Buku Keajaiban Ikhlas, Bab 4. Hakikat Ikhlas

Buku Keajaiban Ikhlas

Penulis : Muhammad Gatot Aryo

Bab 4. Hakikat Ikhlas

“Semakin seseorang mencari kesempurnaan hidup, maka kehidupannya semakin tidak akan sempurna. Sebab kesempurnaan hidup itu ada, saat seorang hamba berserah diri secara total pada Allah SWT, dalam ketidak sempurnaan hidupnya…”
(Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini)

Kesempurnaan hidup adalah hal yang paling cita-citakan, dan di impikan setiap manusia di Dunia ini. Kesempurnaan hidup  setiap orang berbeda-beda, karena setiap manusia memiliki cita-cita dan keinginan masing-masing. Artinya kesempurnaan hidup manusia tergantung seberapa besar pencapaian hidupnya atas cita-cita, dan harapan hidupnya di Dunia. Apabila cita-cita dan harapannya tak sesuai dengan pencapaian hidupnya maka hidup seorang manusia tidak akan merasa sempurna. Dia kan kecewa, tidak bahagia, putus asa, tidak ada kepastian, menderita, tidak di perlakukan adil, hingga memaki dan menghujat Tuhan. Padahal mungkin apa yang telah ia capai, tak seburuk yang ia pikirkan. Hanya mungkin beberapa hal yang di inginkan, tak seratus persen berhasil ia dapatkan, walaupun perjuangannya sudah maksimal.
Sesungguhnya hakikat kesempurnaan hidup bukanlah pada apa yang seseorang capai atau dapatkan dalam hidupnya, tetapi letaknya pada apa yang ia ikhlaskan dan ia syukuri. Karena saat seseorang mampu mengikhlaskan dan mensyukuri apa yang ia capai, dan menyerahkan segala ketentuan takdir pada kehendak Allah. Maka saat tiu hidupnya sesungguhnya telah sempurna, karena Allah hanya akan menolong hamba-hambanya yang berserah diri.

Sejalan dengan ungkapan Ibn Athaillah dalam Al-Hikam :

“Apa pun bersandar pada kehendak Allah SWT, sementara kehendak Allah tidak bersandar pada apapun.”

Ketika seorang hamba bergantung dan menyadarkan hidupnya pada kehendak Allah, maka saat itu sesungguhnya hidupnya telah sempurna. Sebab apapun yang Allh kehendaki tak ada satupun kekuatan yang mampu menghalanginya. Dan Allah hanya memberikan rehmatnya pada hamba-hambanya yang berbuat baiak. Bersabar saat di uji, dan bersyukur saat karunia nikmat datang kepadanya, adalah sikap hamba Allah yang ikhlas. Ia juga kan berikhtiar semaksimal mungkin dengan cara-cara yang baik, tapi ia juga tak lupa menyerahkan segala ketentuan akhir pada kehendak Allah.
Sesungguhnya Allah SWT itu adalah Tuhan yang Maha Berdiri sendiri, sementara segala makhluk di muka Bumi ini hanya bergantung pada Allah. Apabila penyadaran atas penyerahan diri seorang hamba Allah sempurna, maka pengetahuan tentang Zat-Nya yang esa akan bangkit dari dalam hatinya. Keputusan, kebutuhan dan perbuatannya adalah bagian dari kehendak dan rencana Allah SWT. Tuhan segala yang kasat mata dan kasat mata, yang menguasai masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. AL-Baqarah : 105)

Tidak ada satu pun kejadian yang terjadi di Muka Bumi ini, kecuali atas izin dan kehandak Allah. Tetapi bukan berarti hal tersebut membuat seseorang malas berusaha, diam tak bergerak, menunggu nasib yang datang padanya. Sebab dengan kehendak-Nya pula lah, bila seorang hamba ingin memperoleh rahmatnya-Nya ia harus berikhtiar ke arah kebaikan. Artinya hamba tersebut harus bergerak menjalankan perintah-Nya, mejauhi segaloa larangan-Nya, mencari nafkaf yang halal dan baik, hingga rahmat dan karunia Allah menghampiri hamba tersebut.

Sesuai firman-Nya :

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. A’ Raaaf : 56)

Menyatukan kehandak hamba dengan kehendak Allh, adalah hakikat sesungguhnya keikhlasan. Apa-apa yang di cintai olah Allah SWT, maka hamba itu pun akan mencintainya. Sebaliknya apap yang di benci oleh Allah SWT, maka hamba itu pun akan membencinya. Pada akhirnya, ikhlas atau tidak ikhlasnya seorang hamba di tentukan oleh 3 hal.
Pertama, kemurnian niat dan tujuan seorang hamba semata-mata hanya pada Allah SWT. Kedua, penyerahan diri seorang hamba Allah secara total, atas segala ketantuan dan kehendak Allah SWT. Dan yang ketiga, Bersyukur dan Bersabar di segala keadaan. Baik senang maupun sedih, lapang maupun sempit, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sukses maupun gagal. Saat ujian kelapangan, kekayaan, kesehatan, kebahagiaan, kenikmatan dan cinta ia sikapi dengan rasa syukur kepada Allah. Sebaliknya juga saat musibah datang, ia hadapi dengan bersabar kepada Allah SWT.

A. Memurnikan Niat Dan Tujuan Kepada Allah

Memurnikan niat dan tujuan kepada Allah adalah tahapan pertama seorang hamba apabila ingin belajar mencapai kondisi ikhlas. Niat dan tujuan amat menentukan kualitas amal perbuatan seorang hamba Allah, apabila niat dan tujuannya buruk maka amal perbuatannya pun di pastikan akan buruk, seindah apapun kemasannya.
Niat dan tujuan  amat menentukan arah tindakan seseorang. Anggota DPR yang niat dan tujuannya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil, berbeda perbuatannya dengan anggota DPR yang niat dan tujuannya sekedar mencari kekuasaan dan memperkaya diri (korupsi). Lelaki yang mendekati wanita dengan niat dan tujuan menikah secara baik-baik, berbeda dengan lelaki yang niat dan tujuannya mendekati wanita utuk berbuat  maksiat.
Hamba Allah yang niat dan tujuan hidupnya hanya sekedar memenuhi hawa nafsunya, berbeda dengan hamba Allah yang niat dan tujuan hidupnya utuk mencari keridhoan Allh. Karena itu, niat dan tujuan seseorang, sangat menentukan ikhlas tidaknya seseorang tersebut.
Karena itu, hal pertama yang di lakukan seorang hamba ikhlas adalah memurnikan niat dan tujuan hidupnya hanya untuk  mencari keridhoan Allah. Saat ia beribadah, ia niatkan tujuan ibadahnya hanya kepada Allah. Juga saat ia bekerja, niat dan tujuan bekerjanya hanya untuk mencari keridhoan Allah, akan selalu menjaga tindakannya pada hal-hal yang disukai Allah, dan akan menjauhi pada hal-hal yang di benci Allah SWT.
Hamba yang ikhlas, akan menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman hidupnya. Jiwa raganya, akan ia fokuskan pada tindakan yang mendatangkan cinta dan marifatnya Allah. Bukan tindakan-tindakan yang membuat ia semakin terbudaki oleh nafsu Duniawi, seperti harta benda, yang membuat ia semakin terbudaki oleh nafsu Duniawi, seperti harta benda, kekuasaan, dan libido. Tindakan-tindakan yang semakin menjauhinya dari Allah akan di bencinya, karena niat dan tujuan hidupnya semata-mata hanya untuk Allah.
Hamba Allah yang ikhlas, akan selalu menjaga kemurnian niat dan tujuan hanya kepada Allah SWT. Hatinya akan selalu ia jaga dari pada hal-hal yang membuat ia semakin menghamba pada hal-hal selain Allah. Harta benda, keluarga, dan popularitas tidak ia jadikan tujuan hidupnya, tetapi hanya alat untuk mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu ridho dan cintanya Allah SWT.
Seperti air susu yang berada diantara tahi dan darah, susu tetap terjaga kemurniannya tidak bercampur anatara tahi dan darah, susu tetap terjaga kemurniannya tidak bercampur antara tahi dan darah. Kemurnian niat dan tujuan kepada Allah, dan tidak bercampur atas hal-hal lain selain Allah adalah hakikat Ikhlas yang sesungguhnya.

Rosullullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali amal perbuatan yang diniatkan dengan ikhlas demi meraih ridha-Nya. “ (HR. Nasa’i)

“ Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat!. dan setiap orang hanya memperoleh menurut apa yang di niatkan. Barang siapa hijrahnya pada dunia yang ingin di dapatkannya, atau wanita yang hendak di nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang di tujunya. “ (HR. AL-Bukhay, Muslim, Abu Daud, At-Tirmiday, dan An-Nasa’i)

Segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan hanya amal yang diniatkan dengan ikhlas dan mencari keridhaan Allah lah yang akan di terima di sisi Allah. Tetapi niatnya telah terkotori, dan keikhlasan hamba tersebut di ragukan. Seperti pendapat Al-Ghazali tentang ikhlas :

“Ketahuilah bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu selainnya. Jika bersih dari percampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang pernah dan murni disebut ikhlas“

Sesuai firman Allah :

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl : 66)

Ikhlas adalah sebuah kemurnian niat, ucapan, tindakan, dan perbuatan yang benar-benar di tujukan untuk mengharap keridhaan Allah SWT. Cuma Allah tujuannya, bukan yang lain, tak boleh bercabang, tak boleh ternodai oleh tujuan-tujuan yang lain. Kalau bercampur atau bercabang, apapun tindakannya, keikhlasannya atau luntur, dan tidak diterima oleh Allah. Selain itu, ternyata ikhlas menempati posisi penting dalam beragama.

Sebab menurut AL-Ghazaly:

“Semua orang itu binasa kecuali orang-orang yang berilmu, dan orang-orang berilmu juga binasa kecuali orang yang mengamalkannya, dan para pengamal juga akan binasa, kecuali orang-orang yang ikhlas”.

Artinya, sebanyak apapun ilmu dan amal yang manusia lakukan dalam kehidupannya tak ada gunanya, kecuali ada keikhlasan di dalam hatinya. Ilmu dan amal  seseorang akan menjadi tak berguna bahkan sia-sia apabila tidak ada keikhlasan dalam ilmu dan amalnya.

Sebagian ulama juga berpendapat:

“Ilmu itu laksana benih, Amal perbuatan itu laksana tanaman, dan airnya adalah Ikhlas.”

Amal tanpa ikhlas di ibaratkan raga tanpa jiwa, raga tak akan berguna tanpa jiwa yang memberikan makan dan arti. Begitu pun amal perbuatan seoarang hamba tak akan memiliki makna dan arti, tanpa keikhlasan.
Untuk menanam, menumbuhkan, dan merawat pohon keimanan. Seorang hamba harus menanam benih ilmu yang bersumber pada Al-Qur’an dan hadist, lalu mengamalkannya me lalui amal ibadah maupun amal muamalah dengan memurnikan tujuan hanya kepada Allah, lalu menumbuhkan dan merawatnya dengan air keikhlasan, yang akan mengokohkan keimanan seorang hamba Allah, hingga memperoleh cinta dan makrifat-Nya Allah.

Sesuai dengan pernyataan hadist qudsy :

“Allah berfirman ; kecintaan-Ku layak di miliki orang-orang yang saling mencintai karena aku, kecintaan-Ku layak dimiliki orang-orang yang saling menyembung tali persaudaraan karena Aku. Kecintaan-Ku layak dimiliki orang-orang yang saling memberi nasihat karena Aku, kecintaan-Ku layakdi miliki orang yang saling memberi (Shadaqah) karena Aku. Orang-orang yang saling mencintai karena Aku berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yang kedudukan mereka sama dengan kedudukan para Nabi, Shiddiqin, dan Syuhada.” (Hadist Qudsy, riwayat Ahmad dan Ath-Thabrany)

Dari abu Ummah, Rosullullah juga bersabda:

”Barang siapa mencintai karena Allah, emmbenci akrena Allah, memberi (shadaqah) karena Allah, dan menahan diri akrena Allah, amak imannya menjadi sempurna.” (H.R Abu Daud)

Jadi hakikat ikhlas adalah menurnikan niat dan tujuan tindakan apapun hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Baik pada amal ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan shadaqah. Juga pada amal muamalah seperti aktivitas Sosial, Budaya, Ekonomi, Politik, Pendidikan dan Seni.

1.1 Mengawali Seseatu Dengan Bismillah

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
(QS. AL-Fatihah : 1)

Niat dan tujuan kepada Allah, harus selalu di ingatkan dan di murnikan setiap waktu, juag di segala keaadaan. Sebab potensi melencengkan keikhlasan niat dan tujuan seseorang, akan selalu mengntai melalui hawa nafsu dan tipu daya syetan. Karena itu seorang hamba harus senantiasa mengontrol niat dan tujuannya, hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Agar ke ikhlasan di hatinya senantiasa terjaga, tak mudah di goyang, dan tetap kokoh berdiri hanya kepada Allah SWT.
Cara termudah agar seorang hamba mampu manjaga keikhlasan di hatinya adalah dengan mengawali segala aktifitas dalam kehidupannya baik ibadah maupun muamalah dengan ucapan “Bismilah” (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lag Maha Penyayang). Ketika seorang akan tidur, maka ia akan mengawalinya dengan ucapan bismillah. Saat hamba tersebut akan mulai bekerja , maka ia akan mengawalinya dengan ucapan Bismillah.
Mangawali setiap aktifitas dengan Bismilah, akan membuat aktifitas hamba bernilai ibadah, dan hal tersebut merupakan  ciri-ciri hamba Allah yang ikhlas. Hamba yang ikhlas akan mengawali segal langkah, dan tindak-tanduk dalam hidupnya sebelum ia ambil keputusan, ia kembalikan terlebih dahulu kepada Allah. Sebab apa bila sebuah tindakan telah di ridhai Allah, di cintai Allah, dan Allah tidak membencinya. Paling tidak di pastikan tindakannya tersebut, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist. Sebab apabila sebuah tindakan yang di benci Allah, walaupun di awali dengan Bismillah, maka ucapan itu tetap sia-sia.
Mnusia itu di wajibkan shalat oleh Allah hanya 25 menit sehari, apabila sekali shalat menghabiskan waktu 5 menit. Ibadah puasa hanya 30 hari setahun, ibadah zakat setahun sekali, dan ibadah haji hanya seumur hidup sekali. Di luar itu, hamba Allah di berikan waktu yang luas dan banyak sekali untuk beribadah serta mencari ridha Allah SWT. Kalau ibadah shalat hanya  25 menit sehari, berarti ada 23 jam 35 menit waktu yang tersisa, dan waktu luang itu sangat luar biasa bila di pergunakan untuk mengejar makrifat dan cintanya Allah.
Sungguh lalai manusia yang hanya mengandalkan ibadah wajibnya untuk menghadap Allah di akhirat nanti. Apalagi kalau hamba tersebut  menyadari, ibadah wajibnya masih belum sempurna. Kalau seorang hamba menyadari pencapaian penghambaannya, dan merasakan ibadah wajibnya masih belum cukup untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah. Maka hendaklah hamba tersebut memperbanyak Ibadah dan pengabdian lain di luar ibadah wajib.
Manfaatkan 23 jam  35 menit sisa waktu yang di berikan Allah untuk memperbanyak pengabdiannys, dengan memurnikan  niat dan tujuan setiap aktifitasnya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Sebab ketika sebuah amal di niatkan karena Allah dengan mencari keridhoan Allah SWT. Dan di niatkan karena Allah dengan bismillah, maka amal tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah. Tetapi sebaliknya, apabila amal perbuatannya di niatkan hanya untuk menyombongkan diri, atau sekedar memenuhi hawa nafsunya, maka amalnya itu sia-sia di mata Allah, walaupun amalnya itu berupa shalat, puasa, dan zakat.
Karena itu ikhlas amat sangat penting, untuk mengawali segala aktifitas manusia dalam kehidupan, baik ibadah maupun muamalah. Dengan ikhlas, ibadah, dan muamalah apapun yang di kerjakan manusia pasti akan bernilai ibadah di sisi Allah. Tetapi ibadah dan muamalah apapun yang di kerjakan dengan niat kesombongan atau hawa nafsu, maka amalnya tersebut akan sia-sia, bagai debu-debu yang berterbangan.

Sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 264)

Mengawali segala aktifitas dan perbuatan dengan “Bismillah”, sangat penting untuk menjaga keikhlasan  seorang hamab dalam ber amal. Sebuah kata sederhana “Bismillahirrormanirrohim” (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), tapi memiliki  makna yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Bahkan bisa jadi kebiasaan mengawali aktifitas dengan “Bismillah” secara ikhlas, akan menyelamatkan hidup hamba Allah tersebut di Akhirat nanti.
Para Ulama menjelaskan keistimewaan “Bismillah” ini begitu menakjubkan. Di terangkan bahwa inti dari Al-Quran yang terdiri 6666 ayat, 114 surat, dan 30 juz itu ada di dalam surat Al-Fatihah. Dan inti dari surat Al-Fatihah, terdapat pada ayat pertamanya. Yanga berbunyi “Bismillah hirrormanirrohim” (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Jadi kalau hamba Allah bisa memahami makna “Bismillah”, maka ia akan otomatis memahami makana surat Al-Fatihah. Dan apabila hamba Allah tersebut telah memahami makana surat Al-Fatihah, maka otomatis ia pun akan mudah memahami 666 ayat dalam Al-Qur’an baik secara tersurat maupun tersirat.
Dan hakikat “Bismillah” adalah “ikhlas”, hamba yang senantiasa ikhlas hatinya, akan selalu memurnikan niatnya kepada Allah pada semua aktifitas hidupnya. Ikhlas akan membawa ketentraman dalam segala aktifitas hidupnya. Apapun hasil yang di tetapkan Allah melalui usahanya, hamba tersebut akan ia terima dengan ikhlas. Keikhlasan menerima segala hasil yang Allah tetapkan, akan membeuat hamba Allah tersebut tentram hatinya.
Ketentraman tersebut akan membuat hamba tersebut menjalanai hidup dengan pikiran, hati dan tindakan yang positif. Menebarkan nilai-nilai positif dalam kehidupan, sekaligus memancing umpan balik energi positif dalam lingkungan kehidupan hamba tersebut. Orang yang hatinya ikhlas, akan senantiasa menjalani hidup dengan tentram dan positif.

Sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya, dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?.” (QS. An-Nisa : 125)

1.2 Memperbaharui Ikhlas Dengan Mengingat Allah

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Rad : 28)

Ikhlas itu tidak mudah, butuh perjuangan dan istiqomah untuk mancapainya. Setiap manusia mungkin pernah berada dalam kondisi ikhlas, tetapi tak lama kemudian ujian hidup membawa kemabali dirinya dalam hawa nafsu dan keosmbongan. Jadi keikhlasan itu harus senantiasa di jaga, dan menjaga keikhlasan itu lebih sulit dari mencapai ikhlas itu sendiri. Mencapai kondisi ikhlas itu tidak semudah membalikkan dua belah tangan, karena hanya orang-orang yang telaj mencapai keilmuan yang utuh kepada Allah lah, yang dapat derajat keikhlasan.
Karena itu, ikhlas harus selalu di jaga dan di perbaharui, agar keikhlasan itu tidak hilang dan luntur. Cara memperbaharui ikhlas yang ampuh, Cuma dengan satu cara yaitu “Mengingati Allah”. Sebab sesuai firman Allah, hanya dengan mengingat Allah lah hati seorang hamba menjadi tentram dan damai. Mengingat Allah di setiap waktu akan membuat seorang hamba senantiasa ikhlas, dan keikhlasan akan membuat hatinya tentram. Hamba Allah yang selalu mengingati Allah, hatinya akan selalu tentram di sepanjang waktu.
Hamba Allah yang ikhlas, akan selalu memperbahrui keikhlasannya dengan mengingat Allah SWT di setiap detik. Hamba hamba tersebut akan selalu menjaga hatinya, agar tidak ada sedikit pun  dalam hidupnya dirinya melupakan dari mengingat Allah. Hamba yang ikhlas sesungguhnya adalah, hamba yang selalu menjaga hatinya untuk selalu mengingat Allah.
Bukan hanya di dalam shalat saja ia mengingat Allah, setelah shalat pun ia harus selalu menjaga hatinya utnuk selalu mengingat Allah. Dimanapun ia berada, dalam keadaan apapun hidupnya, dalam situasi sesulit apapun ujian hidupnya, hamba tersebut akan selalu menjaga hatinya utnuk selalu mengingat Allah. Karena hanya dengan mengingat Allah lah, keikhlasan seorang hamba dapat terjaga dan di pelihara dari segala bentuk tipu daya setan, tipu daya orang-orang kafir dan munafik, dan perbudakan hawa nafsu dalam diri manusia.
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’:103)
Allah memerintahkan  pada hamba-hamba yang beriman dan ikhlas untuk selalu mengingat Allah (Dzikrullah) setelah shalat. Baik saat berdiri, dududk, dan berbaring. Dimana pun dan kapan pun hamba yang ikhlas harus memperbanyak bertasbih kepada Allah baik pagi hari maupun sore hari. Dan jangan lah hamba-hamba tersebut masuk ke dalam golongan orang-orang yang sering lupa hatinya kepada Allah.
Dalam ayat lain, Allah juga berpesan pada hamba-hamba yang beriman, jagalah dirimu jangan sampai harta benda, istri, dan anakmu membuat kamu lupa untuk mengingat Allah (Dzikrullah). Karena orang-orang yang demikian termasuk orang-orang yang rugi, merka di bodohi oleh tipu day setan dan hawa nafsu, saat mereka lupa pada Dzikrullah, lambat laun mereka akan menjadi tentara-tentara syetan, dan sesungguhnya menjadi orang-orang yang nyata merugi.

Sesuai firman Allah:

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiquun : 9)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. AZ-Zumar :22)

Mengingat Allah (Dzikrullah) adalah tugas mulia yang amat sangat penting bagi hamba-hamba Allah yang Ikhlas. Mustahil seorang hamba mencapai nilai-nilai keikhlasan apabila hatinya membatu kepada mengingat Allah. Karena itu bagi hamba Allah yang ingin mencapai hakikat ikhlas, bertasbih lah kepada Allah selalu dengan memujinya di waktu pagi, petang, siang maupun malam.

Sesuai firman Allah:

“(39.) Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya). (40.) Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaff : 39-40)

B. Berserah Diri Secara Total Kepada Allah

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
(QS. Luqman : 22)

“Semakin seorang manusia mencari kepastian hidup, maka hidupnya akan semakin tidak akan pasti. Sebelum ia berserah diri secara total kepada Allah SWT, dalam ketidak pastian hidupnya.”
(Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini)

Terkadang dalam kehidupan, manusia selalu ingin mencari kepastian di dalam hidupnya. Untuk memperoleh kepastian itu, manusia melakukan berbagai macam cara untuk mencapai kepastian tersebut. Seperti kepastian rezeki, kepastian karir, kepastian jodoh, kepastian keselamatan, kepastian kebahagiaan, kepastian dicintai, sampai kepastian tidak dikhianati pasangan. Tapi dalam kenyataannya, semakin seseorang berusaha memastikan kepastian tersebut, yang terjadi justru kepastian tersebut semakin tidak pasti. Akhirnya manusia tersebut semakin hidup dalam ketidakpastian, dalam perncarian kepastian-kepastian tersebut.
Ternyata penyebab ketidakpastian tersebut, disebabkan manusia tersebut salah menggunakan cara dan langkah untuk mencapai kepastian-kepastian tersebut. Manusia terkadang terlalu mengandalkan usaha dan kerja kerasnya sendiri untuk mencapai sebuah kepastian, dan sedikit menafikan aspek doa yang hanya akan datang kepada dirinya, di saat manusia tersebut berserah diri secara total kepada Allah SWT dalam ketidakpastian hidup.“???”(coba evaluasi keberhasilan-keberhasilan dalam hidup anda?)
“Kenapa begitu?”, Karena sesungguhnya Allah hanya akan memberi pertolongan hambanya yang berserah diri dalam berbuat kebaikan. Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat sangat dekat bagi hamba-hambanya yang berserah diri. Karena itu apabila seorang hamba ingin mudah mencapai kepastian hidup, maka hendaklah ia ikhlas dengan berserah diri, bertaqwa, dan bertawakal kepada Allah.

Sesuai Firman-Nya:

“(2.)…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(3.) Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaaq : 2-3)

Di zaman modern ini manusia mudah sekali melalaikan keberadaan dan kekuasaan Allah. Terutama ketika banyak manusia-manusia modern terlalu mengagung-agungkan kemewahan materialisme, yang membuat mereka menafikan aspek-aspek spiritual ketuhanan. Dan dampaknya, pentuhanan “Materi” tersebut berakibat pada kerusakan moral, kekeringan jiwa, dan kelumpuhan vitalitas dalam manusia. Sebenarnya “Materi itu apa sih?” dan seberapa besar pengaruhnya dalam kehidupan manusia, di bandingkan Allah SWT. Ilmuwan Besar Abad 21 Harun Yahya membongkar ini dalam risetnya, beliau membongkar secara ilmiah modern, hakikat materi yang sesungguhnya “???”.
Seseorang yang sungguh-sungguh dan bijaksana biasanya senang merenungi Alam Semesta yang di huninya, galaksi-galaksi, planet-planet, keseimbangan-keseimbangan di dalamnya, daya tarik-menarik dalam struktur atom, keteraturan yang ditemuinya disegenap pelosok Semesta, tak terhitung spesies di sekelilingnya, cara spesies-spesies itu hidup, bakat-bakatnya yang mengagumkan, dan akhirnya, tubuhnya sendiri, akan seketika menyadari bahwa ada sesuatu yang luar biasa tentang semua hal itu. Ia akan dengan mudah memahami bahwa tatanan sempurna dan kepelikan-kepelikan di sekitar dirinya tak mungkin terwujud dengan sendirinya, namun pasti memiliki seorang Pencipta. Karena sesungguhnya “Materi” tidak memiliki keberadaan yang hakiki?.

“ Sebenarnya, apa sifat materi sesungguhnya?.”

Materi yang kita lihat, dengar, hirup, kecap dan rasakan selama ini sesungguhnya hanyalah rangsangan-rangsangan dari sesuatu benda yang di ubah menjadi isyarat-isyarat listrik, dan isyarat listrik itu menyebabkan suatu pengaruh di otak kita. Artinya saat kita “Melihat” sebenarnya kita sedang melihat “Efect Sinyal Listrik” dalam benak kita.
Temuan-temuan ilmiah mutakhir menyatakan, bahwa apa yang selama ini kita sebut sebagai “Dunia Materi” hanyalah hasil dari otak kita yang terangsang oleh isyarat-isyarat listrik yang di kirimkan oleh organ-organ indra kita. Manusia hanyalah sebuah citra, segala yang di alaminya fana dan memperdaya. Dan Alam Semesta ini sebenarnya hanyalah sebuah bayangan.
Saat kita melihat, seberkas cahaya (foton) bergerak dari benda ke mata dan melewati lensa di bagian depan mata, lalu dibiaskan dan jatuh terbalik di retina di bagian belakang mata. Di sini, cahaya yang menerobos ini di ubah menjadi isyarat-isyarat listrik yang diteruskan oleh neuron-neuron ke bintik kecil yang disebut pusat penglihatan di bagian belakang otak. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di bintik kecil di bagian belakang otak ini, yang sangat gelap dan kedap cahaya.
Otak itu kedap cahaya; bagian dalamnya gelap gulita. Otak sendiri tak bersentuhan dengan cahaya. Tempat yang disebut pusat penglihatan adalah sebuah tempat yang gelap gulita, cahaya tak pernah mencapainya, begitu gelap sehingga mungkin Anda sendiri belum pernah berada di tempat seperti ini. Akan tetapi, Anda merasa Dunia benderang dan berwarna-warni dalam kegelap-gulitaan ini. Alam aneka warna, bentang Alam yang menyilaukan, semua nuansa hijau, warna-warni buah-buahan, pola-pola bunga-bungaan, terangnya matahari, semua orang di jalan yang ramai, kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang dengan cepat, ratusan pakaian di pusat-pusat perbelanjaan, dan yang lain-lainnya, semuanya citra-citra yang terbentuk di tempat yang gelap gulita ini. Bahkan saat kita merasakan cahaya dan panasnya api, bagian otak kita gelap gulita, dan suhunya tak pernah berubah.
Hal yang sama terjadi pada semua indera kita. Suara, sentuhan, dan bau. Semuanya itu hanya sebuah kesan yang di sampaikan isyarat-isyarat listrik di otak. Seperti Indra Pendengaran, telinga luar menangkap suara dengan daun telinga dan mengarahkannya ke telinga tengah. Telinga tengah meneruskan getaran-getaran suara ke telinga dalam dan memperkuatnya. Telinga dalam menerjemahkan getaran-getaran menjadi isyarat-isyarat listrik, yang lalu dikirimkan ke otak. Sama seperti mata, proses mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran di otak.
Sama juga dengan Indra Penciuman, molekul-molekul mudah-menguap di pancarkan oleh benda-benda seperti vanili atau bunga mawar mencapai dan berinteraksi dengan reseptor-reseptor di rambut-rambut halus pada daerah epitel hidung. Interaksi ini diteruskan ke otak sebagai isyarat-isyarat listrik dan dikesani sebagai bau. Semua yang kita cium, yang menyenangkan atau pun tidak, tak lain hanyalah kesan otak terhadap interaksi molekul-molekul mudah-menguap setelah diubah menjadi isyarat-isyarat listrik dan mengesani sebagi bau.
Hal yang sama terjadi dengan Indra Pengecap, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Reseptor-reseptor ini terkait dengan empat rasa: asin, manis, asam dan pahit. Reseptor-reseptor rasa kita mengubah kesan-kesan ini menjadi isyarat-isyarat listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan meneruskannya ke otak. Isyarat-isyarat ini dikesani sebagai rasa oleh otak. Rasa yang Anda alami ketika makan coklat atau buah yang Anda sukai merupakan tafsiran isyarat listrik oleh otak. Anda tak pernah dapat menyentuh benda di dunia luar; Anda tak pernah dapat melihat, mencium, atau mencicipi coklat. Misalnya, jika syaraf-syaraf perasa yang berjalan ke otak dipotong, rasa benda-benda yang Anda makan tak akan mencapai otak; Anda akan sepenuhnya kehilangan indera pencicip.
Selanjutnya Indra Peraba, ketika menyentuh sebuah benda, semua informasi yang akan membantu kita mengenali dunia luar dan benda-benda di dalamnya diteruskan ke otak oleh syaraf-syaraf indera di kulit. Kesan sentuhan terbentuk di dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat kita mengesani sentuhan bukan di ujung-ujung jari, atau di kulit, namun di pusat pengesan sentuhan di dalam otak kita. Karena tafsiran otak atas rangsangan listrik yang berasal dari benda-benda, kita mengalami benda-benda itu secara berbeda, misalnya, mungkin keras atau lunak, panas atau dingin.
“Materi” hanyalah Dunia kesan yang menipu, tidak mutlak dan tidak abadi. Sebab ada hal yang lebih mutlak dan lebih abadi di balik Materialisme yaitu “Allah SWT”. Dan sebenarnya, tak ada beda antara dunia mimpi dan dunia nyata, karena keduanya kita alami di dalam otak. Bedanya, Dunia nyata adalah mimpi yang lebih panjang.

“Jadi siapa Sang Pengesan itu, apakah otak???.”

Ketika mengurai otak, kita melihat bahwa otak tersusun dari molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada organisme-organisme hidup lain. Sebagaimana telah diketahui, intisari protein-protein ini sebenarnya adalah atom-atom. Ini berarti di dalam sekerat daging yang kita sebut “otak” kita, tak ada sesuatu untuk mengamati citra, membentuk kesadaran, atau menciptakan suatu wujud yang kita. Atom-atom adalah material yang tak mampu mengamati citra, membentuk kesadaran, berfikir, merasakan senang dan sedih. Otak juga, bukan supra material yang mampu melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan.

“Jadi siapakah Wujud Itu?“

Wujud yang mampu mengesani segal citra  di dalm Semesta ini? Wujud yang memiliki kehendak mengesani semua citra di belantara Peradaban ini? Wujud tersebut tidak lain adalah “RUH“. Dunia materi yang di penuhi sekumpulan kesan ini di amati oleh “RUH“ ini. Wujud yang nyata di alam semesta ini adalah RUH, “Materi“ semata-mata hanyalah terdiri dari kesan-kesan yang terlihat oleh RUH. Wujud cerdas yang membaca kalimat ini bukanlah sekumpulan atom dan molekul dari reaksi kimia antara keduanya (otak), tetapi sesosok “RUH“.
RUH dalam tubuh manusia inilah yang membuat kita hidup. Lantas kemana ruh tersebut saat kita mati?, kemana perginya RUH tersebut saat jasad manusia tak bernyawa?. Satu yang harus kita yakini adalah, RUH tersebut kembali kepada Pencpta-Nya (Allah SWT).
Sosok Pencipta yang menciptakan Materi dan Ruh kemudian membentuk sosok wujud manusia. Dan RUH tidak tercipta dengan sendirinya, tetapi ia di ciptakan dan dimatikan oleh Pencipta-Nya (ALLAH). Pencipta yan tidak akan kita temukan dengan mata telanjang di Alam Materi (Semesta), karena Dia berada di luar Alam Materi. Tetapi Dia seungguhnya adalah “Wujud Nyata Yang Sesungguhnya“ sedangkan Materi (termasuk manusia) hanyalah wujud-wujud semu ciptaan-Nya, yang harus kita sadari hakikat keberadaannya!!!.
Allah adalah satu-satunya “WUJUD MUTLAK“ yang nyata bagi hamba Allah yang Ikhlas. Segala sesuatu selain Allah SWT adalah “Wujud-Wujud Semu“. Dia dimana-mana dan Dia meliputi segala sesuatu. Dia tidak dapat di lihat oleh mata, tetapi Dia melihat segala yang kelihatan.
Dialah ALLAH  Tuhan yang mengendalaikan pendengaran dan penglihatan. Dan Dia sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Di adalah Tuhan setiap manusia yang meliputi segala sesuatu.

Sesuai firman-firmannya dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (dengan mereka)…” (QS. Al-Baqarah : 186)
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”.” (QS. Al-Isra : 60)
“Dialah yang mengendalikan pendengaran dan penglihatan.“ (QS. Yunus :31)
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anaam : 103)

Sesungguhnya Allh itu Maha Dekat, dan Dia Menguasai seluruh Alam Semesta ini. Atas kehendaknya lah Alam semesta ini bergerak sesuai orbitnya, kenapa kebanyakan manusia masih ingkar.  Sesungguh, bagi Allah mengelola Alam semesta ini sangatlah mudah.

Sesuai firmannya:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah : 255)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Fathiir : 41 )

Jadi untuk apa jutaan manusia di Dunia ini, hidupnya hanya terbudaki dan ter-exploitasi hawa nafsunya sendiri, terjebak dalam mengejar harta, kekuasaan, dan libido. Bahkan tanpa sadar ada banyak manusia yang telah menjadikan tiga hal tadi sebagai berhala-berhala baru baginya. Yang membuat mereka berpaling dari penghambaan kepada Allah, padahal berhala-berhala tersebut hanya wujud-wujud semu, yang menipu dan tidak abadi.
Hanya Allah lah Zat yang maha mutlak dan abadi. Dan dia telah menurunkan kitab suci Al-Quran di muka Bumi sebagai penerang bagi hamba-hambanya yang seriman. Kitab yang menjelaskan tentang diri-Nya, ciptaan-Nya, mulai Alam Semesta, manusia, Peradaban, dan tanggung jawab serta tujuan pasti akan ia lenyapkan, dan tak ada hal yang paling pantas di lakukan manusia sebagai ciptaannya selain berserah diri secara total kepada Allah SWt, dan tulus dan ikhlas menerima segala ketantuan akhir dari hasil usaha yang manusia lakukan. Dan sudah sepantasnya lah seorang hamba ciptaan Allah, menggantungkan hidupnya secara utuh pada penciptaanNya (Allah).

Sesuai firman-Nya :

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (QS. Ali Imran : 83)

Allah SWT adalah wujud mutlak yang sesungguhnya, dan segala sesuatu selain Dia adalah wujud-wujud semu, hal ini telah di pahami sejumlah agamawan dan filusuf sepanjang sejarah. Kaum cendikiawan Islam seperti seperti Imam Rabbani, Muhyidin Ibn al ‘Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat Al Qur’an dan lewat menggunakan penalaran mereka. Imam Rabbani menulis di dalam kitab Maktubat (Surat-Surat) bahwa keseluruhan alam materi adalah sebuah “khayalan dan kesan” dan bahwa wujud yang mutlak adalah Allah :
“Allah…
Hakikat wujud-wujud yang Ia ciptakan semata-mata ketiadaan…
Ia menciptakan semua yang ada di dalam ruang kesan dan khayalan…
Keberadaan alam semesta adalah di dalam
ruang kesan dan khayalan, dan tidak hakiki…
Dalam kenyataan,
Tidak ada apa-apa di luar kecuali Sang Wujud Agung (Ialah Allah)“.

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, memperkuat pernyataan Imam Robbani:

”Alam Semasta itu serba gelap, ia terang hanya karena tampaknya Allah di dalamnya. Siapa yang melihat Alam Semsta namun tidak menyaksikan Tuhan (Allah) di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya. Dan “Surya“ marifattullah terhalangi baginya oleh “awan“ benda-benda ciptaan“
Kalau telah jelas Allah adalah wujud mutlak yang hakiki, kenapa manusia masih ragu beserah diri kepada-Nya “???“.
Dalam penjelasannya yang lain Ibn Athaillah juga mengungkapkan soal keberadaan Al-Haqq :

“Bagaimana bisa di bayang kan kalu sesuatu dapat menghalang-Nya, sementara Dialah (Allah) yang menampakkan segala sesuatu?. Bagaimana bisa di bayangkan kalau sesuatu mampu menghalanginya, bila Dialah (Allah) yang tampak pada segala sesuatu? Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat menghalangi-Nya, bila Dialah (Allah) yang ada sebelum ada segala sesuatu?. Bagaimana bisa di bayangkan kalau sesuatu sanggup menghalangi-Nya, bila Dia lebih jelas ketimbang segala sesuatu? Bagaimana bisa di bayangkan kalau sesuatu mampu menghalangi-Nya, sedangkan Dia yang Maha Esa, dan tiada di sampingnya sesuatu apapun?. Bagaimana bisa di bayangkan kalau sesuatu kuasa menghalangi-Nya, padahal Dia (Allah) lebih dekat kepadamu dari pada segala sesuatu?. Bagaimana bisa di bayangkan kalau sessuatu dapat menghalanginya, sementara seandainya Dia (Allah) tak ada, niscaya tak akan ada segala sesuatu? Betapa ajaib, bagaimana keberadaan bisa tampak dalam ketiadaan? Atau, bagaimana sesuatu yang baru bersanding dengan yang Maha Dahulu“.

Adakah sesuatu yang bisa menghalangi kekuasaan dan kemutlakan Allah di muka Bumi ini. Baik itu materi, harta kekuasaan, syahwat, cinta, atau apapun yang biasa digunakan untuk pengingkaran eksistensi Allah, karena hal tersebut hanyalah makhluk-makhluk ciptaan Allah yang sewaktu-waktu yang mengingkari ketentuan Allah.
Karena itu ikhlas adalah satu-satunya jalan agar keinginan hamba selaras dengan kehendak Allah. Agar apa yang Allah cintai merupakan hal yang hamba tersebut juga cintai, agar tindakan manusia tidak terjebak pada pembangkangan perintah Allah, yang hal tersebut dapat merugikan manusia tersebut. Cukup Allah saja lah tempat manusia mengambalikan segala urusan hidupnya. Berserah diri secara total pada segala anugerah dan karunia yang Allah tetapkan pada hamba tersebut. Jadilah hamba-hamba Allah yang ikhlas, dengan berserah diri secara utuh kepada Allah SWT.
Sesuai firmannya :

“(162.) Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (163.) Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah.” (QS. Al-An’aam : 162-163)

1.1 Beserah Diri Dalam Ikhtiar Dan Ketidakpastian

“(9.) Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (10.) Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumuah : 9-10)

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (QS. Al-Fatihah : 5)

Kehidupan manusia itu dipenuhi oleh ketidakpastian adalah sebuah keniscayaan. Di akui atau tidak, ketidakpastian hidup selalu menghantui langkah hidup manusia, menyerang di dalam gelap, menciptakan ruang hampa dan kecemasan dalam hati manusia. Untuk menghilangkan kecemasan atas ketidakpastian hidup, banyak manusia mencari aman dengan bekerja di Perusahaan yang pasti mengaji dia perbulan, join dengan asuaransi, menikahi seseorang yang sudah pasti mapan, melakukan sesuatu yang pasti berhasil, menabung uang di deposito yang sudah pasti bunganya perbulan. Dan memastikan apapun yang membuat dirinya aman dan bahagia, juga dirinya jauh dari penderitaan, bahaya dan musibah.
Tetapi ketika manusia berusaha memastikan dirinya aman dan bahagia, kepastian itu semakin tidak pasti. Apakah apabila dirinya semakin berusaha memaksakan kepastian, dirinya malah terjebak dalam kecemasan, kehampaan, dan paranoidsme ketidakpastian. Kenapa banyak orang harus takut hingga paranoid pada ketidakpastian, padahal dia memiliki Tuhan yang menjadi sumber penentu segala ketidak pastian di Muka Bumi ini. Harusnya kita berfikir,“Kenapa Allah menciptakan ketidakpastian dalam kehidupan manusia?.“
Jawabannya sederhana, “Karena Dia (Allah) menginginkan hamba-hamba ciptaannya berserah diri dan menggantungkan segala sesuatunya mulai dari ucapan, tindakan, dan perbuatannya hanya pada kehendak-Nya Allh SWT“. Agar hamba tersebut mengakui Kekuasaan-Nya, Keesaan-Nya, Kemaha Besaran-Nya, Kemaha Agungan-Nya, Karunia Rahmat dan Rezeki-Nya yang tak terbatas, Kasih Sayang dan Cinta-Nya pada hamba-hambanya yang ikhlas dan berserah diri di jalan-Nya. Agar semua manusia di muka Bumi ini mengakui keberadaan Dia (Allah), satu-satunya Zat yang berkuasa di Alam Semesta ini.
Artinya kalau manusia mau bersikap arif, ketidakpastian hidup sesungguhnya adalah sarana yang tepat dan efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Moment utnuk berserah diri secara total pada Allah SWT, mengembalikan segala urusan hidupnya pada kehendak dan ketentuan-Nya. Dan sesuai kehendak-Nya, kepastian hidup manusia akan datang di saat seorang hamba Allah berserah diri secara total kepada Allah SWT.
Pernahkah anda merasa berada dalam ketidakpastian, saat sedang berikhtiar memperjuangkan sebuah kepastian dalam kehidupan. Kemudian anda merasa putus asa, karena setelah banyak pengorbanan, tenaga, dan waktu yang anda investasikan, tak kunjung kepastian itu datang pada diri anda. Karena putus asa, lalu anda mulai tertekan, depresi, bahkan kecewa, kemudian mencari-cari kambing hitam. Dalam kondisi seperti itu, kalau reaksi spontan anda mengeluh, menuntut, apalagi sampai menghujat Tuhan! Maka anda akan semakin terjebak dalam lubang penderitaan dan ketidakpastian hidup.
Tetapi kalau reaksi anda berserah diri secara total kepada Allah SWT, lalu memperkuat kesabaran dan rasa syukur, dan membingkainya dalam frame keikhlasan. Maka pertolongan Allah akan datang di situ, memberi kepastian atas segala ikhtiar anda. Di sana Allah menunjukkan kekuasaannya, dan manusia harus sadar diri, janganlah dirinya sombong dulu dan sumbar mengatakan segala hasil yang ia dapat merupakan ikhtiar dan jerih payah dirinya, bahkan ia menganggap Allah SWT tidak memiliki prenan sama sekali dalam menentukan hidupnya.
Ketidakpastian hidup sebenarnya adalah kunci penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT. Titik dimana seorang hamba harus memasrahkan segala urusan hidupnya kepada Allah SWT, kembali ke jalan yang di kehendaki-Nya, dan bersikap positif dengan mengikhlaskan apapun takdir yang di tetapkan-Nya. Karena itu kenapa saya mengatakan “Kepastian hidup itu akan datang apabila Manusia berserah diri secara total kepada Allah, dalam ketidak pastian hidup.“
Karena hanya Allah lah yang Maha Berkehendak, menentukan, dan mengabulkan segala keinginan, juga usaha seorang manusia. Karena itu do’a dan berserah diri kepada Allah, adalah kunci terkabulnya keinginan, bukan sekedar ikhtiar yang tergesa-gesa dan membabi-buta, apalagi sampai memaksakan dan berbuat kerusakan di Muka Bumi.
Tetapi pemahaman kepasrahan total pada Allah jangan di artikan, bahwa seorang hamba berhak untuk pasif tanpa ikhtiar sedikit pun. Karena hamba Allah yang berserah diri kepada Allah, adalah hamba yang berikhtiar ke arah kebaikan. Langkah dan tindakannya ia gunakan sepenuhnya untuk beribadah kepada Alalh, saat dia sholat sesungguhnya dirinya telah mengikhtiarkan tubuhnya untuk beribadah kepada Allah. Saat ia mencari nafkah dan karunia Allah, hamba tersebut menjaga agar tindakannya tetap berada pda kebaikan dan di ridhai Allah SWT.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. AL-Araaf : 56)

Hamba Allah yang berserah diri dalam keikhlasan, ikhtiar Duniawinya dalam mencari karunia Allah akan senantiasa di isi dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya, agar dirinya beruntung. Sesuai firmanya dalam surat Al-Jumuah ayat 10, apabila hambanya telah selesai sembahyang maka ia di perintahkan untuk mengingat Allah sebanyak mungkin dalam ikhtiarnya kalau ia inginberuntung.
Karena hanya orang-orang yang berserah diri kepada Alalh dalam ikhtiarnya, yang akan beruntung, dan memperoleh hasil serta ketidakpastian yang baik. Karena itu, keikhlasan seorang hamba akan membawa dirinya pada penyerahan diri secara utuh kepada Allah. Mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berikhtiar karena Allah, belajar karena Allah, melakukan apapun untuk mencari keridhoan dan makrifatnya Allah.
Berserah diri kepada Allah adalah hakikat keikhlasan. Hamba Allah yang ikhlas setelah dirinya memurnikan niat dan tujuan kepada Allah, maka ia akan menyerahkan dirinya secara total kepada Allah. Setiap detik waktu, dalam hidupnya akan senantiasa ia habiskan untuk mengingat Allah dan mencari cinta serta keridhoan-Nya.
Hawa nafsu dalam dirinya tak sanggup lagi meng-exploitasi dengan membudaki dirinya, setan-setan di buat putus asa karena usahanya untuk menjauhkan manusia dai Allah SWT gagal total. Hingga hamba tersebut selalu di jauhkan dari keburukan, musibah, dan ketidakpastian hidup. Bukan dia tidak pernah di timpa musibah dan ketidakpastian, tetapi ketika Allah menguji dia dengan musibah dan ketidakpastian, Allah SWT akan menyelamatkan-Nya kembali karena hamba tersebut “Berserah Diri“ secara total hanya kepada Allah.

C. Bersabar Dan Bersyukur Di Segala Keadaan

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah : 153)

“…(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.
(QS. Al-Araf:126)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
(QS. Ibrahim : 7)

Sabar dan syukur adalah senjata pamungkasnya orang-orang ikhlas, terutama dalam menghadapi segala ujian dan cobaan kehidupan. Sebab sabar dan syukur adalah benteng pertahanan pertama yang sanggup melindungi, saat ujian dan cobaan kehidupan menghadang. Apa pun masalah dan musibahnya, bersabar dan syukur adalah langkah pertama yang harus di lakukan hamba Allah yang ikhlas, agar pertolongan dan karunia Allah datang menyelesaikan persoalan hidupnya.
Sabar dan ikhlas bukanlah senjata sembarangan, bagi hamba yang ikhlas sabar dan syukur adalah senjata mutakhir yang kekuatannya mampu menyelesaikan segala ujian dan cobaan kehidupan. Sabar dan syukur mampu membuat manusia lemah menjadi kuat, manusia yang miskin menjadi kaya, manusia yang pesimis menjadi optimis, manusia yang bodoh menjadi pintar, manusia yang jahat menjadi baik. Apapun sukunya, apapun profesinya, apapun jenis kelaminnya, apapun statusnya sosialnya, kalau ia ikhlas dan mampu mengimplementasikan sabar dan syukur dalam kehidupan. Maka pertolongan dan karunia Allah akan datang kepadanya, menyelesaikan apapun persoalan hidupnya.
Sebab kesabaran seseorang akan mampu menolongnya dari segala musibah dan bencana, dan rasa sykukur akan membuat Allah menurunkan karunia dan nikmatnya, lebih banyak dari rezeki yang telah Allah berikan kepadanya terdahulu.

“Sabar dan Syukur adalah penyeimbang antar penderitaan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Sabar menentramkan hati hambanya yang menderita, dan putus asa. Sedangkan syukur menentramkan hati hamba yang senang dari kesombongan.” (Muhammad Gatot Aryo Al-Huseini)

Kehidupan manusia itu tidak akan terlepas dari dua situasi. Pertama, saat seseorang mengalami penderitaan. Dan yang kedua, saat seseorang mengalami kebahagiaan. Penderitaan dan kebahagiaan bagaikan roda yang berputar terus silih berganti, datang dan pergi seperti siang dan malam, juga panas dan hujan. Tak ada manusia di Dunia ini yang hidupnya bahagia terus menerus, tanpa mengalami penderitaan dalam hidupnya. Dan tak ada juga manusia di Dunia ini yang hidupnya menderita terus menerus, tanpa pernah sekalipun merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dua situasi itu akan terus menghantui kehidupan manusia sepanjang waktu, dari ia di lahirkan hingga akhir hayatnya.
Kebahagiaan hadir agar manusia memahami makan dan arti penderitaan, sebaliknya penderitaan juga hadir agar manusia memahami arti dan makna bahagia. Apabila seseorang ingin mencapai kebahagiaan, maka ia harus mencapainya dengan penderitaan. Tapi juga jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan, karena apabila kadarnya telah cukup maka penderitaan akan kembali menghampiri dirinya, untuk menuntut keseimbangan. Tanpa penderitaan manusia tidak akan pernah mencapai kebahagiaan, sebaliknya sebuah kebahagiaan pun tak akan pernah tercapai tanpa penderitaan.
Manusia tak perlu mempermasalahkan kebahagiaan dan penderitaan, karena itu merupakan ketetapan Allah yang merupakan sunnahtullah, yang tak bisa di ganggu gugat keberadaannya kecuali manusia meninggalkan Dunia (wafat). Yang perlu manusia lakukan, adalah mengentisipasi kebahagiaan dan penderitaan, apabila hal tersebut mendatangi kehidupannya. Caranya adalah dengan BERSABAR apabila penderitaan ia alami, tapi jangan bersedih karena Allah akan membayarnya ujian tersebut dengan kebahagiaan yang sebanding. Juga BERSYUKUR lah saat kebahagiaan kita alami, semoga Allah SWT melipat gandakan nikmat dan karunianya. Dan Allah akan menjaga keseimbangan penderitaan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia secara adil.

Sesuai firmannya :

“(7.) Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (8.) Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (9.) Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman :7-9)
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk : 3)

Neraca yang Allah letakkan dan tegakkan dengan adil dan seimbang itu adalah Sunnatullah, takdir hidup manusia yang akan Allah tegakkan dengan adil dan seimbang. Sabar dan Syukur adalah upaya hamba-hamba Allah yang ikhlas, untuk menjaga keadilan dan keseimbangan neraca (takdir) yang telah Allah tegakkan di muka Bumi ini. Menjaganya dari ujian kebahagiaan dan penderitaan, agar hatinya tetap tentram dan tenang dalam keimanan juga kepasrahan yang kuat pada Allah SWT.
Sabar dan syukur adalah katalisator keseimbangan agar kehidupan manusia senantiasa berada di jalan yang lurus, jalan yang di kehendaki Allah. Jalan keadilan yang menentramkan, dan mendamaikan kehidupan manusia. Karena itu hamba yang ikhlas tidak akan bersedih apabila penderitaan mengujinya karena ia memiliki senjata “kesabaran”, dan juga apabila hamba tersebut bahagia, dirinya tidak akan menjadi sombong dan lupa diri karena ia memiliki senjata “bersyukur”. Dua senjata inilah yang membuat seorang hamba senantiasa hidup dalam rasa tentram, dan damai, apa pun ujian hidupnya.
Allah memerintahkan manusia bertindak sesuai batas-batas yang telah di tetapkannya. Jangan sekali-kali malampaui batas Neraca (Sunnatullah) yang telah di tetapkannya, karena hal tersebut akan membawa kerugian dan azab bagi manusia yang melampaui batas. Apabila manusia mendapat karunia dan nikmat, lalu ia menyombongkan diri, lupa diri, riya, berfoya-foya hingga kufur nikmat. Maka sesungguhnya manusia tersebut telah melampaui batas, dan hal tersebut akan berakibat buruk  untuk dirinya. Begitu juga. Begitu juga apabila manusia mendapat cobaan dan musibah, lalu ia putus asa, depresi, stres, mengeluh, menuntut, hingga menghujat Tuhan. Maka sesungguhnya manusia tersebut juga telah melampaui batas (Neraca), dan hal tersebut akan berakibat buruk bagi dirinya.
Sabar dan syukur adalah jawaban dari Allah agar seorang manusia mampu menjaga keikhlasan di hatinya. Supaya hati dan pikirannya tetap fokus dalam kemurnian niat, dan tujuan hanya kepada Allah, berserah diri secara total dalam segala aktifitasnya, juga menjaga keimanannya hanya kepada Allah saja. Dan hamba Allah yang ikhlas akan selalau memohon ampunan dan rahmatnya.

Sesuai Firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik.”.” (QS. Al-Muminuun : 118)

Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis dengan seimbang, dan Dia benar-benar menciptakan dari hal yang mikrokosmos seperti atom yang lebih kecil dari itu, hingga hal yang makrokosmos seperi galaksi-galaksi, planet-planet dengan keadaan seimbang. Dan Allah menentang manusia untuk mengkaji dan meneliti kembali ciptaannya, adakah satu ciptaannnya dari yang mikrokosmos hingga yang makoikosmos, yang Allah ciptakan tidak seimbang “???”. Sungguh, Maha Besar Allah yang menciptakan segala sesuatu di muka Bumi ini dengan seimbang, tanpa cacat sedikit pun.
Begitu pun kehidupan, Allah menurunkan Agama Islam sebagai agama yang di ridhainya, dengan nilai-nilai yang menjaga keseimbangan dalam kehidupan manusia. Islam adalah agama yang nilai-nilai ajarannya menjaga keseimbangan sosial (Puasa), keseimbangan Ekonomi (Zakat dan Shadaqah), kesimbangan Politik (Sholat), dan keseimbangan Ideologi (syahadat). Dan Allah menurunkan Al-Qur’an dan Hadist untuk menjaga kehidupan manusia agar tetap seimbang dan adil.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran, memerintahkan agar manusia menjaga sendiri keseimbangan hidupnya, agar hambanya senantiasa bersabar dan bersyukur di segala keadaan hidup, baik senang maupun sedih, bahagia maupun sengsara, kondisi lapang mauapun sempit. Karena hanya dengan bersabar dan bersyukur lah manusia akan mencapai titik keseimbangan dalam hidup, yang mana hal tersebut akan membuat dirinya tentram dalam keikhlasan.
Sabar dan syukur adalah hakikat keikhlasan, hamba Allah yang ikhlas secara otomatis akan mengimplementasikan kesabaran dan syukurnya dalam setiap langkah-langkah hidupnya. Penderitaan dan kebahagiaan hidup, tidak akan membuat dirinya jauh dari Allah, jauh dari ridha dan cinta-Nya, apalagi sampai menafikan keberadaan-Nya. Sebaliknya, hal tersebut malah semakin memperkuat keimanannya, keikhlasan dan kepasrahannya kepada Allah SWT. Tuhan semesta Alam, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai di hari pembalasan. Hanya kepada Allah lah manusia menyembah, dan hanya kepada Dialah manusia mohon pertolongan. Semoga manusia di Dunia ini di tunjukan jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Dia anugrahkan nikmat, bukan jalan orang-orang yang di murkai atau yang di sesatkan-Nya.

1.1 Bersabar Dalam Suka Dan Duka

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. AZ-Zumar : 10)

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS. Ali-Imran : 200)

Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar. Bersabar adalah senjata hamba Allah yang ikhlas, saat hamba di uji kesusahan, kesempitan dan cobaan hidup. Tetapi saat seorang hamba memperoleh kebahagiaan, bukan berarti ia tak perlu bersabar. Justru saat manusia mendapat karunia dan rezeki dari Allah, di situ ia harus bersabar untuk tidak terlena, berlebihan, sombong, riya, hingga kufur nikmat. Karunia dan rezeki yang di berikan Allah adalah amanah, juga titipan yang harus di manfaatkan dengan baik hambanya. Hamba Allah yang ikhlas akan bersabar dari harta benda, jabatan, dan anak-anak yang di milikinya, agar tidak terpancing bujuk rayu hawa nafsu dan setan untuk menggunakan di jalan yang buruk, dzalim, dan merusak.
Sabar dalam kebahagiaan, adalah tindakan seorang hamba untuk mengkontrol dirinya agar harta benda ataupun karunia ayang ia miliki, tidak membuat dirinya semakin jauh dari Allah. Apalagi sampai manusia tersebut sombong, angkuh, arogan, di hadapan manusia dan Allah. Justru kesabaran seorang hamba pada nikmat yang Allah berikan, membuat dirinya semakin tawadhu, tenang, dan bersyukur di hadapan Allah.

Sesuai firman-Nya :

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiquun : 9)

Kesabaran seorang hamba pada nikmat-nikmat Allah, membawa dirinya semakin taat beribadah, memperbanyak Zakat dan Shadaqah. Banyak menolong kesusahan orang lain, juga berbuat kebaikan. Karunia yang Allah berikan, ia gunakan pada hal-hal yang di ridhai dan cintai. Dengan amal-amal yang bermanfaat dan memaslahatkan umat manusia.
Sabar membimbing seorang hamba pada ketaatan pada Allah SWT. Sebab fatamorgana kehidupan, sering membius seseorang pada ilusi hidup. Dengan keindahan dan kesenangan hawa nafsu yang menipu dan menyesatkan, membuat banyak manusia terjebak pada penghambaan hawa nafsu.
Penghambaan hawa nafsu, jelas akan menjauhkannya dari Allah. Sesungguhnya Allah menguji hamba-hambanya dengan perintah dan larangan, dan hamba Allah yang ikhlas akan bersungguh-sungguh menjalani ujian Allah sebagai bukti bahwa dirinya siap berkorban untuk menggapai ridha dan cinta-Nya Allah.
Apabila  di antara hamba Allah ada yang hidup sebagai seorang yang berprofesi “Pemulung”. Walaupun ia menjalani hidup dengan kemiskinan, tak seharusnya ia mngeluhkan nasib yang ia alami. Mungkin ia telah berusaha keras untuk keluar dari kemiskinan, mencari karunia Allah dengan profesinya sebagai Pemulung sampah, untuk di jual kembali. Tetapi hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, padahal ia sudah rajin beribadah, dan tak pernah lupa menjalankan shalat setiap hari.
Tapi kenapa Allah tidak segera membuatnya kaya? karena ia rajin ibadah dan berdoa kepada Allah. Dan yang paling  membuat hamba itu kecewa adalah kenapa orang lain yang shalatnya tidak rajin seperti dirinya, tapi kenapa mereka lebih mudah mendapatkan uang dan harta benda hingga muncul pertanyaan-pertanyaan negatif dalam hatinya, “Apakah ini sudah menjadi takdir hidupku?”. Atau “Apakah Allah telah bersikap tidak adil padaku?.”
Disini lah Allah menguji hambanya, apakah ia benar-benar ikhlas dan sabar kepada-Nya. Saat hamba yang bekerja sebagai pemulung tadi kecewa dengan kemiskinan hidupnya, lalu bersikap negatif kepada Allah dengan mengeluh, mengutuk, hingga menghujat Allah. Lalu ia tidak bisa menjaga kesabaran hatinya. Untuk konsisten menjaga keikhlasannya selama ia hidup hingga detik-detik terakhir dirinya mengeluh, Allah tetap tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
Justru di saat Allah menguji hambanya dengan kemiskinan dan kesempatan hidup, disana ia seharusnya tetap menjaga presangka bainya kepada Allah. Memperkuat dirinya dengan kesabaran, dan ia perkuat lagi walaupun kekecewaan dan ketidakpuasan hawa nafsunya terus menghantui. Kemudian hamba tersebut segera memasrahkan dirinya dengan bertawakal secara total kepada Allah, dengan rasa cinta, ketaatan, dan penghambaannya yang tulus. Hamba tersebut juga, tak perlu mencampur adukan hal-hal yang telah di jamin Allah (Rezeki, Jodoh dll), dengan hal-hal yang Allah tuntut dari hambanya (Ibadah dengan Ikhlas).
Ibadah seorang hamba tak ada hubungan kausalitas (sebab-akibat) dengan rezeki, jodoh dan nasib yang telah di tentukan dan di jamin oleh Allah pada hamba-hambanya. Saat hamba Allah mengharapkan kekayaan atas pengorbanan ibadah, sesungguhnya ia sedang di uji apakah ibadahnya benar-benar ikhlas hanya untuk Allah, atau karena kepentingan-kepantingan lain selain Allah “???”.
Hamba Allah yang ikhlas harus haqqul yakin bahwa Allah SWT akan menganugrahkannya hal-hal yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Sebagai hamba yang beriman kepada Allah dan Rosulnya, ia harus yakin bahwa doa umat-Nya pasti akan di kabulkan, meskipun tidak instan saat itu juga. Seandainya doanya tidak di kabulkan di Dunia, mungkin Allah akan mengabulkannya di Akhirat. Sebab, orang yang sabar adalah manusia yang paling di sayang oleh Allah SWT.
Kalau kita membandingkan kesabaran para Nabi terdahulu dengan kita, ibarat sebutir pasir di lautan padang pasir. Kisah-kisah kesabaran para Nabi, dalam menyebarkan risalah Allah penuh dengan ujian dan tantangan. Termasuk Nabi Besar Muhammad SAW contohnya, bagaimana beliau menghadapi berbagai cobaan dan perjuangan dalam menegakkan agama Allah SWT di Muka Bumi ini. Contoh lain Nabi Ayyub dengan penyakitnya, beliau mampu menghadapi penderitaan dan cobaan. Demikian juga Nabi Nuh dan Nabi Hud yang di caci maki kaumnya ketika menyampaikan risalah Tuhan.
Dengan mengambil pelajaran dari kesabaran para Nabi terdahulu itulah, seorang hamba harusnya memahami bahwa ujian dan kesulitan yang  ia alami belum seberapa bila di bandingkan ujian para Nabi terdahulu. Apalagi walaupun kita miskin, Allah masih menganugrahkan rezeki hingga kita masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari kesabaran para Nabi terdahulu hendaknya menjadi motivasi tersendiri, untuk seorang hamba Allah yang ikhlas belajar kesabaran. Sebab belum teruji kesabaran seorang hamba, sebelum ia mampu bersabar dalam musibah dan cobaan.
Kemiskinan hanyalah sebagian kecil dari cobaan Allah kepada hamba-Nya. Dan bukan berarti yang di anugrahi kekayaan tidak di uji oleh Allah, justru kekayaan yang ia miliki adalah ujian dari Allah apakah ia mampu bersabar atas harta benda yang ia miliki. Jangan sampai anugerah kekayaan yang hamba tersebut miliki, membuat dirinya sombong dan jauh dari Allah. Banyak hamba Allah yang di uji kemiskinan, tetapi ia berhasil melewati dengan sabar. Tetapi banyak dari hamba yang di uji kekayaan oleh Allah tetapi sedikit sekali yang berhasil melewatinya dengan kesabaran untuk tetap di jalan Allah.

1.2 Bersyukur Dalam Suka Dan Duka

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir : 3)

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.”
(QS. Ibrahim : 7)

Bersyukur adalah senajata seorang hamba yang ikhlas saat ia di uji karunia kebahagiaan, agar hamba tersebut tetap menajga hatinya hanya kepada Allah SWT. Agar ia tetap menyadari hakikat dirinya di hadapan Allah, agar ia tidak merasa sombong, riya, dan kufur.
Allah telah menciptakan Alam Semesta. Akal manusia tidak bisa bayangkan ukuran dan fungsi jagat raya yang kita huni. Kira-kira terdapat 300 milyar galaksi di jagat raya. Galaksi Bima Sakti kita adalah salah satunya. Di dalamnya ada 250 milyar bintang. Matahari adalah salah satunya. Dengan kata lain, masih lebih banyak bintang di jagat raya dari pada butiran pasir di seluruh pantai di dunia, dan matahari kita hanya seperti sebutir pasir. Bumi tempat kita berpijak tidaklah lebih luas dari sebutir pasir.
Subhanallah, sebagai manusia kita hanyalah makhluk kecil penghuni Bumi, kita ini bukan apa-apa di bandingkan ukuran jagad raya ciptaan Allah ini. Anehnya kenapa manusia yang lemah ini, merasa begitu besar darinya, lalu melupakan kenyataan dirinya di hadapan Allah SWT.
Sebagai manusia, mahluk kecil yang menghuni bumi, dia bukanlah apa-apa dibandingkan dengan ukuran jagat raya. Namun kadang manusia melupakan semua ini, bahkan merasa dirinya besar. Dia hidup dengan penuh kesombongan.  Dia lupa bahwa dia adalah mahluk lemah ciptaan Allah, yang suatu hari akan mati dan harus menghitung amalnya di hadapan Allah. Lebih jauh lagi, dia terbuai dengan urusan dunia, yang ukurannya tidak lebih besar dari sebutir pasir bila dibandingkan dengan jagat raya.
Dan semua orang akan segera mati dan di kubur dalam lubang kecil di bumi. Sebelum mengantarkannya pada hari akhir, Allah pasti akan menunjukkan bahwa dia itu begitu lemah. Jika tidak mati muda, contoh ketidakberdayaan manusia di dunia adalah ketika ia menjadi tua renta. Ituadalah tanda-tanda bahwa ia harus berserah diri dan bersyukur kepada Allah.
Terima kasih Allah, yang telah mengkuatkan tubuh yang lemah ini, yang telah memberi makan perut yang lapar ini, yang telah menghalalkan istri untuk menyalurkan syahwat ini, yang telah mengamanatkan Bumi untuk di kelola dengan baik dan bermanfaat bagi umat manusia, yang telah mengkayakan hambanya yang fakir, yang telah mempintarkan hamba yang bodoh ini. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mampu mensyukuri nikmat-Mu, bukan justru sebaliknya. Jauhkan lah kami dari kufur nikmat, riya, dan sifat sombong di hadapan-Mu.
Kebanyakan manusia modern menghabiskan hidupnya dengan kesibukan Dunia, sehingga melupakan pada penghambaannya kepada Allah. Seperti berjalan nya waktu, hari, bulan dan tahun. Waktu berlalu begitu saja dalam sekejap, namun banyak orang yang melupakan hal ini, mereka merasa dirinya tak akan menjadi tua. Sungguh usia muda yang mereka pikir tak akan berakhir, sesungguhnya hanya sebentar saja.
Manusia sesungguhnya hidup dalam ketidakberdayaan, kalau Allah tidak mengucurkan rahmatnya. Meskipun masih muda, di mana dia selalu merencanakan masa depannya, manusia bisa saja jatuh sakit dan mati.  Jutaan manusia mati di usia muda karena kanker atau penyakit mematikan lainnya.  Masih banyak virus yang tak ada obatnya yang belum ditemukan. Dan virus yang sangat kecil itu cukup untuk mengakhiri hidup manusia.
Tak seorang pun bisa memastikan bahwa dirinya tak akan terserang penyakit. Contohnya, jaringan otak kita bisa rusak tanpa alasan yang jelas. Kerusakan di otak dapat berakibat fatal. Darah tinggi dapat merusak sel-sel otak, dan orang dapat kehilangan ingatannya, cacat, lumpuh, dan mengalami gangguan mental.
Contohnya, Jeremy Clive, mahasiswa hukum Universitas Cambridge. Ia memiliki mempunyai perencanaan masa depan yang bagus. Suatu hari, sayangnya, dia jatuh sakit dan pingsan ketika bekerja di ruang profesornya. Lalu dia segera di bawa ke rumah sakit. Salah satu jaringan otaknya rusak, dan ternyata dia telah terserang stroke akut. Tim dokter mengoperasinya. Namun dia tidak akan sembuh total. Dan kehilangan ngatan jangka pendeknya. Karir akademik dan cita-citanya menjadi ahli hukum menjadi sirna. Dia tidak bisa mengingat apa yang dia dengar dan lihat setelah lima menit. Dia harus merekam semua apa yang dia lakukan. Dia bahkan harus mendengar rekaman untuk tahu bahwa dia sudah makan atau belum. Dari orang yang bercita-cita menjadi ahli hukum, tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak berdaya yang tidak mampu mengingat apa yang di kerjakannya lima menit sebelumnya, sehingga membutuhkan perhatian dan perawatan selamanya.
Atau kisah Henry de Lotbiniere, ketika berusia 21 tahun adalah mahasiswa yang gemilang.  Di umur 42, dia adalah pengusaha sukses, ayah dari dua anak. Suatu pagi dia merasa mukanya mati rasa. Ketika dia memeriksakan ke dokter, ternyata dia mengidap kanker di muka bagian kirinya. Kanker itu membuat mata kirinya buta. Toshigo Sozaki dari Jepang berbahagia menikahi wanita karir yang sukses. Suatu hari, sayangnya, dia jatuh sakit dan salah satu bagian otaknya rusak. Akan tetapi,  wanita karir yang sukses dan penuh percaya diri tersebut suatu hari mentalnya terganggu karena sakit. Bahkan tidak bisa lagi bertemu dengan mitra utamanya. Sejak dia kehilangan ingatannya, karir yang selama ini dia bangun berubah manjadi sesuatu yang tak berarti baginya.
Dalam menghadapi kenyataan ini, orang seharusnya berpikir bahwa tidak ada artinya tergantung pada kehidupan duniawi. Seharusnya dirinya merasa bahwa segala sesuatu yang di milikinya hanyalah titipan sementara, untuk mengujinya. Karena itu, dalam keadaan apapun baik bahagia maupun menderita, seorang hamba harus mensyukuri anugerah yang Allah berikan. Allah-lah yang menciptakan manusia, hanya Dialah yang mampu menjaga manusia dari bahaya.
Jika Allah menginginkan, dia bisa membuat manusia sakit dan rusak tubuhnya hingga manusia itu tidak berdaya karenanya. Sebab Dunia ini, di ciptakan Allah sebagai tempat ujian bagi manusia, dan kebahagiaan sesungguhnya adalah  ujian juga. Jika dalam ujian itu manusia tetap berada pada aturan Allah, dengan bersyukur di segala keadaan, dan menunjukkan moral yang baik sesuai perintah-Nya. Maka hamba tersebut akan mendapat kemenangan dan kehidupan abadi di Surga nanti.
Orang sombong yang mengharapkan keabadian di Dunia fana ini, tak akan mungkin menghindari cobaan, ketidakberdayaan, dan kesengsaraan di akhirat. Sakit bukan satu-satunya hal yang mengancam kehidupan Dunia ini. Banyak hal yang bisa membuat seorang hamba mengalami bencana. Seperti bencana alam atau kecelakaan dll. Karena itu, dari pada seorang hamba mengeluh, menuntut, dan menghujat Tuhan, cuma karena kecewa akibat rezekinya sedikit di bandingkan yang lain, atau nasibnya buruk, kemudian ia malah menjadi kufur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Padahal kalau ia renungi sesungguhnya rezekinya itu cukup, hanya saja hawa nafsunya memancing dirinya untuk kufur dan tidak sopan kepada Allah.
Allah Maha Besar, segala puja dan pujian untuk-Nya, karena anugrah dan nikmat-Nya sungguh melimpah bagi hamba-hamba-Nya. Kalau manusia mencoba jujur pada dirinya, nikmat Tuhan mana lagi yang dapat ia sangkal. Cinta dan kasih sayangnya melimpah bagi hamba-hambanya, rahmat dan ampunannya tak terbatas bagi hambanya. Tinggal manusianya, apakah ia mau menyambut panggilan cinta-Nya. Sungguh tak merugi hamba-hamba yang bersyukur.

Sesuai Firman-Nya :

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. AN-Nisa : 147 )

About gatotaryo17

Saya Penulis novel Mimpi Bulan & The Jilbab Code?!, Aktif menjadi Moderator Komunitas Coretan, sarang para penulis muda. Juga Bekerja Sebagai Desain Grafish di Perusahaan Property Lihat semua pos milik gatotaryo17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: