dan penyerahan diri kepada Allah. Penghambaan dan penyerahan diri yang utuh kepada Allah SWT, akan membawanya pada pikiran-pikiran positif yang memotivasi dirinya dalam hidup yang positif dan produktif.
Dengan berfikir berarti seseorang hanya mengizinkan pikiran-pikiran baik dalam otaknya, dan membuang jauh pikiran-pikiran negatif. Ketika seseorang berfikir, merenung, dan berdoa, maka otaknya akan berlangsung suatu proses psikodinamika, yang menghasilkan gelombang elektromagnetik. Nah gelombang tersebut bisa terpencar keluar, dan menimbulkan resonansi pada orang lain dan alam semesta. Begitu ia beribadah, contohnya sholat, maka konsentrasi yang tinggi dalam kekhususan shalatnya, akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang berkorelasi dengan kualitas sholatnya. Keikhlasan seseorang dalam sholat akan menentukan kualitas ibadahnya, dan hal ini dapat di ukur dari pancaran gelombang elektromagnetik dalam otaknya.
Jika seseorang memancarkan gelombang negatif, maka hal-hal negatiflah yang akan memancar dan memancing umpan balik energi negatif. Sebaliknya bila seseorang memancarkan energi positif (Keikhlasan) maka hal-hal positiflah yang akan memancar, dan energi tersebut akan emmancing umpan balik energi positif dari Alam Semesta. Keikhlasan seorang hamba akan menghasilkan pikiran positif, dan pengaruh buruk dari dalam pikiran negatif dapat di hilangkan, dengan memperbanyak dan memperkuat pikiran-pikiran positif (Ikhlas).
Indikator keikhlasan dam pikiran manusia (Positif Thinking), dapat di ukur dari pancaran gelombang manusia, berda dalam posisi Alfa dan Theta. Ada beberapa macam gelombang otak yang di dasarkan pada tingkatan konsentrasi pikiran manusia.
Pertama, GAMMA (16 hz-100 hz), saat berfikir keras, aktifitas mental yang tinggi. Kedua, BETA (12 hz- 19 hz), saat mengalami aktivitas yang terjaga dan penuh kesadaran. Ketiga, ALPHA (8 hz-12 hz), saat bawah sadar, imajinasi, dan relaksasi. Keempat, THETA (4 hz-8 hz), intuisi, sangat khusu, keheningan mendalam. Kelima, DELTA (0,5 hz-4 hz), saat tidur terlelap.
Saat hamba Allah berada dalm kondisi ikhlas, gelombang otaknya berada dalam posisi Alfa dan Theta. Gelombang ALPHA (8 hz-12 hz) adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksasi, atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Ketika otak kita berada dalam getaran frekuensi ini, kita akan berada pada posisi khusyu, relaks, meditatif, nyaman, dan ikhlas. Dalam frekuensi ini kerja otak mampu menyebabkan kita merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Seseorang akan menghasilkan gelombang Alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadaran tidak sadar. Alpha adalah gelombang keikhlasan, yang merupakan output dari positif thinking. Gelombang yang menciptakan keyakinan diri dan pancaran optimisme yang tinggi.
Sedangkan gelombang THETA (4 hz-8 hz). Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan atau sangat mengantuk. Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusyu, keheningan yang mendalam, depp-meditation, dan mampu mendengar nurani bawah sadar. Tanda-tanda nafas mulai melambat dan dalam, inilah kondisi yang di raih saat Ulama Sufi sedang melamtunkan doa dan dzikir di tengah keheningan malam pada Sang Ilahi. Selain di ambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan gelombang otak ini saat trance, hypnosisi, meditsi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusy (Ikhlas).
Dalam frekuensi keikhlasan ini (Alpha dan Theta), jika seorang hamba menginjeksikan energi positif dalam setiap jejak sel safarnya secara mulus. Maka ia akan merajut keyakinan positif dan visualisasi keberhasilan dalam otaknya, dan rajutan tersebut benar-benar akan menembus alam bawah sadarnya. Apabila hamaba Allah shalat, berdoa dan berdzikir, maka gelombang otaknya berada pada posisi Alpha dan Theta. Disinilah momen-momen perjumpaan dengan Sang Khalik (Allah), dan akan muncul suasana keheningan yang menggetarkan dan mendamaikannya.
Dalam frekuensi keikhlasan, seorang manusia akan memasuki hamparan kepasrahan total pada Sang Penciptanya. Juga rasa syukur, dan sabar yang mengalir ke dalam jiwa, dan merajutnya dalam butiran-butiran keyakinan positif keikhlasan dalam segenap jiwa raga secara utuh. Pancaran energi positif keikhlasan dan pikirannya (positif thinking), akan membantu orang tersebut menyelesaikan segala macam persoalan kehidupan.
Selain gelombang otak, di temukan juga dalam penelitian ilmiah. Di temukan adanya Zat endhorphin dalam otak manusia, yaitu zat yang memberikan efect menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Endhorphin adalah bahan boikimia alami yang di hasilkan otak pada saat seseorang melakukan olah raga. Ia dapat membuat seseorang bersemangat, tetapi tahukan endhorphin juga dapat di hasilkan ketika kondisi gelombang otak berada pada gelombang Alpha/Theta, dan juga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan daya ingat.
Gelombang Alpha dan Tetha yang menghasilkan zat endhorphin sangat baik untuk relaksasi. Untuk mengembalikan produksi endhorphin di dalam otak bisa dilakukan dengan meditasi, shalat yang benar atau melakukan dzikir, juga berdoa dengan khusyu sampai seseorang bisa sampai pada kondisi keikhlasan, yang memang dapat memberikan dampak ketenangan, ketentraman dan juga kedamaian.

Sesuai firman Allah dalam Hadist Qudsy :

“Sesungguhnya akau sesuai dengan prasangka hambaku.” ( Hadist Qudsy)

Pikiran  manusia (baik positif maupun negatif) adalah prasangka. Apabila seorang hamba Allah berfikir  positif maupun negatif, maka itu sesungguhnya adalah doa yang pancarkan tanpa sadar. Dan doa itu pasti akan di kabulkan. Jadi apabila seorang hamba berfikir (positif maupun nagative ), maka Allah akan mengabulkannya sesuai prasangkanya (baik positif/ negative).
Jadi apabila seorang hamba Allah, mengikhlaskan dirinya maka otomatis ia telah berpresangka baik dengan mempositifkan pikirannya. Semakin kuat pikiran positifnya, maka pikiran positif itu akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Pikiran positif itu juga akan menyebar di lingkungan sosialnya, di lingkungan budayanya, di lingkungan politiknya, di lingkungan ekonominya, dan di seluruh Alam Semesta ini. Aktifitas berfikir positif (keikhlasan) akan bernilai tinggi secara trasendental, juga akan memberikan dampak yang positif bagi hamba yang menjalaninya. Dan efect positif keikhlasan seorang hamba Allah, akan merasa langsung dan tercermin dalam prilaku sehari-harinya. Paling tidak hamba yang ikhlas, akan terlihat melaui pancaran resonansi gelombang otak yang terasa dari sorot mata dan wajah seseorang, keramahan dan kenyamanannya akan terasa.

1.2 Positif  Feeling (Mempositifkan Ruhani)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”
(QS. Al-Anfaal : 2)

“Apabila seorang hamba berkata : lahaula walquwwata ilabillah (tiada daya  dan upaya kecuali dengan Allah). Maka Allah menajwab, “Hai para malaikat-ku, hambaku telah ikhlas berpasrah diri, maka batulah dia, tolong lah dia, dan sampaikan (penuhi) hajat keinginannya.” (HR. Imam Jafar).

Keikhlasan seorang hamba Allah akan mempositifkan rohaninya. Ruhani dalam diri manusia adalah hal yang sangat vital, letaknya ada dalam segumpal daging bernama “Jantung”. Apabila segumpal daging ini sehat dan memancarkan energi positif, maka baik pulalah jiwa raga manusia. Sebaliknya apabila segumpal daging ini sakit dan memancarkan energi negatif, maka buruk pula lah jiwa raga manusia. Karena itu, ruhani manusia sangat lah penting peranannya dalam perubahan diri manusia.
Hamba yang ruhaninya suci penuh dengan keikhlasan, apabila disebut dan di dengarkan nama Allah maka ruhaninya akan bergetar. Apabila dibacakan firman-firman Allah, maka akan bertambahlah keimanan mereka, dan hanya kepada Tuhan lah mereka bertawakal. Hamba Allah yang ikhlas ruhaninya, akan menyerahkan dirinya secara utuh kepada Allah SWT. Karena tiada daya dan upaya yang mampu menolongnya, kecuali pertolongan Allah. Dan pada hamba-hambanya yang memenuhi segla hajat keinginannya, seperti katerangan hadist yang di riwayatkan Imam Jafar.
Seperti yang tadi di jelaskan, ikhlas adalah sebuah kepercayaan yang tinggi bahwa apa yang ada di hadapi manusia dalam hidupnya (baik masalah maupun hasil akhir usaha), memiliki nilai-nilai positif yang pasti akan membawa kebaikan. Ikhlas adalah sebuah energi perasaan ruhani yang sangat kuat, yang mampu merubah semua perasaan negatif menjadi perasaan ruhani yang positif dalam berbagai macam keadaan. Hamba Allah yang ikhlas akan senantiasa mengingat Allah di hatinya, karena dengan mengingat Allah hatinya akan tentram.
Mengikhlaskan ruhani ternyata memiliki kekuatan yang amat sangat luar biasa. Ilmu pengetahuan modern berhasil menemukan kekuatan ruhani manusia, para ahli saraf (neurolog) menemukan bahwa jantung manusia memiliki 40.000 sel saraf, hal tersebut membuktikan bahwa hati manusia ibarat otak yang berada dalam tubuh. Selain itu, para ilmuwan membuktikan bahwa hati manusia ibarat otak yang berada dalam tubuh. Selain itu, para ilmuwan juga menemukan bahwa kualitas elektromagnetik jantung, 5000 kali lebih kuat dari pada otak.
Dengan kata lain, apabila sesorang mengeluarkan enargi ikhlas dengan kekuatan pikirannya sebesar 1 watt (positif thinking), maka kemampuan energi ikhlas dengan kekuatan ruhani bisa di maksimalkan hingga 5000 watt. Coba bayangkan, seberapa besar kekuatan ruhani, untuk menyembuhkan penyakit dalam diri manusia, baik yang bersifat fisik maupun psikis.
Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa kekuatan sadar manusia itu hanya 12% dari total kekuatan, sebab 88% kekuatan manusia di kelola oleh kekuatan alam bawah sadar. Dan alam bawah sadar sesungguhnya memiliki hubungan yang erat dengan ruhani manusia, di sinilah pentingnya mengikhlaskan ruhani. Untuk memaksimalkan kualitas kehidupan, agar seseorang segera mencapai kesuksesan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Dan hal-hal di atas bisa di capai oleh manusia denga “IKHLAS”.

Sesuai Sabda Nabi  Muhammad SAW :

“Ingat kepada Allah itu menjadi obat mujarab, guna menyembuhkan segala penyakit hati.” (HR. Bukhari-Muslim)

Erbe Sentanu seorang pakar positive feeling mengemukakan, bahwa perasaan merupakan bagian paling mendasar pada diri manusia. Perasaan mempunyai gelombang yang pengaruhnya lebih besar di bandingkan pikiran. Orang yang berusaha berfikir positif, tetapi perasaannya belum positif maka keinginannya akan sulit tercapai. Berbeda ketika perasaannya belum positif, maka pikirannya akan ikut menjadi positif secara otomatis. Erbe pula menjelaskan bahwa perasaan yang positif (positive feeling), merupakan zona ikhlas yang jika senantiasa di jaga akan menarik hal-hal positif dari Alam Semesta. Dalam aplikasinya Positif Feeling keikhlasan, ada hukum daya tarik menarik (law of attraction) yang penting di pahami. Hukum Ketertarikan adalah hukum yang menjelaskan bahwa “Sesuatu akan menarik pada dirinya, segala hal yang satu sifat dengannya.” Pengertian sederhananya, diri kita itu merupakan suatu getaran yang terhubung di Alam Semesta ini, apabila seseorang memberikan sebuah getaran ke Alam Semesta (baik positif “Ikhlas” maupun negative), maka Alam Semesta akan memberikan getaran balik, dan mewujudkan kepada dirinya sesuai dengan getaran yang di berikan (baik positif  “Ikhlas” maupun negative).
Jika saeorang manusia dalam perasaan dan pikirannya memancarkan gelombang ketakutan, maka hal-hal yang menakutkan lah yang akan tertarik olehnya. Begitu pula jika yang di pancarkan adalah kegembiraan, maka yang tertarik pada dirinya adalah kegembiraan. Teori ini lah yang menjelaskan mengapa orang yang selalu mengeluh, menuntut, mengumpat, menghujat saat di uji justru semaikin sering mengalami kesialan, karena saat ia di uji lalu memancarkan energi negative tanpa sadar, sesungguhnya ia telah menarik, dan meminta kesialan tersebut. Sebaliknya orang yang selalu merasa beruntung dan menikmatinya (bersyukur), justru ia akan selalu mengalami keberuntungan, karena saat ia di uji lalu tetap memancarkan energi positif (bersyukur), dengan sadar atau tanpa sadar sesungguhnya ia telah menarik dan meminta keberuntungan pada dirinya. Kesimpulannya, perasaan dan pikiran yang positif (ikhlas), untuk mencapai kualitas hidup yang paling baik.
Jadi pikiran dan perasaan yang  terpancar ke Alam Semesta adalah doa, dan setiap doa itu pasti akan di kabulkan, oleh Dia (Allah ) yang Maha Mengabulkan doa.

Sesuai firmannya :

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (QS. AL-Mu’min : 60)

Pikirannya dan perasaan, baik dalam bentuk positif maupun negative adalah do’a. Dan Allah mengabulkan do’a hambanya sesuai apa yang ia pinta dan ia sangkakan (baik positif maupun negatif). Ingat, akrena setiap do’a pasti di kabulkan, amnusia harus berhati-hati dalam berdoa. Sebab ucapan, tindakan, dan perbuatan negatif yang terpancar dari dalam diri manusia, akan menjadi doa negative (keburukan) bagi dirinya, dan berdampak negative (buruk) pula bagi hidupnya. Sebaliknya ucapan, tindakan, dan perbuatan yang positif, akan menjadi doa yang positif dan pasti akan berdampak positif pula bagi kehidupannya.
Dengan ikhlas hamba Allah akan hidup dengan hati dan perasaan yang positif. Energi positif dalam diri hamba yang ikhlas akan memancar ke Alam Semesta, dan getarannya akan memantul ke setiap jiwa-jiwa yang bersentuhan dengannya, mendamaikan manusia dengan manusia lain, menyejukan lingkungan di sekitarnya, membahagiakan setiap insan yang memandnagnya, damenebarkan cinta di hati jiwa-jiwa yang cemas, gelisah, takut, khawatir, marah, kecewa, dan kesepian. Karena ikhlas akan mempositifkan dan menentramkan hati ruhani manusia.

1.3 Positif Doing (Mempositifkan Tindakan Jasmani)

“(1) Bukankah kami telah melapangkan untukmu dada Mu? (2) Dan kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, (3) Yang membuatkan punggung Mu?.”
(QS. Alam Nasyrah : 1-3)

Ikhlas mempositifkan tindakan manusia (Positif Doing), karena buah dari pikiran dan ruhani yang positif adalah tindakan yang positif. Prilaku yang positif otomatis akan membuahkan hasil yang positif, sebaliknya tindakkan yang negatif akan membuahkan hasil yang negatif. Ikhlas dalam berikhtiar akan mengarahkan hamba Allah pada tindakan dan perbuatan yang positif di ridahai Allah, apapun hasil akhir dari usaha yang ikhlas akan senantiasa ia pasrahkan kepada Allah SWT.
Segala ikhtiar hamba Allah yang Ikhlas akan di mudahkan, beban hidup yang menyempitkan dadanya akan di lapangkan, beban yang memberatkan punggungnya akan di mudahkan. Karena tindakan positif hamba yang ikhlas (Positif Doing) akan membawa hasil-hasil positif yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tindakan hamba Allah yang ikhlas akan sangat jauh dari tindakan-tindakan yang merusak, mendzalimi, negatif, dan dibenci Allah SWT.
Manusia modern di zaman ini, banyak yang menjalani hidup dalam “Kehampaan Spiritual”. Akibat dari “kehampaan Spiritual” tersebut terlalu banyak manusia modern yang hidup di dalam kadar stres yang cukup berat, emosi yang labil, hidup dalam ketakutan, rasa cemas yang berlebihan, mudah marah, sedih, dan panik. Akibatnya banyak manusia modern yang hisup dalam gangguan mental, yang dampak konflik kejiwaan tersebut mempengaruhi fisik manusia yang dapat menimbulkan penyakit fisik (psikomatis). Hal tersebut, berakibat pada ketidakbahagiaan hidup (krisis) manusia modern.
Stress adalah respon fisiologis, psikologis, dan prilaku dari seorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal maupun ekternal. Stress tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tetapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh.
Mulai kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat, penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi. Gula, kolesterol, dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah. Tekanan darah meningkat, dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak dan kadar kolesterol naik, maka hal tersebut dapat menunculkan masalah dan penyakit bagi tubuh manusia.
Saat di landa stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, hormon yang tidak seimbang akan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para ilmuwan di bidang ini menyatakan, pengkajian tentang stres kejiwaan dan raga menjelaskan, bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan tubuh dari berbagai penyakit termasuk kanker terkait dengan “Stres”. Kesimpulannya stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia, mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh manusia.
Ikhlas adalah air suci yang mampu menyembuhkan segala penyakit yang di akibatkan “Kehampaan Spiritual”, yang menjadi sumber penyebab stres yang menjangkit kehidupan manusia-manusia modern. Hanya dengan mengingat Allah lah manusia akan terasa tenang danntentaram. Jika seorang hamba Allah mengingat Tuhannya, maka ia  akan menyerahkan dirinya secara utuh sebagai makhluk kepada Sang Khalik, atas segala ketetapan yang di putuskan kepada-Nya. Sikap berserah diri tersebut akan menumbauhkan sikap ikhlas pada diri seorang hamba.
Ikhlas akan membuat seseorang menjadi tenang, rileks, ridha, bersyukur, bersabar, tawakal, tawadhu, hus’nudzon, positif, fokus, bijaksana, bahagia dan damai. Karena itu otot syarafnya tidak akan mengalami penyempitan pembuluh darah, kadar adrenalinnya dan hormon korsitolnya normal, alairan darahnya tidak akan kelebihan insulin. Ikhlas juga bisa mendatangkan ketenangan dan ketentraman yang mampu meningkatkan katahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan hidup.
Reaksi ikhlas manusia pada keseimbangan hormon kortisol, bisa di jelaskan secara ilmiah kedokteran. Respon emosional yang positif atau coping mecanism dari pengaruh “IKHLAS” ini berjalan mengalir dalam tubuh dan di terima oleh batang otak. Setelah di format dengan bahasa otak, kemudian di trasmisikan ke salah satu bagian otak besar yakni “Talamus”. Kemudian, talamus menghubungi hipokampus (Pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang di serap indera) untuk menkeresi GABA yang bertugas sebagi pengkontrol respon emosi, dan menghambat Acetylcholine, Serotonis, dan Neurotrasmiter lain yang memproduksi sekresi koertisol. Selain itu, Talamus juga mengontak prefrontal kiri-kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretonin dan norepinefrin. Setelah terjadi kontak timbal balik antara talamus-hipokampus-amigdala-prefrotal kiri-kanan, maka talamus mengontak ke hipotalamus untuk mengendalikan sekresi kortisol. Disinilah kondisi “IKHLAS” mempengaruhi kadar hormon kortisol seorang manusia.
Sikap ikhlas manusia dalam tindakan jasmaninya (Positif Doing), akan mormalkan dan mengembangkan kadar hormon kortisol dalam tubuh manusia. Hamba Allah yang ikhlas jiwa dan reganya akan senantiasa sehat secara fisik maupun psikis. Apaun aktivitas dalam hidupnya, enrgi positif akan selalu memancar dalam dirinya, tetapi juga akan menyehatkan jiwa orang-orang yang bersama dirinya. Keikhlasan akan membuat hati seorang hamba semakin tenang, lembut, jernih dan berenergi positif tinggi. Ia akan memiliki kecerdasan spiritual yang mampu menempatkan prilaku dan hidupnya adalam konteks makna yang lebih tinggi, luas, dan kaya nilai-nilai spiritual yang bersumber pada ilahiah. Kecerdasan  untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup, akan lebih bermakna positif baginya di Dunia mauapun di akhirat atau tidak “???”
Positif Doing dalam buah dari keikhlasan hati dan pikiran. Tindakan  yang positif yang bersumber dari nilai-nilai keikhlasan dan penghambaan kepada Allah SWT, kekuatan yang mampu merubah Peradaban Bangsa, ke arah Peradaban yang Rahmatan lil Alamin. Mempositifkan kehidupan manusia, baik dalam muamalah ekonomi, muamalah politik, muamalah pendidikan, muamalah seni dan budaya. Semuanya berlandaskan nilai-nilai keikhlasan untuk mencari keridhoan Allah.

B. Kunci Mendekatkan Diri Kepada Allah

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
(QS. Luqman : 22)

“Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAAILAAHAILLALLAAH (Tiada Tuhan Selain Allah), yang ditujukan hanya Allah semata-mata. “
(HR. Bukhari – Muslim)

“Tidaklah sekali-kali seorang hamba mengucapkan kalimat LAAILAAHA ILLALLAAH (Tiada Tuhan Selain Allah) dengan ikhlas (dari lubuk hatinya), melainkan di bukakan baginya semua pintu langit hingga tembus sampai ke ‘Arasy selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar.“
(HR. Tirmidzi)

“Orang yang ingat kepada Allah, adalah laksana orang yang hidup di tengah-tengah orang yang mati. “
(HR. Bukhari – Muslim)

“Orang-orang sedang berdzikir (mengingat Allah), seperti pohon yang rindang di tengah-tengah pohon kering. “
(HR. Bukhari – Muslim)

Ikhlas adalah langkah awal seorang hamba, apabila ia memiliki cita-cita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pintu pertama hamba untuk menggapai ridha dan cintanya Allah, adalah mengikhlaskan diri secara utuh menghamba kepada Allah SWT. Karena hamba yang ikhlas, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh kepada Allh SWT. Keikhlasan hamba dalam beribadah, akan mendekatkan dirinya dengan Allah. Yang mana tindakan tersebut akan mendekatkannya kepada ridha, cintaya, dan marifatnya Allah SWT.
Hamba Allah yang keikhlasannya istiqomah, hatinya akan selalu mengingat Allah dimana pun, kapan pun, dalam keadaan apapun. Karena hamba tersebut menyadari dan memahami, bahwa segala urusan apapun dalam kehidupannya harus ia kembalikan kepada kehendak dan ridhonya Allah. Hamba yang ikhlas tidak akan mudah terpancing oleh bujukan hawa nafsu dan pengaruh godaan setan, yang menjauhkannya dari keridhoan dan cintanya Allah.
Secara vertikal ikhlas memiliki pengaruh yang amat sangat luar biasa bagi manusia. Taqorrub Ilalallah (mendekatkan diri kepada Allah) tanpa di sertai keikhlasan hanya akan membawa kesia-siaan, sebaliknya taqorrub yang di sertai kaikhlasan akan mengangkat dirinya pada derajat ketaqwaan. Menenggelamkannya dalam lauatan kerinduan, dan kecintaannya kepada Allah SWT. Hingga ia mencintai apa yang Allah cintai, memnyayangi apa yang Allah sayangi, menyukai apa yang Allah sukai.

Rosullullah SAW bersabda :

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi (harta) karena Allah, dan menahan karena Allah, makanya menjadi sempurna.” (HR. Abu Daud)

“Rosullullah SAW berdoa : ya Allah izinkan aku mencintaimu, dan mencintai orang-orang yang mencintaimu, dan mencintai apa saja yang mendekatkanku pada Cintamu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keikhlasan hamba Allah, akan membuka pintu bagi dirinya untuk memasuki ruang kecintaan dan penghambaan kepada Allah SWT. Ikhlas adalah kunci seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama hamba Allah yang ingin mencapai tingkatan marifatullah, gambaran tersebut akan penulis jelaskan dalam bagan di bawah ini:

Tujuan akhir hamba Allah yang ikhlas secara vertikal adalah melakukan perjalanan spritual, untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, inilah esensi cita-cita dari Marifatullah (Mengenal Allah) yang sesungguhnya. Sementara tahapan-tahapan yang harus di lalui ada beberapa tingkatan, mulai dari mengikhlaskan diri untuk bertaubat kepada Allah. Kemudian zuhud, agar Allah senantiasa mawas diri. Lalu bersabar untuk menguasai dan mengendalikan diri dari hawa nafsu. Lalu membersihkan diri secara total kepada Allah dalam keridhoan dan kehendak yang telah Allah tetapkan kepadanya.
Tahap berikutnya bagi hamba Allah yang akan mencapai marifatullah, dirnya akan terbenan dalam lautan kerinduan dan kecintaanya kepada Allah. Apabila hamba tersebut melantunkan kalimat Lailahaillah dalam dzikirnya, maka apabila bacaan tersebut dilantunkan secara kontinyu akan menenggelamkan hatinya dalam Marifatullah, hingga ia merasakan manfaat dan buah dari dzikir-dzikirnya yang menentramkan hati.
Dalam kehidupan sehari-hari hamba Allah yang mencapai Marifatullah, akan timbul padanya akhlak dan moral yang baik, yang juga akan memunculkan kemuliaan baik di hadapan manusia, terlebih di hadapan Allah. Hatinya akan hilang dari kecenderungan hati yang mengtuhankan terhadap materi/duniawi, dan lenyapnya ia dari ketergantungan kepada selain Allah SWT. Tetapi kecintaannya kepada Allah, membuatnya selalu di berkahi Allah oleh karunia dan rezeki hingga hidupnya selalu merasa cukup dan penuh keberkahan.
Dalam hidup hamba yang ikhlas, kesucian hatinya akan terpancar melalui prilakunya yang mengarah kepada kebaikan. Pada yang lebih tinggi menghormati, hidup rukun, dan saling menghargai. Pada yang sesama derajat, dalam segala interaksinya tidak sampai menimbulkan persengketaan. Sebaliknya selalu bersikap rendah hati, bergortong royong terutama dalam melaksanakan perintah Allah. Terhadap orang yang keadaannya di bawah dirinya, ia tidak akan menghinakan, melecehkan apalagi berbuat senonoh, dan angkuh. Sebaliknya ia akan berbelas kasihan dengan kesadaran, agar mereka hatinya senang, gembira, tidak merasa takut apalagi tersayat-sayat hatinya. Sebaliknya dengan lemah lembut ia akan memberikan nasihat yang lemah lembut untuk memberikan kesadaran, dan pencerahan untuk kembali kepada jalan yang di ridhai Allah SWT.
Sesuai firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an :

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah : 2)
Dzikir adalah cara yang paling efektif seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, hingga ia mencapi maqam Marifatullah. Dizikir adalah cara yang paling mudah dan paling efektif untuk mengingat Allah, dzikir juga bisa di anggap sebagai pintu gerbang utama untuk mencapai penghayatan makrifat, pada Sang Pencipta Alam Semesta “Allah SWT”.
Ibnu Athaillah menjelaskan keutamaan Dzikir dalam Al-Hikam:

“Allah menganugrahkanmu tiga kemuliaan; pertama, dia membuatmu ingat kepada-Nya, kalau bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas atas melimpahnya zikir kepada-Nya dalam dirimu. Kedua, Dia membuatmu di ingat oleh-Nya, karena Dia menguatkan hubungan-Nya denganmu. Dan yang ketiga, Dia membuatmu di ingat di sisi-Nya, maka Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.”
Orang-orang yang berdzikir, cahaya dzikirnya akan menerangi  hatinya. Hati mereka akan di sucikan oleh Allah SWT, dan mereka adalah orang-orang yang tercerahkan ruhaninya. Hamba Allah yang ikhlas hatinya akan di getarkan ketika membacakan asma-asma Allah, dan mereka mendapat ilham dan perasaan akan kehadiran Allah. Semakin hamba Allah sering berdzikir, maka dzikir itu akan membersihkan hatinya, hingga cahaya dan nikmat Allah turun kepada-Nya. Hati, pikiran dan lidah mereka akan selalau di arahkan menuju Sang Pencipta Allah.

Sesuai Firman Allah SWT :

“(39.)Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).(40.) Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaaf :39-40)

Membaca dzikir dan doa merupakan ekspresi ibadah dan ketaatan seorang hamba yang ikhlas. Dzikir dan doa adalah pengakuan atas kelemahan dan keinginan hamba untuk menyaksikan kehadiran-Nya. Balasan dzikir ada di Akhirat nanti, sedangkan dalam kehidupan Duniawi, balasan hamba yang berdzikir berupa petunjuk yang benar dalam melaksanakan kewajiban secara bagus. Mula-mula adalah rasa ikhlas, lalu doa-doa yang akan menghasilkan rahmat-Nya yang melimpah, lebih baik dari yang ia harapkan di Dunia maupun di Akhirat.
Doa, muanjat, dzikir, dan seluruh tindakan pengabdian kepada Allah SWT, sangat efektif apabila di laksanakan dengan keikhlasan hati, karena akan membuat hamba yang menjalankannya merasa damai, suci, dan hadir. Dan hamba ikhlas harus tetap konsisten melaksanakan pengabdiannya, kendati ia di ganggu dan di goda Syetan. Pencerahan dan kesadaran dalam berdzikir mempunyai derajat-derajat dan tingkatan-tingkatannya. Satu tingkatan saja, akan mengantarkan hamba tersebut pada tingkatan yang lebih tinggi.
Dan keadaan akhir yang di inginkan hamba Allah yang berdzikir adalah kesadaran bahwa hanya Allah lah sumber dari semua sumber makhluk dan eksistensi kehidupan. Kesadaran tersebut merupakan tujuan dan maksud akhir dari semua praktik spiritual, yakni menyadari bahwa Dialah Allah, sumber Pelihara Kekuasaan Alam Semesta dan segala isinya.
Ibnu Athaillah juga menjelaskan, tahapan-tahapan spiritual dalam berdzikir :

“Jangan tinggalkan dzikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi kepada Allah ketika berdzikir. Karena kelalaianmu (Terhadap Allah) ketika tidak berdzikir lebih buruk ketimbang kelalaianmu ketika berdzikir. Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari dzikir yang penuh kelalaian menuju dzikir penuh kesadaran, dan dari dzikir penuh kesadaran menuju dzikir yang di semangati kehadiran-Nya, dan dari dzikir yang di semangati kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala selain-Nya.”
Sesuai firman-Nya :

“Dan yang demikian itu, bagi Allah tidaklah sukar.” (QS. Ibrahim :20)

Karena itu hendaklah berdzikir dengan penuh keikhlasan, apabila hamba Allah ingin mencapai marifatullah. Dan tetap konsisten dalam keikhlasan hingga  hamba tersebut memperoleh keyakinan mutlak akan keesaan Allah, dan tenggelam dalam dirinya. Puncak tertinggi keikhlasan seorang hamba ialah ketika ia mengesakan ketuhanannya hanya kepada Allah, lalu mengesakan segala perbuatan-perbuatan Allah, lalu mengesakan sifat-sita Allah, hingga hemba tersebut mengesakan Dzat Allah. Bahkan sampai titik dimana hemba tersebut memandang, bahwa Allah SWT berada pada segala sesuatu.
Titik dimana hamba Allah hanya bisa berucap “Lahaula Walaquwwata illabillah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali pertolongan Alah).
Dialah Tuhan yang memenuhi kebutuhan makhluknya, Tuhan tempat menyampaikannya segala maksud, Tuhan yang mampu menolak segala cobaan, Tuhan yang mampu menyembuhkan hambanya dari segala penyakit, Tuhan yang Maha Mengabulkan segala doa, Tuhan yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan yang mennaggung kebutuhan makhluk, yang terbaik dalam memelihara, yang terbaik pula dalam memberi pertolongan. Dan izinkan lah hamba-hambamu yang penuh kekhilafan dan dosa ini, menjadi hamba-hamba yang mampu mencapai keridhoan, cinta dan makrifat kepada-Mu. (AMIN!!!)

 

Tentang gatotaryo17

Saya Penulis novel Mimpi Bulan & The Jilbab Code?!, Aktif menjadi Moderator Komunitas Coretan, sarang para penulis muda. Juga Bekerja Sebagai Desain Grafish di Perusahaan Property Lihat semua tulisan milik gatotaryo17

One response to “Buku Keajaiban Ikhlas, Bab 5. Keajaiban Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: