Buku Keajaiban Ikhlas, BAB 2. Ikhlas Dan Bagiannya

Buku Keajaiban Ikhlas

Penulis : Muhammad Gatot Aryo

BAB 2. Ikhlas Dan Bagiannya
Makna ikhlas berasal dari kholasho, bentuk akar katanya adalah khuluushon atau kholaashon, artinya jernih dan bersih dari pencemaran. Disebut kholashosy syai-u artinya sesuatu menjadi murni. Kholashtu ilaa syai-in artinya aku sampai pada sesuatu. Kholaashussamini artinya samin murni.
Lafazh ikhlas menunjukkan pengertian jernih, bersih, dan suci dari campuran dan pencemaran. sesuatu yang murni artinya bersih tanpa ada campuran, baik yang bersifat materi maupun non materi. Ikhlas merupakan istilah tauhid, orang-orang yang ikhlas adalah mereka yang memurnikan keesaannya kepada Allah. Berniat melakukan ketaatan, bertujuan hanya kepada Allah, tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu apapun.
Maka apabila sesuatu itu suci dan campuran dan bersih dari padanya dinamakan kholish (yang bersih), dan amal perbuatan yang suci dan bersih itu disebut ikhlas. Ikhlas itu kebersihan, berlawanan dengan isyrak (menyekutukan). Maka siapa yang tidak ikhlas, itu artinya dia telah menyekutukan (syirik). Hanya saja syirik itu mempunyai beberapa derajat, ikhlas dalam tauhid kebalikan dari syirik dalam uluhiyah. Syirik ada yang tersembunyi, ada yang jelas, begitu pula ikhlas. Ikhlas dan syirik sama-sama menyusup dari dalam hati, karena hatilah tempat terwujudnya. Ikhlas munculnya dari hati, yang diwujudkan dalam tujuan dan niat seorang hamba.
Karena itu, ikhlas seorang hamba tidak dapat terlepas dari niatnya yang tulus, ucapannya yang jujur, tindakan dan perbuatan yang mewujudkan tujuannya. Sesuatu yang keluar dari niat yang murni hanya untuk taqorrub kepada Allah SWT. Itulah yang disebut ikhlas. Tindakan dan perbuatan yang disertai niat untuk mencari keridoan Allah, akan menghasilkan hamba–hamba Allah yang beramal denagn ikhlas. Jadi niat yang keluar dari hati seorang hamba, menjadi faktor penentu utama ikhlasnya seorang hamba.
Ikhlas dalam pelaksanaannnya memiliki bagian-bagian yanag tidak dapat terpisahkan. Karena ikhlas terpisahkan denagn tindakan dan perbuatan yang menentukan sikap hidup seorang hamba. Sikap-sikap inilah yang menjadi penting dalam ikhlas, agar pemahaman tentang ikhlas menjadi lebih luas dan mendalam. Bagian-bagian tersebut akan kami jelaskan pada bab ini secara mendalam.

A. IKHLAS DALAM AMAL IBADAH

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, rabb sekalian alam, tiada sekutu baginya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku. Dan adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”   (AL-An’am : 162-163)
“ Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan, kecuali amal perbuatan yang diniatkan dengan ikhlas demi meraih ridha-Nya.” (HR. Nasa’i)

Ikhlas dalam beribadah sangatlah penting, karena tiada sebuah awal diterima disisi Allah, kecuali diniatkan dengan ikhlas mencari keridhoan Allah. Walaupun seorang hamba ibadahnya banyak, tetapi tidak disertai ikhlas maka ibadahnya itu sia-sia.
Sesungguhnya ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, dan hanya kepada Allah lah hamba yang ikhlas berserah diri. Esensi ikhlas dalam ibadah adalah memfokuskan tujuan ibadah hanya kepada Allah, dan tak ada yang dituju kecuali Allah semata. Ibadah yang dilaksanakan secara ikhlas, akan membawa seorang hamba pada titik pengetahuan diri secara utuh kepada Allah.
Ibadah yang disertai keikhlasan menghindarkan seorang hamba dari penyakit hati seperti riya, ingin dipuji, mencari popularitas, menyombongkan diri dan kepentingan-kepentingan Dunia ini lainnya. Keikhlasan ibadah akan menyadarkan manusia akan hakikat dirinya, darimana dia berasal, dan untuk apa dia hidup karena saat seorang hamba memasrahkan pada penghambaan kepada Allah, sesungguhnya dia telah berkomitmen untuk menyerahkan waktu dalam hidupnya pada kehendak Allah. Dia senantiasa siap menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mencari ridha dan cinta-Nya.
Bagaimana seorang manusia dapat mencapai keikhlasan dalam beribadah? Ada dua cara, sesuai keterangan dalam AL-Qur’an Surat AL -An’am ayat 162-163. Pertama, hamba tersebut harus memurnikan tujuannya hanya kepada Allah SWT. Tak ada yang setara dengan dia, tak ada bandingannya karena Allah, adalah zat yang kekuasaannya tak terbatas, Dia Yang Maha Kuat, Yang Maha Kaya, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menyayangi, Yang Maha Abadi, dan Maha Segala-galanya. Dia Pencipta Yang Menghidupkan, dan Mematikan Manusia. Yang memberi rezeki seluruh makhluk hidup di bumi ini, dan tak ada satupun zat yang mampu menandingi Dia.
Yang kedua, hamba tersebut harus menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk berserah diri kepada-Nya dengan ikhlas, tanpa pamrih, secara lahiriah maupun batiniah. Seorang mukhlis mengetahui bahwa apa yang telah dipilih Allah untuknya adalah yang dibutuhkan dan tepat baginya. Allah mengharapkan kita untuk menyerahkan kehendak kita kepada kehendak-Nya. Keadaan ini menyatakan kita untuk selaras dengan keputusannya sehingga dia dapat mencapai titik penyerahan diri secara total kepada Allah SWT.
Ketika seorang hamba yang ikhlas menyerahkan diri secara sempurna kepada Allah atas persoalan-persoalan hidup yang di hadapinya. Maka Allah akan meringankan beban-beban di pundaknya, karena pertolongan Allah akan datang pada hamba-hambanya yang berserah diri secara tulus dan murni. Penyerahan diri pada Allah, membuat seorang hamba tidak berprasangka buruk pada Allah, Ridha atas ketetapan yang diberikan kepadanya selalu mensyukuri atas nikmat-nikmat yang dianugrahkan kepadanya, sabar atas kesempitan dan ujian yang menghampirinya, dan tak pernah putus berdo’a agar ia dianugrahi rahmat, karunia, ridha dan cinta-Nya.
Ikhlas dalam ibadah, akan menolong manusia mengatasi persoalan-persoalan hidupnya.

Sesuai firmannya dalam surat AL -Baqarah ayat 153:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongMu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. AL-Baqarah : 153)

Sungguh, ibadah yang ikhlas seorang hamba akan menolong dirinya dari peliknya menjalani kehidupan. Mengendorkan otot-otot syarafnya yang tegang, akibat dari tekanan hidup dan stres berat. Ia juga akan dilapangkan dari penderitaan yang menyesakkan dada, karena penolakan, kekecewaan, atau kegagalan yang di alami dalam mengarungi kehidupan yang penuh ujian.
Sebab itu hamba yang ikhlas, akan menyerahkan seluruh persoalan-persoalan hidupnya kepada Allah. Semakin ia ikhlas dalam ibadahnya, maka Allah semakin dekat dengan dirinya. Hamba yang dekat dengan Allah SWT, tak perlu takut menghadapi kesulitan dan persoalan hidup yang menimpanya. Karena ia percaya setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan dia tidak memberikan suatu ujian pada seorang hamba, kecuali hamba itu mampu menanggungnya. Sesungguhnya yang membuat semakin berat sebuah ujian hamba adalah penolakan dia, ketidakpuasan dia, kerakusan dia, dan penghujatan dia atas ujian dan bencana hidup yang menimpanya.
Berikut ini adalah bagian-bagian penting ikhlas dalam ibadah, yang akan diuraikan dan dijelaskan lebih mendalam. Sebab ibadah dalam Islam terbagi beberapa bagian, biasa kita menyebutnya Rukun Islam. Diantaranya adalah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Lima pilar agama tersebut, adalah ibadah kaum muslimin yang apabila dilaksanakan tanpa keikhlasan maka ibadah tersebut akan sia-sia. Point demi pointnya akan kami jelaskan sebagai berikut :

1.1 Ikhlas Dalam Syahadat

Ikhlas dalam syahadat adalah memurikan kembali kesaksian dan pengakuan seorang hamba pada keberadaan Allah SWT sebagai sang Khalik (pencipta), dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul utusan Allah. Pemurnian dua kalimat syahadat sangat penting, karena banyak manusia di antara kita, kadang tanpa sadar dirinya mulai mengantungkan hidupnya pada hal-hal selain Allah.
Ikhlas dalam syahadat adalah memurnikan kesaksian diri kita secara lahir maupun batin bahwa hanya Allah lah Tuhannya, Sang Maha Pencipta yang dapat dibuktikan melalui Ciptaan-Ciptaan-Nya, meskipun manusia tidak dapat bisa melihat keberadaannya secara indrawi. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tempat segala sesuatunya bergantung, tidak melahirkan dan dilahirkan, dan tidak ada sekutu baginya.

Sesuai firmannya, surat AL-Ikhlas :

“(1) Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.(3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.(4) Dan tidak ada seorang pun yang setara degan Dia.”(QS. AL-Ikhlas : 1-4)

Tak ada keraguan penghambaan pada Allah, bagi manusia-manusia yang ikhlas, karena dia telah menggantungkan hidupnya pada Allah saja, bukan pada materi, uang, pekerjaan, kekuasaan, jabatan, popularitas, wanita, cinta, atau apapun selain Allah. Cukup pada Allah lah ia berserah diri, dan memurnikan kesaksiannya pada Allah.
Dialah Allah Sang Pencipta, yang mengatur dan memelihara segala sesuatu. Yang mengadakan, membentuk segala rupa yang ada di Langit dan Bumi. Dialah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi bijaksana. Tuhan yang harus di sembah oleh seluruh makhluk, dan sang pemberi rezeki yang memenuhi semua kebutuhan makhluk di Langit dan Bumi, maka itu kenapa manusia masih berpaling darinya.
Yang kedua, ikhlas dalam bersyahadat adalah memurnikan kesaksian diri bahwa Muhammad utusan Allah, Rasul terakhir pembawa Risalah Agama Islam. Muhammad adalah pembawa Risalah Islam, agama yang merupakan sistem nilai dan norma yang ketentuan dasar, dan peraturan pelaksanaannya disebut Aqidah dan Syariah.
Konsekuensi dari ikrar syahadat. “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah“, adalah menyerahkan diri secara utuh pada perintah Allah dan Rosulnya. Artinya segala hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rosulnya, akan ditinggalkan oleh hamba-hamba Allah yang ikhlas.
Muhammad adalah Rosul terakhir, dan tak ada Rosul lain setelah dia yang di utus untuk seluruh bangsa di dunia. Dia ditugaskan menyampaikan risalah Islam sebagai agama Allah yang telah disempurnakan utuh dan lengkap.

Sesuai firmannya :

“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orag kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk, dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tand mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar. “ (QS. AL-Fath : 29)

Memurnikan syahadat seorang hamba, akan memperkuat keimanannya pada Allah komitmen dalam hati yang kemudian akan di buktikan dalam amal ibadah dan muamalah. Keikhlasan tersebutlah yang akan membawa amal-amal hamba diterima disisi Allah, juga bagi orang-orang beriman serta mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
Ikhlas dalam bersyahadat bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tanaman itu akan menjadi kuat, besar dan tegak lurus di atas pokoknya. Tegar berdiri menghadapi segala problematika kehidupan, tetap kokoh dan tegak lurus maupun badai besar menghadang hidupnya. Keikhlasan tersebut juga akan membawa pada keadaan yang menyenangkan hati, bagi hamba-hamba yang telah menanam dan merawatnya.

1.2 Ikhlas Dalam Shalat

Ikhlas dalam shalat merupakan keharusan, sebab shalat adalah bukti pemurnian sikap seorang hamba atas keberadaan Allah SWT. Shalat dalam makna bahasa berarti do’a, Allah memerintahkan hambanya untuk melaksanakan shalat lima kali sehari semalam. Dan hamba-hamba yang ikhlas, akan melaksanakan perintah tersebut sebagai bukti penyerahan dirinya kepada Allah.
Shalat dalam ajaran Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena dalam keterangan hadist, Rosullullah bersabda,“Shalat adalah tiang Agama!.“ Artinya tanpa shalat, tiang-tiang Agama Islam ini akan runtuh. Selain itu shalat juga merupakan kewajiban pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dalam peristiwa Isra Mi’raj, hamba Allah yang ikhlas akan bersemangat mengerjakan shalat, karena ia meyakini shalat dalam mencengah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, sesuai firmannya :

“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu AL-Kitab (AL-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dalam shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengeahui apa yang kamu kerjakan.“  (QS. AL-Ankabuut : 45)

Kekejian dan kemungkaran yang terjadi di Bumi ini sesungguhnya bersumber dari prilaku dan perbuatan manusia itu sendiri. Kesombongan dan keserakahan ummat manusia, telah membuat banyak kerusakan terjadi di Bumi. Dan shalat akan membawa penghambaan yang tulus seseorang manusia kepada Tuhannya. Dalam shalat, sifat-sifat sombong, keserakahan, pembangkangan dalam diri manusia akan hilang, dan sifat-sifat positif dalam diri manusia akan tumbuh, lalu pancarannya akan menerangi prilaku hidupnya setiap waktu. Kenapa shalat dapat mencegah dari prilaku keji dan mungkar, karena nilai-nilai pencerahan dalam shalat seorang hamba akan mempengaruhi prilaku positif dalam hidupnya, dan efectnya akan mencegah kekejian dan kemungkaran di Dunia ini.

Dalam sebuah hadist, Rosullullah juga pernah berkata :

“ Shalat adalah kenikmatan pandangan mataku (Qurata’ a’yyun), dan dia juga menyebutnya (Shalat) sebagai ’istirahat kita’.” (Hadist)

Saat Rosullullah Isra Mi’raj untuk menerima perintah shalat, ia bertemu dengan Allah SWT. Berjumpa dengan Allah adalah kenikmatan yang tak ada bandingannya, bahkan nikmatnya surga tak ada bandingnya dengan perjumpaan dengan zat Allah.
Allah adalah pencipta yang zatnya tidak dapat dilukiskan kata-kata, tak satupun lidah dapat digerakan untuk mengungkapkannya, dan satupun jawaban dapat mendefinisikannya. Dia adalah petunjuk kepada diri-Nya, dan penguasa bagi uraian diri-Nya. Dia adalah keludahan dari semua yang ludah dan kalimat yang dengan menuturkan diri-Nya hanya milik dirinya.

Seperti firmannya dalam sebuah Hadist-Qudsi :

“ Aku ini adalah perbendaharaan yang tersembunyi, aku ingin diketahui, aku jadikan makhluk supaya diketahui dan dikenal. ” (Hadst-Qudsi)

Perjumpaan dengan Allah yang penuh kenikmatan dalam Isra Mi’raj, membuat beliau merasa berat hati untuk meninggalkan tempat terhormat yang penuh berkah sererti itu, lalu Allah SWT bersabda pada Muhammad :

“Hai Muhammad, engkau adalah utusan abdi-ku sebagaimana semua utusan-ku, bila engkau tinggal disini, engkau tidak dapat menyampaikan pesan-ku untuk abdi-ku. Bilamana engkau menginginkan suasana seperti ini maka shalatlah, dan aku akan membuka suasana ini bagimu. “

Kemudian Nabi diperintahkan untuk kembali ke Dunia, namun dia meninggalkan jiwanya di surga, ruhnya di pohon teratai, dan kalbunya dalam hadirat Ilahi yang tak tergumamkan, sementara rahasianya di tinggal mengambang tanpa tempat.  Kisah diatas memberi pelajaran bahwa shalat yang benar (sempurna) adalah bila dapat bila merasakan.
“Tabir ke-Esaan Allah!“, membawa diri seorang hamba dalam bahtera yang mengambang di tengah-tengah angkasa Ilahi. Mencapai pertemuan dengan dzat yangagung, anggun, dan tak terucapkan.

Jadi tak berlebihan bila kita menyimpulkan “shalat adalah miraj-nya seorang mumin.“, karena hanya dalam shalatlah, seorang hamba akan mencapai perjumpaan dengan Allah. Itu sebabnya Rosullullah mengatakan “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat Aku shalat ”, bukan “Shalatlah sebagaimana kalian aku ajari shalat.“ Itu artinya kesempurnaan keadaan shalat (khusyu), sepenuhnya wewenang Allah SWT yang akan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Terutama hamba-hambanya yang ikhlas di dalam shalat, dan mudah-mudahan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang bisa mencapai keikhlasan dalam beribadah (shalat).
Shalat adalah proses pendekatan seorang hamba kepada Tuhannya, untuk mencapai derajat ketaqwaan. Karena Allah menilai kemuliaan seorang hamba bukan pada kekayaan, jabatan, kekuasaan, wanita atau keturunan yang dia miliki. Tetapi ia menilai kemuliaan seorang hamba dari ilmu dan ketaqwaannya.
Hanya shalat yang sesuai aturan-aturan yang di syaratkan, lalu dilakukan dengan tulus ikhlas untuk mencapai keridhoan Allah sematalah, shalat yang akan diterima di sisi Allah. Dan imbalan langsung bagi hamba yang shalat dengan ikhlas, adalah kebersihan hati, disucikan dosanya, dan di limpahkan Rahmat serta karunianya yang tak terhingga.

Syeh Ibn ‘Athaillah dalam AL-Hikam mengatakan :

“Shalat adalah pembersih hati dari kotoran dosa, dan pembuka pintu kegaiban.“

Shalat yang sempurna terlepas dari alam kasat mata dan sebuah penegasan kembali hubungan total dengan Allah. Setelah manusia ternodai oleh cinta dan nafsu duniawi. Hati yang berkarat hanya dapat dihilangkan dengan shalat dan dzikir, apabila noda-noda itu telah hilang maka jendela-jendela ilham akan terbuka, dan cahaya-cahaya dari yang maha gaib akan bersinar terpantul-pantul pada cermin hati seorang hamba.

Dalam ungkapan yang lain, beliau juga mengatakan :

“Shalat adalah sarana bermunajat serta sumber penyucian. Luas didalamnya arena rahasia Allah, dan terbit darinya kilau cahaya-Nya. Allah mengetahui adanya kelemahanmu, sehingga Dia menyederhanakan bilangan shalat. Allah pun mengetahui kebutuhanmu pada anugrah-Nya, sehingga Dia melipatgandakan pahalanya.“

Kesempurnaan shalat seorang hamba akan membawanya pada hubungan yang kian dekat dengan Allah, dan itu akan mengantarkannya pada pencerahan, cahaya dan pengetahuan batin dari yang gaib. Meskipun jumlah rakaat dan waktu shalat sedikit, tetapi khasiatnya dapat menyembuhkan dan menghidupkan hati pada Sang Khalik, dan pahala berlipat ganda bagi hamba-hambanya yang shalat dengan ikhlas.

Ada ungkapan lain dari Ibnu Athaillah, yang menarik tentang shalat :

“Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu. Dan karena Allah mengetahui bahwa Engkau pun rakus, maka Dia membatasinya pada waktu-waktu tertentu, agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat, karena tidak semua yang shalat dapat menyempurnakannya. “

Manusia adalah makhluk yang tidak sabar dan mudah bosan. Karena itu, Allah juga membuat banyak sarana dan kesempatan demi pengembangan spiritual, juga upaya mempertinggi kesadaran atas kehadiran-Nya. Shalat hanyalah gerbang menuju halaman kehadiran-Nya (Allah) yang kekal dan hanya hamba Allah yang shalatnya sempurna yang akan mendapatkan-Nya.
Ikhlas dalam shalat sangat subtansial untuk mencapai kesempurnaan. Sedangkan penilaian akhir kesempurnaan shalat seorang hamba, hanya Allah yang berhak menilai sebagai hakim yang memberi keputusan. Kaum muslimin hanya diperintahkan oleh Rosullullah “Shalatlah kalian, sebagai mana kalian melihat aku shalat! “. Paling tidak, shalat hamba yang ikhlas seperti apa yang selalu di jelaskan dalam do’a iftitah yang biasa diucapkan setelah takbiratul ikhram, perhatikan isinya baik-baik :

“Maha besar Allah, segala puji hanya untuk-Nya dan Maha Suci Allah pagi dan petang selama-lamanya. Kuharapkan wajahku, kehadirat-Mu yang telah menciptakan langit dan bumi. Dengan tulus ikhlas menyerahkan diri, dan saya bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, pengabdianku, bahkan hidup dan matiku, seluruhnya hanya bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalianalam. Tidak ada sekutu bagi Allah, demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah salah satu dari orang-orang yang berserah diri. “

1.3 Ikhlas Dalam Zakat dan Shadaqah

Ikhlas dalam zakat dan shadaqah adalah memurnikan niat dan tujuan dalam mengeluarkan rezeki yang diberikan Allah pada seorang hamba, semata-mata untuk menaati perintah dan mencari keridhaan Allah SWT. Jadi hamba yang ikhlas dalam berzakat dan shadaqah, sedikitpun tidak ada niat dan tujuan lain selain keridhaan Allah.
Zakat sendiri menurut bahasa berarti kesuburan, keberkahan, dan pensucian. Zakat adalah perintah Allah pada kaum muslimin dengan mengeluarkan harta dari pemiliknya pada orang yang berhak, untuk membersihkan seluruh hartanya, sesuai firmannya :

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.“ (QS. AL-Baqarah : 43)

“Ambillah shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan do’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui.“ (QS. AT-Taubah : 103)

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena disatu pihak ia merupakan bentuk pelaksanaan amal manusia sebagai makhluk sosial, dan di lain pihak mendorong dinamika manusia untuk berusaha mendapatkan karunia Allah di muka Bumi. Zakat dan shadaqah adalah satu prinsip hidup seorang muslimin yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, agar menjadi hamba Allah yang dermawan, sesuai sabda beliau :

“ Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.“ (Hadist)

Artinya hidup memberi itu baik dari pad meminta. Berderma dari sebagian harta yang Allah karuniakan kepada hamba adalah prilaku mulia yang sangat di sukai Allah SWT. Allah akan memberi pertolongan, rahmat dan kemenangan bagi hamba-hambanya yang mengeluarkan zakat dan shadaqahnya dengan penuh keikhlasan, dan hal tersebut tercermin dari niat yang bersih dari-Nya dan bersih dari rasa terpaksa.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya, dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena-Nya kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah, dan hari kemudian, maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.“ (QS. AL-Baqarah : 264)

Sungguh sia-sia orang yang bersedekah dan berzakat dengan tujuan riya’. Mengeluarkan harta untuk menyombongkan diri, mencari pujian manusia, mencari popularitas, ingin disebut dermawan. Sungguh merugi manusia yang tidak ikhlas dalam berzakat dan bershadaqah. Karena amalnya bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, maka menjadi bersihlah batu tersebut dari tanah. Tanah di atas batu itu perumpamaan amal, dan batu yang kembali licin akibat hujan itu ibarat amal hamba yang beramal disertai riya’, sungguh sia-sia dan tak ada gunanya. Dan Allah, tidak menyukai orang-orang yang riya serta menyombongkan diri, sesuai firmannya :

“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (36) (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan (37) dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena-Nya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya (38).“ (QS.An-Nisaa’: 36-38)

Zakat adalah sarana untuk membersihkan harta dan mensucikan diri. Tetapi bila itu dilakukan dengan tujuan-tujuan selain Allah, apalagi digunakan sebagai sarana untuk menyombongkan diri dihadapan Allah. Maka sia-sialah amalnya, lebih dari itu, Allah akan menghukum mereka yang sombong dan membanggakan diri, dengan siksaan yang menghinakan.
Shadaqah adalah amal yang sangat dimuliakan, apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dapat menimbulkan kasih sayang dan rasa setia kawan terhadap kaum muslim, memperkecil jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Dan kaum muslim, diperintahkan oleh Rosullullah untuk bershadaqah dalam keadaan apapun sesuai sabdanya:

“Atas tiap-tiap mukmin, shadaqah.”Para sahabat bertanya.”Bagaimana keadaan orang-orang yang tidak mempunyai harta?” Nabi menjawab.” Dia bekerja, lalu memberi manfaat kepada dirinya dan bersadaqah.” Para sahabat bertanya pula, ”jika ia tidak dapat bekerja sebagai yang di maksudkan?” Nabi menjawab, “ia memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.” Para sahabat bertanya lagi, “Jika ia tidak dapat demikian?.” Nabi menjawab, ”Hendaklah ia mengerjakan yang makruf, menahan diri kejahatan, karena yang demikian itu sadaqah baginya.” ( H.R Bukhari )

Shadaqah tak harus berbentuk harta saja, bagi kaum muslimin yang diuji Allah dalam kesempitan, shadaqah tetap bisa dilakukan dengan mengerjakan yang makruf, dan menahan diri dari berbuat kejahatan. Dan sangatlah penting memurnikan amal dengan memfokuskan niat dan tujuannya hanya untuk Allah saja, tanpa pamrih, niatan-niatan yang terselubung.

Ibnu ATHA ILLAH, menjelaskan dalam Al-Hikam:

“Jangan menuntut imbalan atas suatu amal yang pelakunya bukan dirimu sendiri. Cukuplah balasan Allah bagimu jika dia menerima amal itu .”

”Bila engkau menuntut imbalan atas suatu amal, pasti engkau pun akan dituntut untuk tulus dalam melakukannya. Dan bagi yang merasa belum sempurna, cukuplah bila ia telah selamat dari tuntutan.”

Keikhlasan beramal sejati, terkait dengan tauhid. Yakni keyakinan bahwa semua aspek kehidupan dan wujud berasal dari-Nya (Allah). Maka, balasan tertinggi amal perbuatan kita adalah, kesadaran kita terhadap sang sumber, dan kehadiran Allah dalam setiap amal perbuatan seorang hamba. Artinya ketika hamba Allah menzakatkan atau men-shadaqahkan sebagai rezekinya untuk mereka yang berhak, hakikatnya ia hanyalah perantara pemberi pada saudara-saudaranya yang membutuhkan (fakir miskin). Rezeki yang ia keluarkan, hanyalah amanah dan titipan Allah padanya, agar ia terhindar dari penyakit tamak (rakus) dan kikir atas segala karunia yang Allah berikan kepadanya. Dan mereka-mereka yang bershadaqah dengan ihklas, jangan takut kalau hartanya akan habis. Sebab Allah berjanji dalam firmannya, apabila hamba Allah menanamkan satu kebaikan, maka Allah akan membalas kebaikan hambanya itu sepuluh kali lipatnya.

1.4 Ikhlas Dalam Puasa

Ikhlas dalam puasa adalah memurnikan niat dan tujuan dalam menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Puasa hamba yang ikhlas buakn sekedar menahan hawa nafsu, seperti makan, minum, dan bersetubuh. Tetapi ia juga harus menjaga penglihatan-nya, pendengarannya, penciumannya, pengecapnya dan perasaannya untuk tujuan lain selain kepada Allah SWT. Mulai dari terbit fajar hingga terbenam-nya matahari seorang hamba menjaga ucapan, tindakan, dan perbuatannya hanya untuk Allah semata.
Dalam bahasa puasa (shiam) berarti menahan diri. Dalam syariat Islam, puasa berarti menahan diri dari segala yang membatalkannya (makan, minum, dan bersetubuh), mulai dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari yang dilaksanakan untuk mendapatkan ridho Allah.

Sesuai firmannya :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagai mana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah;183)

Puasa adalah bentuk pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya. Hamba yang puasa adalah hamba yang memenjara dan mengendalikan hawa nafsunya, mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, di waktu-waktu yang telah ditentukan Allah. Puasa adalah ibadah yang dapat mendisiplin ruhaniah seorang hamba. Rahasia keberhasilannya tergantung pada diri sendiri, karena puasa bukanlah semata-mata amalan yang orang banyak. Yang dapat menilai kesempurnaan puasa seorang hamba, hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Karena itu, puasa sesungguhnya adalah amalan batin antara hamba dan Khalik-nya.
Hamba Allah yang ikhlas dalam puasanya, akan mencapai derajat ketaqwaan dimata Allah, karena goal dan ibadah puasa adalah penghekangan hawa nafsu duniawi, yang mendidik seorang insan untuk berbuat baik dan mulia, lalu menjauhi maksiat dan kemungkaran. Ibadah puasa yang tidak disertai keikhlasan mencari keridhoan Allah, akan menjadi sia-sia dan tak ada nilainya di mata Allah.

Sesuai sabda Nabi :

“Betapa banyak orang puasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga.“ (HR. Bukhari)

Puasa itu untuk Allah, bukan untuk diet, atau sekedar menahan lapar dan dahaga. Tetapi menahan nafsu yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa, seperti pandangan mata yang membawa maksiat, pendengaran yang hanya memfitnah orang lain, menyentuh wanita yang bukan mukhrimnya, berbohong, menipu, menghasut, menghujat, melecehkan, memarahi, hingga menghina orang lain. Puasa bukan untuk mencari kesaktian, penguasaan ilmu kebatinan tertentu, hingga ingin disebut soleh. Apapun tujuan puasa selain Allah, akan sia-sia amalnya di mata Allah.
Puasa dengan ikhlas, adalah ciri-ciri hamba Allah yag bertaqwa. Dan semulia-mulianya manusia di antara manusia lain, adalah manusia-manusia yang bertaqwa.

Sesuai firmannya :

“ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.“ (QS. AL-Hujurat : 13)

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa, karena kemenangan mereka. Mereka tiada disentuh oleh azab neraka dan tidak pula mereka berduka cita.“ (QS. AZ-Zumar : 61)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan membuat baginya jalan keluar (dari setiap masalah), serta memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka. Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.“ (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Keikhlasan hamba Allah dalam melaksanakan puasa, akan membuka jalannya mencapai derajat ketaqwaan. Seorang hamba yang bertaqwa kepada Allah, akan Allah angkat derajatnya, dan dijauhinya ia dari azab neraka, mereka juga tidak akan berduka cita. Orang-orang yang bertaqwa, akan selalu di mudahkan Allah dari segala ujian dan kesulitan hidup yang menimpanya. Segala keperluannya akan dicukupi, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Peranan ibadah puasa dalam membentuk pribadi-pribadi yang bertaqwa, amat sangat subtansial. Puasa adalah latihan latihan untuk meningkatkan rasa syukur atas nikmat dan rahmat yang di karuniakan Allah kepadanya. Penderitaan dan pengorbanan berpuasa, akan menjadi pembersih diri dari dosa-dosa yang pernah di lakukan. Dan yang paling penting dalam kehidupan sosial, berpuasa dapat menumbuhkan rasa simpati dan solidaritas pada kelompok sosial masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan.
Ikhlas dalam melaksanakan puasa, akan mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam kedekatan seorang hamba pada Allah SWT. Memperkuat keimanannya, buah dari kesabaran dalam mengendalikan diri dari perbuatan hawa nafsu.

Sesuai Sabda Rasulullah SAW :

“Puasa adalah separuh kesabaran, dan sabar itu separuh iman.” (HR. Baihaqi)

Puasa yang ikhlas akan memperkuat kesabaran hamba Allah, dan kesabaran akan memperkuat keimanan sang hamba. Keimanan seorang hamba akan membawanya pada derajat ketaqwaan, yang akan memuliakannya disisi Allah. Merekalah orang-orang yang memperoleh kemenangan, dan sedikitpun mereka tiada disentuh oleh panasnya azab api neraka.

1.5 Ikhlas Dalam Berhaji

Ikhlas dalam berhaji adalah memurnikan dan tujuan dalam melaksanakan perjalanan haji, mulai dari Ihram, wukuf, Thawaf, Sa’I hanya semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT. Ibadah haji merupakan puncak pengabdian manusia kepada Allah, karena Ibadah haji menuntut pengorbanan Lahiriah, batiniah, material, maupun spiritual. Dalam berhaji, seorang muslim akan menyaksikan tempat-tempat bersejarah dalam perjuangan islam, merasakan betapa besar pengorbanan dalam penyebaran islam.

Sesuai Firman-Nya :

“…. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka bahwasanya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS. Ali Imran : 97)

Pengertian haji secara bahasa adalah pergi ke suatu tempat untuk mengunjungi. Dalam syariat, istilah haji berarti pergi ke Baitullah (ka’bah) untuk melaksanakan ibadah yang telah ditetapkan Allah SWT, di bulan yang telah ditentukan (Dzulhijjah). Haji adalah rukun islam yang terakhir, untuk orang-orang yang telah mampu melaksanakannya (fisik dan mental). Haji tidak diwajibkan, bagi hamba-hamba Allah yang belum memiliki kemampuan secara fisik maupun ekonomi.
Hamba Allah yang ibadah hajinya ikhlas adalah hamba yang tidak ada lain yang ia niatkan, dan ia tuju selain Allah SWT. Ia berhaji bukan ingin dipuji, mendapat gelar atau status sosial dimasyarakat, ingin disebut orang sholeh, untuk berbangga diri, atau tujuan-tujuan lain selain mencari keridhoan Allah. Karena seorang hamba yang tujuan hajinya bukan Allah, berarti ia tidak ikhlas dalam ibadahnya. Hamba yang tidak ikhlas dalam amalnya, maka amalanya itu sia-sia di sisi Allah.
Ibadah haji mendidik jiwa hamba Allah untuk ikhlas, berkorban dan sabar menyerahkan diri secara total, atas segala kehendak yang diperintahkan Allah pada manusia. Menjalankan perintahnya dengan tulus dan ikhlas, bukan untuk kepentingan pribadi, menyombongkan diri, atau hal-hal lain yang sifatnya kebanggan sesaat. Karena haji adalah bentuk pengorbanan hamba atas harta dan waktu yang ia miliki, semata-mata unutuk mengabdikan diri kepada Allah, dengan pengabdian yang seutuhnya. Tanpa pamrih, tanpa balas jasa yang mengurangi kadar keikhlasan dalam beramal. Dan hamba yang belum dimampukan, jangan bersedih sebab sabda Nabi, melaksanakan shalat jum’at bagi kaum miskin, sama seperti ibadah haji bagi mereka.

1.6 Ikhlas Setiap Waktu

“(41) hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (42) dan bertasbihlah kepada-nya diwaktu pagi dan petang (43) dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-nya (memohon diampun untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah dia yang maha penyayang kepada orang-orang yang beriman.“ (QS.AL-AHZAB : 41-43).

Allah SWT memberikan waktu pada manusia 24 jam sehari, sama dengan 1440 menit, juga 8600 detik perhari. Tapi dia hanya memerintahkan hambanya, menyembahnya lima hari sehari, kalau setiap shalat hamba Allah menghabiskan waktu 5 menit, maka waktu yang dihabiskan beribadah dalam sehari hanya 25 menit saja. Artinya ia masih menyisakan waktu 1415 menit, yang sayang sekali apabila waktu tersebut tidak ia gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Begitupun dengan ibadah-ibadah lain, seperti zakat dikeluarkan setahun sekali, atau disaat seorang hamba memiliki kelapangan harta. Puasa pun hanya setahun sekali dibulan Ramadhan saja, apalagi ibadah haji yang diwajibkan hanya seumur hidup sekali, itupun bagi hamba-hamba yang memiliki kemampuan.
Kalau kita coba bersikap jujur dengan amal-amal kita, apakah dengan ibadah 25 menit sehari, artinya 750 menit sebulan (12,5 jam), atau 9000 menit setahun (150 jam/6 ¼ hari). Lalu kita kalikan dengan umur manusia misalnya 60 tahun, maka amal ibadah kita hanya 375 hari seumur hidup kita (6 ¼ hari x 60 tahun). Artinya dari 60 tahun yang Allah berikan pada manusia hanya 1 tahun lebih 10 hari waktu yang  di habiskan beribah kepada Allah. Bukan bermaksud menghitung-hitung amal, tapi coba renungi, apakah dengan ibadah shalat 1 tahun 10 hari yang belum tentu sempurna, seorang hamba mampu membayar dosa-dosanya selama 60 tahun hidup di dunia.
Begitu banyak waktu yang manusia sia-siakan dalam, hidupnya, untuk tidak ia gunakan beribadah kepada Allah. Kalau seorang hamba, hanya mengandalkan amalan shalatnya saja, untuk ia pertanggung jawabkan di akhirat nanti, artinya ia telah menyai -nyiakan waktu 58 tahun 355 hari dalam hidupnya. Itu pun kalau ibadah shalatnya sempurna, kalau tidak sempurna (tidak ikhlas), tidak khusu, apalagi hanya untuk menyombongkan diri, maka hamba tersebut telah menghabiskan waktu dalam hidupnya, melakukan amal ibadah yang sia – sia.
Coba baca firman Allah ini:

“ (1) Demi masa (waktu) (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (3) Kecuali orang –orang yang berimal dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati, supaya mentaati kebenaran, dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. AL ‘ASHR : 1 – 3)
Waktu adalah amanah Tuhan yng diberikan pada manusia, untuk digunakan sebaik mungkin untuk mencari keridhoan Allah SWT. Sesungguhnya merugi manusia yang menyia-nyiakan waktuya, hanya untuk memuaskan hawa nafsu yang tak pernah ada habisnya. Semakin manusia mengejar nafsu duniawi, maka duniawi akan semakin menjauhi dan membudakinya. Hanya orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh lah yang beruntung, karena menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah, dimanapun, kapanpun, dalam situasi apapun.
Ikhlas disetiap waktu adalah memurnikan niat dan tujan hanya kapada Allah yang dilakukan oleh hamba Allah di setiap aktivitas kehidupannya mulai ia bangun dari tidur hingga ia tidur kembali. Hanya Allah yang ikhlas disetiap waktu adalah hamba yang selalu berzikir menyebut nam Allah sebanyak-banyaknya, ia slalu bertasbih kapada Allah  diwaktu pagi dan petang. Sehingga setiap detik waktu dalam hidupnya, ia habiskan untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah.

Sesuai firmannya :

“(190) ssungguhnya dalam pencipta langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (191) yaitu : orang-orang yang mengingat Allah sambl berdii atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali imran :190-191)

Mengingat Allah dimanapun ia berada, adalah ciri-ciri hamba Allah yang ikhlas disetiap waktu. Saat ia berdiri, duduk, atau berbaring dari mulai membuka mata hingga matanya terlelap kembali untuk mencari keridhaan Allah denga berzikir dan bertasbih kepadanya. Hamba Allah yang ikhlas, disetiap mengawali aktivitas apapun dalam hidupnya ia akan memulainya dengan ucapan “bismillah”, sesuai firmannya:

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.” (QS.Al-fatihah : 1)

Sebab apapun aktifitas yang di awali bismillah, maka aktifitas tersebut akan bernilai ibadah di mata Allah. Jadi aktifitas yang dilakukan hamba Allah, selama 24 jam di luiar ibadah wajib, apabila ia awali dengan bismillah, maka aktifitas tersebut bernilai pahala di mata Allah. Sungguh beruntung hamba Allah yang seiap ucapan, tindakan, dan perbuatan dalam hidupnya bernialai ibadah dimata Allah.
Dan apapun hasil yang hamba tersebut dapatkan dari aktifitasnya, akan selalu ia syukuri dengan mengucapkan“Alhamdulillah”.
Sesuai firman-Nya dalam surat Al-fatihah:

“Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam” (QS.Al-fatihah: 2)

B. IKHLAS DALAM AMAL MUAMALAH

“Dan kami telah turunkan kepadamu AL-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepada, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali, kamu semuanya. Lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.“                   (QS. AL-Maaidah : 48)

Muamalah adalah ibadah sosial yang mencakup aspek aktivitas manusia dalam kehidupan. Ikhlas seorang hamba dalam bermuamalah adalah memurnikan niat dan tujuan aktivitas manusia dengan manusia lain, dalam sebuah masyarakat dan Bangsa, semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT. Dan juga menyerahkan segala urusan kehidupan sesuai aturan-aturan yang telah dikehendakinya, sehingga menghasilkan prilaku masyarakat yang berdasarkan sistem nilai budaya tertentu yang bersumber pada kaidah hukum Allah, sampai terbentuknya masyarakat beragama yang berserah diri atas segala ketentuan Allah SWT.
Risalah Islam adalah risalah yang sesuai fitrah manusia. Ajaran agama yang sesuai dengan alam dan nurani manusia, manusia sendiri terdiri dari jasmani, ruhani, dan akal. Artinya muamalah dalam aktivitas hamba Allah akan memenuhi kebutuhan potensi dasar manusia. Mulai aspek ideologi, ekonomi, pendidikan, sosial, politik hingga seni budaya. Masyarakat Islam akan menumbuh kembangkan kebudayaan, melalui perubahan positif yang membawa kemajuan. Hal tersebut dapat membawa masyarakat. Pada kehidupan yang berkualitas, mencapai kesejahteraan, keadilan, kedamaian dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Masyarakat muslim akan selalu memperjuangkan nilai-nilai yang diperintahkan Allah SWT memperkuat persaudaraan dan persatuan, saling tolong menolong, berlaku adil, dan dapat hidup berdampingan umat lain yang tidak mengadakan peperangan. Masyarakat muslim akan selalu berpegang teguh dan istiqomah pada nilai-nilai yang telah diperintahkan Allah dan Rosulnya, dalam kitab sucinya yang menjadi pedoman beragama seluruh umat islam.

Seperti Sabda Rosullullah SAW :

“ Aku tinggalkan padamu dua perkara, yang merupakan pedoman agar kamu tidak tersesat selama kamu berpegang teguh padanya. Hal itu ialah kitabullah (AL-Qur’an) dan sunnahku (AL-Hadist).“ (HR. Bukhari Muslim)
AL-Qur’an dan Hadist adalah pedoman beramal Hamba Allah yang ikhlas dalam bermuamalah. Muamalah sendiri terbagi menjadi beberapa aktivitas, diantaranya aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan kesenian. Keikhlasan bermuamalah akan tercermin dalam aktivitas kehidupan hamba-hambanya dalam wujud prilaku menjaga persaudaraan, saling tolong menolong, saling memaafkan, saling menyebarkan kasih sayang, berkata-kata yang baik dan lemah lembut, dermawan, adil, dan mengunjung nilai-nilai perdamaian. Ikhlas memiliki peranan penting dalam bermuamalah, karena tanpa keikhlasan, muamalah apapun yang dilakukan seorang hamba tak akan memiliki nilai ibadah di sisi Allah.

Sesuai Sabda Nabi :

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbutan, kecuali amal perbuatan yang diniatkan dengan ikhlas demi meraih Ridha-Nya.“(HR. Nasai)

1.1 Muamalah Ekonomi

Aktivitas seorang hamba Allah dalam muamalah ekonomi adalah usaha seorang hamba mencari karunia Allah di muka bumi. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk untuk memperoleh rezeki, mulai aktivitas pertanian, perikanan, peternakan, perniagaan, jasa, pertambangan dan profesi pengkayaan lainnya. Mulai proses produksi, distribusi,  pemasaran, hingga konsumsi sumber-sumber ekonomi tersebut. Tetapi tujuan muamalah ekonomi hamba Allah yang ikhlas, bukan sekedar mencari keuntungan ekonomi sebesar-sebesarnya dengan modal sekecil-kecilnya, dengan segala cara walaupun harus menipu, berbohong, dan bermain curang. Tujuan muamalah ekonomi hamba Allah yang ikhlas adalah mengusahakan rezeki, untuk mensyukuri nikmat karunia Allah, sebagai sarana beribadah, untuk mencapai kesejahteraan hidup di Dunia dan di Akhirat.

“Siapa yang berpegang teguh kepada Allah SWT, niscaya ia di cukupkan oleh Allah setiap kebutuhannya. Dan diberikannya rezeki dimana tidak disangkakannya. Dan siapa yang berpegang teguh kepada dunia, niscaya ia diserahkan oleh Allah kepada Dunia.“ (HR. Ath-Thabrani)

Walaupun manusia membutuhkan rezeki, tapi bukan berarti hamba Allah harus terbudaki, terexploitasi, hingga meng-Tuhan-kan Duniawi. Rezeki hanyalah sarana hamba Allah untuk beribadah, dan mensyukuri segala nikmat Allah yang ia karuniakan di muka Bumi ini. Apapun yang manusia usahakan untuk memperoleh rezeki, tak mungkin berhasil dengan baik, kecuali Allah mengizinkannya. Karena itu, sudah sepantasnyalah hamba Allah, mengembalikan segala sesuatu yang ia usahakan hanya kepada Allah saja. Karena hamba yang yang istiqomah, dan berserah diri secara utuh kepada Allah. Niscaya dia akan mencukupkan segala kebutuhannya, juga mendatangkan rezekinya dari tempat-tempat yang tidak disangka-sangkanya.
Rosullullah mencontohkan seekor burung, bagi hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam bermuamalah mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Seluruh makhluk di muka bumi ini telah Allah tetapkan rezekiya, dan dia tak mungkin salah membagi-bagikan karunia-Nya. Manusia hanya perlu berikhtiar dengan ikhlas, selebihnya biar Allah yang menentukan.

“ Jikalau kamu berserah diri kepada Allah ta’ala dengan berserah diri yang sebenar-benarnya, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kamu, sebagaimana dai memberikan rezeki kepada burung yang keluar pagi-pagi dengan perut kempis, dan kembali sore dengan perut kenyang. “ (HR. AT-Tirmidzi)

Allah SWT menilai rezeki dari dua sisi. Pertama, cara mendapatkan rezeki. Kedua, kemana akan di belanjakan rezeki tersebut. Dua sisi tersebut harus dijalankan dengan baik sesuai kehendak Allah, apabila salah satu sisinya diperoleh dengan cara yang salah, maka muamalahnya akan sia-sia, dan tidak bernilai ibadah di mata Allah. Muamalah ekonomi hamba yang ikhlas, adalah ikhtiar yang diperoleh dengan cara yang baik, dan digunakan pada hal-hal yang telah dihalalkan oleh Allah. Tapi juga jangan lupa mengeluarkan zakat dan shodaqah, karena dalam rezeki yang Allah karuniakan pada hamba-hambanya, ada hak kaum fakir miskin.
Karena itu, mengeluarkan zakat dan shodaqah adalah untuk mensucikan harta, agar amal muamalah kita bernilai ibadah disisi Allah. Muamalah ekonomi dalam Islam, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keadilan, kedermawanan, dan keikhlasan. Muamalah ekonomi yang diridhoi Allah, dengan tegas menolak keserakahan, kerakusan, ketidakpastian, ketidakadilan, penipuan, pemerasan, penimbunan, monopoli, dan riba.

Seperti firmannya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.“(QS. AL-Baqarah : 278)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.“ (QS. AL-Baqarah : 276)

Riba adalah pembayaran lebih yang di syaratkan oleh orang yang meminjamkan. Allah telah mengharamkan riba (dan menghalalkan jual beli). Hamba Allah yang ikhlas dalam bermuamalah ekonomi, ia akan memusnahkan ekonomi riba, dan lebih meyuburkan sedekah dan zakat. Karena itu, muamalah ekonomi yang di ridhai Allah adalah ikhtiar yang akan membawa keberkahan, keadilan, dan keselamatan hamba Allah di dunia dan di akhirat. Selain cara mendapatkannya, hamba Allah yang ikhlas juga perintahkan tidak membelanjakan hartanya berlebih-lebihan, mubazir, boros, dan bermewah-mewahan. Sebaliknya, tidak juga pelit, kikir, menumpuk hartanya, hingga enggan mengeluarkan zakat dan shodaqah.

1.2 Muamalah Pendidikan

“(1) Bacalah dengan (Menyebut) nama Tuhan Yang Menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (3) Bacalah, dan Tuhan Yang Maha Pemurah (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan Islam (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS.Al ’Alaq : 1 – 5)

Bermuamalah dalam bidang pendidikan yang dilakukan hamba Allah yang ikhlas adalah memurniakan niat dan tujuan dalam proses belajar menuntu ilmu, hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT, sesuai firman Allah dalam surat Al-Alaq, “Hamba Allah yang menuntut ilmu, harus memastikan bahwa ilmu yang dituntut benar-benar memperkuat keimanannya pada Allah, penghambaannya pada Allah, rasa syukurnya pada Allah, dan ketaqwaannya pada “Sang Maha Pencipta Alam Semesta”. Bukan sebaliknya, malah membuat seorang hamba semakin sombong, menafikan keberadaan Tuhan, mengangungkan materialisme, anti agama, anti risalah, menghamba dunia, hingga menolak keberadaan Allah SWT.
Secara bahasa ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala sesuatu yang dapat dipelajari oleh indera manusia seperti penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman dan pengecap. Melalui akal dan proses berfikir, memahami, menganalisis, hingga menyimpulkan sampai menjadi pengetahuan yang d rumuskan secara sistematis yang disebut ilmu pengetahuan.
Sedangkan bagi umat muslim ilmu itu tidak sebatas ilmu pengetahuan saja, sebab mereka memiliki sumber dari segala sumber pengetahuan, yaitu AL-Qur’an dan AS-Sunnah. Hamba yang ikhlas meyakini ilmu Allah itu meliputi segala ilmu tentang alam semesta dan manusia sendiri. Mulai galaksi-galaksi, planet-planet, keseimbangan-keseimbangan di dalamnya, daya tarik-menarik dalam struktur alam, spesies-spesies yang jumlahnya tak terhitung, cara spesies itu hidup, bakat-bakat yang mengagumkan di dalamnya, sebuah tatanan sempurna yang tak mungkin terwujud dengan sendirinya, tetapi pasti memiliki seorang pencipta. Siapa lagi yang Maha Pencipta alam semesta ini selain “ Allah SWT “. Jadi muamalah pendidikan hamba Allah yang ikhlas, akan semakin memperkuat keimanan dan penghambaannya kepada penciptanya (Allah).

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk, dan tidak tidur, kepunyaannya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakinya. Kursi (kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. “ (QS. AL-Baqarah : 255)

1.3 Muamalah Sosial Politik

“(8) Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (9) Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.“ (QS. AL-Maaidah : 8-9)

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.“ (QS. Ali-Imran : 104)

Muamalah sosial politik hamba Allah yang ikhlas adalah memurnikan niat dan tujuan dalam melakukan aktivitas bermasyarakat, berpolitik, berdemokrasi, mengelola kekuasaan, hingga memimpin rakyat, semata-mata hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hamba Allah yang ikhlas akan selalu menegakkan nilai-nilai kebenaran Ilahi, bersikap adil, beramal saleh, menyerukan pada kebaikan, perdamaian, mencegah perbuatan jahat, keji dan merusak.
Karena Islam adalah agama yang diridhoi Allah, dan nilai-nilainya akan membawa umat manusia pada kemaslahatan mereka di Dunia dan di Akhirat. Karena itu nilai-nilai yang di perintahkan Allah yang Ikhlas dalam muamalah sosial politiknya. Jika ia seorang pemimpin rakyat, maka ia harus memimpin dengan jujur, adil, peduli, memperhatikan rakyat miskin, memperkuat persatuan umat, menjalankan amanah rakyat dengan baik, dan tidak menghianati kepercayaan yang telah diberikan.
Kekuasaan politik bagi hamba Allah yang ikhlas adalah amanah Tuhan dan masyarakat yang dipimpinnya, memperoleh kursi jabatan kekuasaan tidak dipergunakan untuk menyombongkan diri, sewenang-wenang, tidak adil, berkhianat, melanggar hukum, menyalahgunakan sarana yang ada karena jabatannya, merugikan kekayaan Negara untuk memperkaya diri sendiri, dan korupsi.
Pemimpin yang ikhlas adalah pemimpin yang bersih dari korupsi. Visioner dan konsisten menghayati dan melaksanakan perintah Allah, penuh kasih sayang dan membela kaum yang termarginalkan, juga mampu menjadi oase penyejuk ditengah padang tandus kegersangan Bangsa. Membangun sebuah Negara menjadi Bangsa yang makmur, sejahtera, adil dan damai. Hingga Bangsa yang diridhoi Allah akan di isi oleh pemimpin-pemimpin yang bertanggungjawab, bijaksana, jujur, bermoral baik, dan amanah.
Dunia muamalah sosial politik zaman sekarang, tidak terlepas dari sistem politik demokrasi, hampir sebagian besar negara-negara di Dunia menggunakan konsep ini. Demokrasi di adopsi dari Negara adidaya non-muslim, dan mulai di jadikan sistem tandingan untuk mematikan sistem politik masyarakat muslim. Sejauh mana AL-Qur’an bicara tentang sistem politik, karena Allah SWT tidak pernah bicara model sistem politik dalam firmannya, tapi yang ia bicarakan dalam firmannya adalah tujuan sistem politik tersebut. Sesuai yang di jelaskan dalam QS. AL-Maidah ayat 8-9, dan QS. Ali-Imran ayat 104, tujuan sistem sosial politik yang diridhoi Allah adalah sistem politik yang arah tujuannya menegakkan hukum-hukum Allah, menegakkan keadilan, menyerukan kebajikan, mengajukan yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran. Sedangkan persoalan kemasyarakatan, dia perintahkan hambanya untuk mengembalikan pada aturan-aturan Allah dan Rosulnya, juga bermusyawarah.

Sesuai firmannya :

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darisekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonlah ampun bagi mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali-Imran : 159)

Allah memerintahkan hamba-hambanya yang ikhlas untuk berlaku lemah lembut, tidak bersikap kasar, dan bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan muamalah sistem politik. Dan apabila telah mencapai kesepakatan bersama dan membulatkan tekad keputusan yang terbaik, Allah memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya. Karena Allah menyukai orang-orang yang berserah diri dengan tulus ikhlas kepada-Nya. Musyawarah adalah sarana yang paling efektif utuk menyelesaikan segala masalah sosial politik, mulai rekrutmen politik, pemilihan pemimpin, pengelolaan kebijakan-kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat, hingga hal-hal yang menyangku ritual keagamaan.
Ikhlas dalam muamalah sosial politik adalah proses penyerahan diri seorang hamba secara utuh hanya untuk mencari keridhoan Allah dalam setiap aktivitas muamalahnya.  Bukan untuk kepentingan pribadi, memuaskan ambisi hawa nafsu, menyombongkan diri dimata Allah, berbuat kerusakan di muka bumi, mendzolimi rakyat kecil dengan kebijakan yang sewenang-wenang, berkhianat pada amanah dengan mengkorupsi uang rakyat hingga penindasan dan kekerasan pemerintah pada rakyatnya. Karena itu hamba Allah yang ikhlas tidak menghamba dan terbudaki oleh kekuasaan, sebab baginya kekuasaan adalah alat, amanah, dan ujian yang harus ia pertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Sesuai firmannya :

“Dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di Bumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya dia Maha Penagampun lagi Maha Penyayang.“ (QS. AL-An’aam : 165)

1.4 Muamalah Berkesenian

Allah SWT mempunyai 99 nama, yang biasa disebut Asma ul husna. Dari nama-nama yang agung tersebut, ada nama-nama yang berhubungan dengan pengkaryaan yaitu AL-Kooliqu (Yang Maha Menciptakan), AL-Barriu (Yang Maha Mengadakan), dan AL-Musowwiru (Yang Maha Membentuk Rupa). Sebelum karya cipta manusia dan aktivitasnya, tak ada bandingnya dengan karya cipta Allah. Dialah Allah Yang Maha Pencipta langit dan bumi dengan segala keindahan dan kesempurnaannya membentuk pegunungan, pepohonan, pantai, lautan, hingga langit yang membentang luas. Dia juga yang mengadakan matahari, bulan, bintang, planet-planet, galaksi-galaksi yang begitu menakjubkan. Dan dia juga yang membentuk sosok manusia yang begitu cantik, tampan, dengan kemampuan dan bakat-bakatnya yang luar biasa.

Sesuai firmannya dalam AL-Qur’an :

“ Dialah Allah yang mencipatakan, yang mengadakan,yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama paling baik.bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Dan dialah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. “             (QS. AL-HASYR : 24)

Muamalah dalam berkesenian adalah memurnikan niat dan tujuan dalam beraktivitas berkarya mulai musik, syair, lukisan, sketsa, tarian, film, dan macam-macam hanya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Berkesenian adalah proses kreatif manusia untuk menciptakan karya-karya yang mempunyai nilai estetika (keindahan) tinggi, yang mampu menghibur dan menglnspirasi umat manusia.
Allah tidak melarang manusia berkesenian, selama karya-karya yang dibuat difokuskan pada karya-karya positif, yang bermakna bagi kehidupan umat manusia. Bukan karya-karya yang liar, membabi buta, rendahan, amoral, porno, merusak, hingga menghina keberadaan Allah dan Rosulnya. Karya-karya yang dibuat hamba Allah yang ikhlas akan selalu membuat penikmatnya tercerahkan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, memperkuat keimanannya, memotivasi berbuat kebaikan dan amal soleh, menambah kecintaannya pada Allah dan Rosulnya, membangun energi positif dan perdamaian untuk kemaslahatan umat manusia. Semua karya seni manusia itu hakikatnya adalah karunia Allah, agar umat manusia semakin bersyukur kepada-Nya, seperti karya seni yang diciptakan para jin untuk Nabi Sulaiman, cerita Allah dalam AL-Qur’an :
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya, dari gedung-gedung yang tinggi, dan patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.“(QS. Saba ’ : 13)

Muamalah berkesenian bisa menjadi media yang efektif, untuk menyebarkan risalah Allah, dan Rosulnya. Menyadarkan dan mencerahkan umat manusia untuk kembali ke jalan Allah, menyadarkan nilai-nilai kebaikan, cinta kasih, dan perdamaian. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mencari ridho, cinta, dan ma’rifatnya Allah SWT.

C. IKHLAS DAN SABAR

“ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranu, tetaplah bersia siaga di perbatasan Negerimu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“ (QS. Ali-Imran : 200)

Sabar adalah berteguh hati, pantang mengeluh, pantang berputus asa, dan tetap mempertahankan keteguhan hatinya, secara terus menerus. Sabar merupakan refleksi keikhlasan seorang hamba karena ia menyadari bahwa Allah ingin menguji, apakah hamba tersebut, tabah menghadapi tantangan, dan ujian yang ditempatkan kepadanya atau tidak.
Hamba Allah yang ikhlas diperintahkan untuk selalu bersabar, dan memperkuat kesabaran dalam kondisi hidup apapun. Baik saat lapang maupun sempit, saat sehat maupun sakit, saat kaya maupun miskin, saat muda maupun tua. Karena sesungguhnya kebaikan kesabaran itu terletak pada kesabaran seorang hamba. Sabar akan menolong seorang hamba dari segala ujian dan cobaan, karena saat hamba Allah mengikhlaskan segala tujuan dan harapannya kepada Allah, lalu ia memperkuat kesabarannya dalam tujuannya tersebut, niscaya Allah akan menurunkan pertolongannya.
Bila seorang hamba ditimpa musibah, hendaklah ia bersabar dan memperkuat kesabarannya. Bersabar dengan kerendahan hati, memohon maaf atas segala kekhilafan, agar ia dapat bersikap ridho dan ikhlas atas takdir yang telah ditetapkan-Nya. Hal tersebut semata-mat agar tindakan hamba tersebut selaras dengan kehendak Allah SWT, dan amal perbuatannya selalu dalam naungan cinta dan keridhoaannya. Mereka itulah hamba-hamba Allah yang ikhlas dan sabar dalam hidupnya.
Kehidupan manusia selalu berada dalam dua kondisi, yaitu kondisi bahagia dan kondis sedih. Dalam dua kondisi tersebut hamba Allah yang ikhlas diperintahkan untuk bersabar. Bersabar saat memperoleh kebahagiaan, dengan bersikap Qonaah untuk tidak menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang sia-sia, berfoya-foya, boros, untuk sekedar menyombongkan diri. Juga bersabar saat bersedih, kecewa, sengsara, di waktu tertimpa musibah. Hamba Allah harus tetap bersabar, karena selama hidupnya ia tidak akan pernah bisa terlepas dari musibah dan kesenangan.
Hamba Allah yang bersabar, dan ikhlas dalam kesabarannya, ia tidak akan pernah sekalipun ia mengeluh, resah gelisah, hingga menghujat Allah. Marah kepada Allah, hingga terlintas kata-kata yang menyalahkan Allah, meragukan kebijaksanaan kehendaknya, juga kehendak-kehendak lain yang telah dia tetapkan bagi hamba-Nya. Apalagi kalau ia sampai berharap, dan bersabar pada Tuhan-Tuhan lain selain Allah (ciptaan Allah), untuk memperoleh jalan keluar. Sungguh, bila bukan karena izin dan pertolongan Allah, apakah ada Tuhan-Tuhan lain selain Dia (Allah) yang dapat mengeluarkan hamba dari kesusahan, kalau Allah telah menghendaki kesusahan untuknya.
Tidak ada satupun di Dunia ini makhluk yang merasa berhak atas apa yang ia miliki dan ia kuasai, karena hakikatnya semua yang manusia miliki adalah milik Allah. Tak ada satupun makhluk yang mampu memberikan keburukan atau kebaikan kecuali Allah. Tak ada yang menyebabkan hamba sakit maupun sehat, kecuali Allah. Karena itu, jangan sekali-kali terjerat oleh ciptaan-Nya. Jika musibah menghampiri hamba yang ikhlas, maka hendaklah ia meminta tolong kepada Allah dengan rendah hati, jangan lupa memohon ampun atas kesalahan yang membuat ia jauh dari kebenaran. Kemudian berserah diri secara utuh, dan terus menerus tawakal hingga musibah yang menimpa-Nya sirna.
Sebagaimana kesabaran yang dicontohkan Nabi Ayub AS, dalam menghadapi ujiannya, walaupun dirinya dihinakan, dirinya tidak bosan-bosan bersabar, berdosa, taat, dan sama sekali tidak mengeluh atas musibahnya, hingga Allah melenyapkan musibahnya itu.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongMu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.“(QS. AL-Baqarah : 153)

Cukup sabar dan shalat menjadi penolong hamba-hamba Allah yang ikhlas. Dan Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar, karena itu berlomba-lombalah dalam kesabaran, karena kesabaran akan membawa kebaikan dan keselamatan bagi hamba-hambanya yang ikhlas.

Sesuai Sabda Rosullullah SAW :

“ Kesabaran dan keimanan serupa dengan kepala dan tubuh. “  (Hadist)

Kesabaran tidak akan bisa dipisahkan dari hamba Allah yang ikhlas, ibarat kepala dengan badannya, keduanya adalah satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan, hakikatnya, kesabaran adalah sumber segala kebijakan dan keselamatan di Dunia dan di Akhirat, dengan kesabaran seorang hambaakan mencapai kepasrahan dan keikhlasan pada kehendak Allah. Kalau Allah telah menjadi penolong seorang hamba, siapa yang sanggup menimpakan kemudharatan pada dirinya.
Dalam kehidupan ini setiap muslim tidak akan terlepas dari ujian, cobaan dan bencana. Karena itu, ketika seorang hamba di uji hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah atas musibahnya, jika demikian, tentu Allah tidaka akan menyia-nyiakan sesuatupun untuknya, bahkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Dalam Hadist, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Ummu Salamah RA, Ia berkata:

“Aku mendengar Rosullullah berkata,“Tidaklah seaorang muslim yang tertimpa suatu musibah, lalu ia menyatakan apa yang diperintahkan Allah. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini, dan gantikanlah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik”. Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah meningggal dunia, aku berkata “ Siapakah orang islam yang lebih baik dari Abu Salamah, (Penghuni) rumah yang pertama kali hijrah kepada Rosulullah SAW?”. Lalu aku mengucapkan perkataan diatas, kemudian Allah menggatikan untuk ku Rosulullah SAW sebagai “Suami.“ (HR. Muslim)

Kisah diatas memberi pelajaran bagi hamba Allah yang ikhlas. Sesungguhnya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya. Siapa yang meninggalkan dari menampar diri sendiri, mengoyak-ngoyak pakaian, dan berteriak-teriak meratapi penderitaan dan kesengsaraan. Kemudian ia memohon pahala disisi Allah, niscaya Allah akan menggantikannya, dan sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberian pertolongan.
Manusia harus berdo’a dan memohon pertolongan saat tertimpa musibah, tetapi saat Allah menghilangkan bahaya itu, jangan lupa pada pertolongan-Nya. Apa lagi kalau manusia tersebut kembali pada kesesatannya yang semula.

Sesuai firman-Nya :

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada kami dalam keadaan berdiri, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.“(QS. Yunus : 10)

Jangan menjadi hamba-hamba Allah yang tidak konsisten berpegang teguh pada jalan Allah. Saat ia diberi kesusahan bantulah ia kembali shalat, zakatnya dikeluarkan, rajin bershodaqah, puasanya tidak pernah terlewat. Tetapi saat kesenangan menghampirinya, shalatnya mulai ia lupakan dengan alasan sibuk, shodaqahnya ia hentikan dengan alasan tidak mendidik, puasanya pun  selalu terlewatkan dengan alasan butuh stamina agar tetap fit dalam mengejar keuntungan materi. Dimana Allah saat hamba tersebut dilapangkan rezekinya oleh Allah, padahal bukannya Allah yang menganugerahinya rezeki, tapi mengapa hamba tersebut semakin menjauh dari Allah. Lalu mulai menyombogkan diri dihadapan manusia dan Allah, dan menganggap rezeki yang berhasil yang mereka dapatkan itu disebabkan oleh kepintaran dan kerja kerasnya saja. Seolah-olah Allah sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dari rezeki yang ia dapatkan, sesungguhnya Allah menguji hamba-hambanya yang dilpangkan rezekinya dan akibat buruklah bagi usaha-usaha hamba tersebut.

Sesuai firmannya :

“(49) Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru kami, kenudian apabila kamu memberikan kepadanya nikmat dari kami ia berkata. “ Sesungguhnya aku diberikan nikmat itu, hanyalah kepintaranku “. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (50) Sungguh orang-orang yang belum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tidaklah berguna bagi mereka apa yang dahulu meeka usahakan (51) Maka mereka ditimpa olerh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang dzalim diantara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.“ (QS. AZ-Zumar : 49-51)

Allah melapangkan rezeki hambanya yang ia kehendaki, dan ia menyempitkan rezeki hambanya yang ia kehendaki. Disinilah letak dimana hamba Allah yang ikhlas harus bersabar, karena kondisi lapang dan sempit itu akan selalu datang silih berganti dalam kehidupan setiap hamba Allah. Dan seorang hamba tidak akan bisa keluar dari dua kondisi tersebut, karen hal tersebut adalah bagian dari sunnahtullah dan fitrah kehidupan manusia.

Sabar adalah kunci menyelesaikan persoalan tersebut, sesuai firman-Nya :

“Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.“ (QS. AZ-Zumar : 52)

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketepatan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.“ (QS. Ath-Thuur : 48)

Hidup adalah perjuangan, dalam melangkah kadang kita harus terhempas gelombang kehidupan, tertiup angin kencang cobaan dan musibah. Didalamnya ada kesedihan dan kebahagiaan, keindahan duniawi hanyalah fatamorgana, yang akan menjebak manusia pada perbuatan dan kerakusan nafsu. Segala halusinasi dunia hanya akan membawa manusia dalam kesunyian dan kehampaan, tidak berguna dan sia-sia bila perbuatannya, bila tidak ditujukan untuk mencari keridhoaan Allah.
Segala langkah hidup manusia telah ada dalam rencana-Nya, semua akivitas kehidupan manusia ini sesungguhnya telah berjalan dalam kehendaknya, nafas hidup, cinta, rezeki, jabatan, karir, jodoh dan segala-Nya. Karena itu, hamba Allah yang ikhlas akan menjalani takdir hidup yang dikehendakinya dengan penyerahan diri, dan kepasrahan total kepad Allah SWT.
Tak pernah mengeluh, menuntut, dan menghujat Tuhan. Ikhlas dan sabar dalam menjalani segala bentuk cobaan hidup, bila ada ujian hidup yang membuat luka maka tersenyumlah, dan serahkanlah pada Allah. Bila ada rezeki yang membuat dirinya bahagia maka bersabarlah, karena itu adalah ujian bagi hamba untuk dermawan, berzakat, shodaqah, menahan diri untuk boros dan berfoya-foya, supaya Allah melipat gandakan nikmat dan karunia bagi-Nya.
Bersabarlah, karena kesabaran akan meneguhkan dan menguatkan hati seorang hamba. Sebaliknya ketidaksabaran akan melemahkan, membuat kekecewaan, dan putus asa.

Sesuai firman-Nya :

“Dan taatlah kepada Allah dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantah, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah besrta orang-orang yang sabar.“ (QS. AL-Anfaal : 46)

Kesabaran adalah kunci kekuatan hamba Allah yang ikhlas, agar pertolongan dan karunia Allah datang, menyelesaikan segala persoalan hidup seorang hamba.

Rosullullah SAW bersabda :

“Puasa adalah separuh kesabaran, dan sabar itu separuh iman.“ (HR. Baihaqi)

Sabar itu separuh dari keimanan, dan puasa adalah salah satu sarana untuk melatih kesabaran. Himpitan hidup dan kesukaran harusnya bisa menjadi sebuah hal yang positif, yaitu sebagai sarana melatih diri seorang hamba untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Sebab kondisi hina, kemiskinan, rendah, keterbatasan, kebutuhan adalah sifat-sifat asli manusia yang penuh ketidakberdayaan, dan membutuhkan penghambaan serta pengharapan.
Sebab hakikatnya, Yang Maha Kaya itu Allah, bukan hamba. Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Maha Sejahtera, Maha Memelihara, Maha Kuasa, Maha Kuat, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Agung, Maha Mengadakan, Maha Membentuk Rupa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Mulia, yang pertama dan yang terakhir, Allah adalah Maha Segala-galanya. Dan hamba Allah yang sabar dan ikhlas, hidup dalam karunia, rahmat, pertolongan, cinta dan keridhoan “Allah“SWT.
Pengakuan ketidakberdayaan seorang hamba adalah pengharapan agar ia di bantu Allah dengan kekuasaan-Nya. Pengakuan kelemahan seorang hamba adalah bentuk penyerahan diri hamba tersebutu agar Allah membantunya dengan kekuatan-Nya. Pengakuan kefakiran seorang hamba adalah bentuk do’a hamba tersebut agar Allah membantunya dengan kekayaan-Nya. Hanya kepada Allah-lah hamba tersebut menyembah, dan hanya kepada-Nya pula dia memohon pertolongan dan keselamatan.
Seperti ucapan yang disampaikan Syekh Ibn ATHA’ILLAH :

“Sadarilah sifat-sifatmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kemulian-Nya. Akuilah ketidakberdayaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuatan-Nya.“

Pengakuan kerendahan, keterbatasan, kebutuhan, dan penghambaan manusia yang ikhlas dan sabar akan terpantul ke dalam cermin sempurna dari kekuasaan dan cahaya Allah yang tak terbatas. Hingga pantulannya akan terpancar dalam diri hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam kesabaran, sehingga hidup hamba tersebut akan selalu dipenuhi energi positif yang akan membawanya pada keberuntungan, kebahagiaan, ketenangan, kedamaian dan kepasrahan hidup. Dan Allah pasti akan membalas baginya dengan pahala yang lebih baik, sesuai firman-Nya :

“Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar, dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. An-Nahl : 96)

D. IKHLAS DAN SYUKUR

“(32.) Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (33.) Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (34.) Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 32-34)

Syukur adalah upaya mengingat seorang hamba, atas segala nikmat dan karunia yang di berikan Allah kepada diirinya. Begitu banyak nikmat dan karunia yang di berikan Allah kepada manuisa mulai dari udara yang ia hirup, makanan yang ia makan, suara yang ia dengar, pandangan Alam Dunia dengan segala warna dan bentuk-bentuk yang ia lihat, hingga sentuhan menyejukkan, dan membahagiakan yang ia rasakan melalui interaksinya dengan sesama manusia, hewan-hewan, dan Alam Raya ini. Semua nikmat Allah itu tak dapat tergantikan, bahkan tak sedikit pujian yang harus seorang hamba panjat kapada sang Penciptanya, kalau sedikit saja mau merenungkan .
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

Rasa syukur hamba Allah yang ikhlas adalah pemurnian niat dan tujuan hamba tersebut atas segala nikmat dan karunia Allah yang di anugrahkan kepadanya. Agar Dia selalu di ingat dan di puji, sebagai bentuk terima kasih seorang hamba, yang di implementasikan dalam bentuk ketaatan dan ketaqwaan pada Allah SWT. Seandainya manusia, menghitung-hitung nikmat Allah yang di berikan kepadanya, sungguh tak akan terhitung jumlahnya. Sungguh terlalu banyak nikmat dan karunia yang Allah berikan pada seorang hamba, tetapi ia tidak menyadarinya. Terlalu banyak nikmat Allah yang diberikan pada hambanya, bahkan terkadang hal tersebut membuat ia lalai, menjauh dari Allah, sombong, bahkan terlalu cintai dan tergila-gila pada ciptan-ciptaan Allah ( Harta Benda, Wanita dan Kekuasaan).
Jika Allah telah menghendaki nikmat dan karunianya pada seorang hamba, jangan karunia tersebut membuat ia memalingkan diri dari Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Manusia yang tidak bersyukur, cenderung melupakan Allah jika ia di limpahi harta. Kenikmatan dan harta yang ia peroleh melalui usahanya, membuat manusia berpaling dari kepatuhan, dan ketaatannya kepada Allah. Hamba-hamba Allah yang sombong dan kufur, sesungguhnya mereka telah mengingkari nikmat Allah. Manusia tersebut adalah hamba-hamba yang dzalim, dan adzab Allah sangat pedih hamba-hamba tersebut!.
Akan tetapi hamba Allah yang ikhlas dan bersyukur, dirinya senantiasa patuh dan tunduk atas segala perintah Allah. Ia sama sekali tidak terpesona dan terbudaki oleh kekayaan yang Allah karuniakan kepadanya. Kesungguhan syukurnya itu, akan menambahkan karunia dan nikmat Allah kepada hamba tersebut, dan sedikitpun Allah tidak mengurangi nikmatnya.
Ia jadikan harta bendanya yang di karuniakan kepadanya sebagai alat untuk mencapi keridhoan Allah, sebab ia adalah Hamba Allah. Dan kekayaannya adalah Hamba Manusia. Bukan sebaliknya, harta benda malah di jadikan Tuhannya manusia. Nikmat dan karunia Allah, adalah bukti kasih sayang Allah bagi hamba-hambanya di Dunia. Dan sebagai Hamba Allah, sudah sepantasnya lah ia membalas dengan rasa syukur yang tak terhingga. Adakah pencipta lain selain Allah yang punya kekuatan memberikan rezeki pada manusia. “???”

Seperti keterangan firman-Nya:

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?.” (QS. Faathir : 3)

Hamba Allah yang ikhlas tidak akan terjebak oleh pentuhanan kepada ciptaan-ciptaan Allah. Karena segala sesuatu selain Allah itu tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat,  keuntungan atau kerugian, kebaikan atau kejahatan, memuliakan atau menghinakan, meninggikan atau merendahkan, mengkayakan atau memiskinkan, menggerakan atau mendiamkan. Karena segala sesuatu selain Allah yang di anggap Tuhan, sesungguhnya hanyalah ciptaan-ciptaan Allah, dan berada di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya Allah.
Segala sesuatu di Bumi ini tidak abadi dan akan punah, segala nya telah di tentukan oleh Allah. Apa yang telah di dahulukan, tidak dapat di akhirkan. Jika Allah hendak menimpakan bahaya kepada seorang hamba, maka tidak ada yang dapat mengelak bahaya tersebut selain Allah. Bagitupun sebaliknya bila Allah menghendaki karunia rezeki kepada seorang hamba, maka tiodak ada yang dapat menghalangi karunia rezeki tersebut datang kepadanya, selain Allah.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Jika hamba Allah ingin nikmat dan karunianya di tambahkan oleh Allah, maka bersyukurlah sebab dengan bersyukur, rezeki seorang hamba akan di tambahkan sesuai janjinya dalam QS. Ibrahim ayat 7. dan bagi hamba Allah yang mengingkari nikmat-nikmat Allah, sesungguhnya Allah Maha kaya dan Kekuasaannya meliputi segala sesuatu. Allah akan mencabut nikmat dan karunia bagi hamba-hamba yang kufur nikmat, dan tak ada kebahagiaan hidup bagi hamba tersebut. Apabila ia tidak bertobat, sesungguhnya azab Allah amat sangat pedih.
Di Zaman Nabi Musa AS, ada kisah menarik seputar persoalan syukur diantara umatnya yang Kaya dan yang Miskin. Mabi Musa AS memiliki umat yang jumlahnya sangat banyak, dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping, dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS,
“Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT doa ku ini, agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya?.”
Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu,”Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”
Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!”.
Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang di inginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya.
Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini, agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.”
Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”
Mendengar jawaban Nabiulllah, si Kaya pun menjawab.
“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja, dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya,” jawab si Kaya itu.
Akhirnya si Kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT, akibatnya penderitaannya semakin berat.
Kisah tadi menjelaskan secara gamblang, bahwa Allah menganugrahi nikmat dan karunianya yang berlipat ganda pada hamba-hambanya yang bersyukur. Sedangkan bagi hamba-hamaba Allah yang meragukan, bahkan mengingkari nikmatnya, maka Allah akan cabut nikmat yang ia berikan pada hamba tersebut, dan ia timpakan penderitaan hamba tersebut, lebih berat dari penderitaan yang biasa ia terima.
Karena itu, janganlah seorang hamba Allah muram, mengeluh, kecewa, tidak puas, tak terima, hingga menghujat, mengkritisi, dan menyalahkan Allah. Karena dirinya tidak puas dam kecewa atas anugrah nikmat, karunia kesenangan, dan kemewahan yang ia terima. Dan hamba tersebut bersikap seperti itu, lantaran ia menginginkan suatu yang lebih banyak dari rezeki yang telah ia dapatkan. Hamba tersebut secara langsung telah menutup mata atas limpahan nikmat yang di berikan Allah kepadanya, Allah dengan tidak sopan menuduh bahwa Allah SWT bersikap tidak adil padanya.
Sungguh, sikap hamba tersebut tidak akan membuat Allah melimpahkan kekayaan padanya. Justru Allah akan murka dengan sikap hambanya tersebut, danakan memutuskan nikmat juga keberkahan rezeki darinya. Walaupun ia hidup di gedung-gedung mewah, dengan istri-istri yang cantik, anak-anak yang manis rupawan, hingga nikmatnya makanan yang lezat, tapi itu semua bisa jadi bencana untuk hamba tersebut bila ia kufur nikmat.
Harta, istri, anak hingga makanan yang lezat tidak akan membawa kenikmatan dan keberkahan dalam hidupnya. Justru semua itu malah membawa kesengsaraannya dan penderitaan baginya, hingga ia hidup di dalam dielema kebahagiaan, dan itu membauat hidupnya semakin sulit, dan mengalami penderitaan hidup yang lebih berat dari kondisi saat ia belum mengeluh, kecewa, hingga menghujat segala nikmat Allah yang di berikan pada dirinya sebelumnya.
Bagi hamba Allah yang ikhlas, walaupun hidupnya dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, lalu hatinya merasa iri ketika melihat keadaan hidup orang lain lebih baik. Perasaan kecewa itu hendaknya jangan membuat hamba tersebut mengeluh, dan menghujat takdir, walaupun kekecewaan hatinya seperti di sayat-sayat pisau. Harusnya dengan keikhlasannya, ia bisa memelihara hatinya untuk tetap bersyukur dan memperkuat rasa syukurnya, dengan keridhoan dan ketaatannya kepada Allah. Karena hal tersebut adalah ujian bagi hamba Allah yang bersyukur, agar rasa syukurnya teruji, hingga ia mencapai titik kemurnian yang tulus dalam syukurnya, semata-mata bersyukur untuk mencari keridhoan Allah saja, tanpa pamrih.
Jadi, banyak sekali bencana dan musibah dalam kehidupan manusia, sesungguhya bukan berasal dari murkanya Allah. Tapi di sebabkan hati dan tindakan yang salah seorang hamba, di saat Allah menguji dirinya. Karena, sikap, dan tindakan yang salah dalam menghadapi ujian, justru malah membawa dirinya pada kesulitan hidup yang lebih berat lagi bagi manusia tersebut, dan hal itu menyebabkan musibah dan bencana dalam hidupnya semakin banyak, dan bertubi-tubi menimpa manusia-manusia yang ingkar.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)

Segala kenikmatan hidup di Dunia ini berasal dari Allah, Dialah satu-satunya yang berhak memberi kenikmatan pada hamba, sekaligus mencabutnya kembali apabila di kehendaki. Dan apabila seorang hamba di cabut nikmat-nikmatnya oleh Allah, maka hanya Allah pula lah yang dapat meng anugrahkan  kembali nikmat-nikmat tersebut. Dan hanya kepada Allah sajalah hamba tersebut minta pertolongan, agar nikmat-nikmatnya kembali ia anugrahkan kepada hamba-hambanya. Karena  hanya Allah lah yang Maha Pengasih, Maha Penyeyang, Maha Adil, Maha Tau, Maha Bijaksana, Maha Kaya, dan Maha Segala-galanya. Lantas kenapa seorang hamba tersebut harus mengeluh, kecewa, tak puas hati, hingga menghujat kepada-Nya.

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman : 20)

Hamba Allah yang ikhlas, akan senantiasa bersyukur di setiap keadaan. Baik saat senang maupun sedih, saat lapang muapun sempit, saat kaya mauapun miskin. Sebab dalam kondisi apapun yang di kehendaki Allah pada seorang hamba, di sana pasti terdapat kasih sayang-Nya yang tak terhingga.

Sesuai Sabda Rosullullah:

“Kasih Allah terhadap hamba-hambanya, melebihi kasih Ibu kepada anaknya.” (Hadist)

Syukur adalah sarana sorang hamba untuk memelihara dan mengikat karunia-Nya. Hati yang bersyukur akan memperkuat dan memantapkan kebaiakan yang telah ada, dan akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Ibnu Athaillah menjelaskan hakikat bersyukur dalam Al-Hikam:

“Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya (karunia). Dan siapa mensyukurinya, berarti telah secara kuat mengikatnya (karunia).”

Hamba Allah yang tidak bersyukur atas segala karunia yang di berikannya padanya, berarti ia tengah mengharapkan karunia Allah tersebut di cabut darinya. Sebaliknya hamba  Allah yang bersyukur, artinya ia telah mengikat kuat karunianya, dan Allah akan menambahkan nikmat tersebut lebih banyak lagi. Sungguh beruntung, karunia yang Allah berikan pada hamba-hamabanya yang bersyukur. Nikmatnya tak akan pernah terputus, hingga Allah tak henti-hentinya menganugrahkan rahmat kepadanya!!!.
Bersyukur terhadap keadaan apapun yang di berikan Allah, adalah cara yang tepat agar hamba Allah senanatiasa hidup di dalam rahmat Allah. Ada sebuah kisah menarik yang mengajarkan hamba Allah untuk senantiasa hidup di dalam rahmat Allah. Ada sebuah kisah menarik yang mengajarkan syukur seorang kerbau, kelelawar dan cacing dalam mengsikapi penciptaan mereka.
Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai.
Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “Hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau?”.
Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”.
Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar. Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa.
Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, “Hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar?”.
“Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”, jawab si kelelawar.
Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing?”.
Si cacing menjawab,”Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya”.
Kisah di atas memberikan hikmah. Pertama, kondisi apapun yang di kehemdaki Allah pada setiap hamba, senantiasa harus di terima dengan rasa syukur dan ikhlas. Puapaya Allah SWT menembahkan lebih banyak lagi nikmat dan karunianya. Kedua, bahkan cacing pun bersyukur dengan keberadaannya yang tinggal di tanah dan berjalan dengan perut. Dari pada ia harus hidup sebagai manusia yang tidak beriman dan beramal soleh. Sering berbuat dzalim, sombong, serta merusak. Karena hamba tersebut setelah mati, Allah akan menyiksanya selama-lamanya. Karena itu, beruntunglah bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan bersyukur.

E. URGENSI IKHLAS DALAM QODO DAN QODAR

“(20.) Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(21.) Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. AL-Hijr : 20-21)

Qodha dan Qodar adalah dua hal yang saling bertautan dalam takdir kehidupan hmba Allah. Qadha secara bahasa berarti ketetapan Allah sejak zaman azali, dengan iradah-Nya tentang segala sesusatu yang berkenaan dengan makhluknya.

Sesuai Sabda Rosulluallah:

“Sesungguhnya seorang  manusia itu di ciptakan dalam perut Ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah (mani), 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menajadi segumpal daging. Kamudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kaedalamnya. Dan menuliskan empat ketantuan, yaitu rezekinya, ajalnya amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.“ (HR. Bukhari-Muslim)

Sedangkan Qadar menurut bahasa berarti, kepastian, peraturan, dan ukuran. Menurut istilah aqidah Qadar adalah perwujudan ketetapan (qadha) Allah terhadap semua makhlusk dalam kadar dan bentuk tertentu sesuai iradah-Nya.

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. AL-Furqan : 2)

Qadar adalah perwujudan dari Qadha, sebab qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah sejak zaman azali. Qadar adalah pelaksanaan dari ketetapan Allah, jadi hubungan antara Qadha dan Qadar ibarat hubungan anatara rencana dan pelaksanaan. Dari rencana tersebut, Qadha dan Qadarnya Allah merupakan iradah (kehendak) Allah, oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan dirinya, hendaklah ia bersyukur karena itu merupakan nikmat yang di berikan Allah kepada dirinya.
Sebaliknya apabila takdir seorang hamba tidak menyenang dan selalu di uji, maka hendaklah ia menerimanya dengan kesabaran. Sebab di balik ujian mungkin saja ada hikmah yang baik, hanya mungkin hamba tersebut belum menyadarinya. Sesungguhnya Allah, Maha Mengetahui atas apa yang di kehendaki-Nya.
Artinya, ketika seorang hamba memaksimalkan ikhtiarnya dalam beribadah dan bermuamalah. Tapi ikhtiarnya belum membuahkan hasil yang di harapkan, maka hamba Allah yang ikhlas harus menyerahkan diri secara utuh atas segala ketetapan Allah atas hasil akhir dari ikhtiarnya. Di sinilah letak keikhlasan seorang hamba dalam beriman pada qadha dan qodarnya Allah. Jika seorang hamba Allah ingin mencapai takdir yang baik, maka ia harus berikhtiar ke arah kebaikan tersebut, sama halnya apabila seorang hamba ingin memperoleh karunia Allah di muka Bumi.

Sesuai keterangan firmannya:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. AR-RA’D : 11)

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. AL-Jumuah :10)

Nasib sebuah kaum tidak akan Allah rubah, kecuali kaum tersebut merubah diri mereka sendiri. Karena itu, hamba Allah harus berikhtiar sekuat tenaga, agar Allah menetapkannya dalam takdir yang baik. Dan dia memerintahkan untuk banyak-banyak mengingat Allah, agar hamba tersebut mendapat keuntungan.
Karena itu,  seorang hamba sebaiknya tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan, melebihi dari apa yang di tetapkan Allah kepada dirinya. Terimalah ketetapan Allah dengan tenang, ridha, dan ikhlas. Sebab bila sesuatu hal telah di tentukan oleh Allah pada seorang hamba. Maka sesuatu itu akan datang padanya, walaupun hamba tersebut tidak suka. Oleh karena itu seorang hamba, tak perlu rakus pada hal-hal yang di miliki orang lain. Sebab apabila sesuatu hal telah di takdirkan kepada orang laian, hamba tersebut tak perlu bersusah payah untuk meraihnya, karena itu bukan untuknya, sekalipun ia suka.
Terkadang, hamba terjebak dalam kesibukan mengejar takdir yang telah di jamin, di bandingkan memperjuangkan takdir yang di perintahkan oleh Allah. Karena keimanan dan amal soleh seorang hamba lah, yang akan menyelamatkannya di Dunia dan Di akhirat. Ibnu Athaillah mengungkapkan seputar hal ini dalam Al-Hikam:

“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah di jamin untukmu, dan kelalaianmu melaksanakan apa yang di tuntut darimu, adalah bukti dari rabunnya mata bathinmu.”

Rezeki, ajal, dan jalan hidup manusia adalah sesuatu yang telah di jamin oleh Allah SWT. Sedangkan beriman dan beramal soleh, adalah tuntutan hidup hamba Allah selama ia menjalani kehidupan di Dunia. Kenapa kebanyakan manusia lebih sibuk mengejar sesuatu yang telah di jamin Allah “???”.

Sejalan dengan Firmannya :

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (QS. Yunus : 49)

About gatotaryo17

Saya Penulis novel Mimpi Bulan & The Jilbab Code?!, Aktif menjadi Moderator Komunitas Coretan, sarang para penulis muda. Juga Bekerja Sebagai Desain Grafish di Perusahaan Property Lihat semua pos milik gatotaryo17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: